PARENTING
Benarkah Video Games Ubah Cara Anak Laki-laki Bertumbuh? Begini Penjelasannya
Kinan | HaiBunda
Jumat, 16 Jan 2026 19:15 WIBBermain video game menjadi salah satu aktivitas favorit anak-anak, terutama anak laki-laki. Meski tampak menyenangkan, orang tua tetap perlu memberikan pengawasan terkait hal ini. Mengapa?
Sudah semakin banyak jenis permainan yang ada, sebagian mungkin sebenarnya ditujukan untuk orang dewasa. Biasanya permainan ini mengandung unsur kekerasan atau rentan mengganggu kesehatan mental.
Selain itu, jadwal bermain game pun perlu tetap diatur supaya tidak berlebihan dan mengganggu rutinitas harian lainnya, Bunda.
Tak sedikit pula orang tua yang khawatir kebiasaan bermain game bisa menimbulkan masalah perilaku. Oleh sebab itu, ada batasan yang perlu diperhatikan dalam menyikapi kebiasaan bermain video game pada anak laki-laki.
Pendapat tentang pengaruh video game terhadap anak laki-laki
American Academy of Pediatrics (AAP) menyarankan agar video game dibatasi untuk anak-anak yang lebih kecil, sekitar usia 7 tahun.
Royal College of Paediatrics and Child Health juga menyarankan pembatasan screen time yang ketat dan konsisten bagi anak usia 6 tahun ke atas.
Lalu apa saja pendapat tentang pengaruh video game terhadap perkembangan karakter anak laki-laki menurut para ahli?
1. 'Video game melatih anak laki-laki bersosialisasi'
Studi dari Pew Research Center menunjukkan bahwa video game dapat menjadi jalur bagi anak laki-laki membangun pertemanan.
Psikiater anak dan remaja, Zishan Khan, MD, mengatakan ada banyak alasan baik bagi anak laki-laki untuk bermain video game.
"Video game bisa menjadi tempat untuk berkompetisi, sekaligus bereksperimen dengan identitas. Game multiplayer dan kooperatif juga dapat memperkuat persahabatan, terutama bagi anak-anak yang kesulitan bersosialisasi secara langsung, karena memberikan aktivitas bersama dan cara berinteraksi yang bertekanan rendah," jelasnya, seperti dikutip dari Parents.
Namun, itu bukan satu-satunya dampak positif video game dalam kehidupan anak laki-laki. Penelitian menunjukkan bahwa video game dengan permainan membangun sesuatu, seperti Minecraft, dapat mempertajam kreativitas dan keterampilan pemecahan masalah.
"Permainan tertentu dapat membantu meningkatkan keterampilan visual-spasial dan pemecahan masalah. Beberapa studi mengaitkan kebiasaan bermain game secara rutin dengan performa yang lebih baik pada tugas kognitif tertentu," imbuh Khan.
2. 'Aturan adalah kunci penting'
Menurut seorang perancang video game, American McGee, moderasi dan jadwal screen time perlu disesuaikan dengan waktu belajar lainnya.
Sebagai contoh, ia menerapkan aturan di rumahnya yaitu '20 menit membaca buku berarti 30 menit bermain game'.
Pakar pengasuhan anak, Alanna Gallo, MEd, juga sepakat bahwa moderasi benar-benar sangat penting.
Ia juga menerapkan aturan untuk anak laki-lakinya tentang bermain video game. Sang anak tidak diizinkan bermain video game sampai ia berusia 8 tahun.
"Ketika memperkenalkan video game, saya membatasi waktunya menjadi 30–45 menit sebanyak 2–3 kali per minggu. Ini merupakan hasil kesepakatan bersama dengannya juga," kata Gallo.
Tidak hanya memprioritaskan moderasi dan aturan, McGee juga selalu berada di ruangan yang sama saat putranya bermain.
"Orang tua seharusnya terlibat dalam pemilihan dan permainan game tersebut. Saya merasa bermain permainan multiplayer sambil berada di ruangan yang sama dengan anak saya, tertawa dan mengobrol bersama, dapat bersifat edukatif baginya dan menyenangkan bagi kami berdua," tutur McGee.
3. 'Game tertentu memiliki sifat adiktif'
Khan mengimbangi pujiannya terhadap beberapa aspek video game dengan catatan, bahwa menurut beberapa studi permainan tertentu juga dapat membuat anak sampai 'kecanduan'.
Tak sedikit video game yang menuntut terlalu banyak bagian otak untuk bekerja keras. Padahal otak anak masih sedang berkembang, termasuk untuk membedakan antara apa yang terasa menyenangkan dan apa yang sebenarnya baik.
Ada juga game yang mengandalkan fitur berbayar, sehingga mungkin berpotensi menumbuhkan hubungan yang tidak sehat terkait keuangan di rumah.
Anak mungkin merengek pada orang tua untuk membeli hadiah dalam permainan atau membeli aplikasi.
"Sering kali bermain game juga bisa berdampak negatif pada perilaku pengaturan emosi, fokus, dan kontrol impuls," jelas Gallo.
Apakah video game bisa menyebabkan perilaku kekerasan?
|
|
Menurut AAP, penggunaan video game dengan unsur kekerasan harus sangat dibatasi. Jika anak laki-laki terlanjur memainkan video game yang demikian, maka orang tua harus siap mendiskusikan apa yang mereka lakukan di dunia game tersebut.
Beberapa studi menunjukkan bahwa perilaku kekerasan saat bermain game rentan meningkat dan menjadi faktor yang 'menular' ketika anak bermain bersama teman-temannya.
Dengan kata lain, jika seorang anak remaja melihat temannya bersikap agresif saat bermain, ia mungkin juga akan menjadi lebih agresif.
Meski demikian, banyak studi menunjukkan bahwa video game kekerasan tidak memiliki dampak buruk jangka panjang pada anak laki-laki. Intinya semua tentang keterlibatan orang tua dalam mendampingi anak saat bermain.
Khan menyarankan agar orang tua memikirkan kategori video game untuk menentukan apakah permainan tersebut aman bagi anak laki-laki mereka. Usia juga harus dipertimbangkan.
Ingat, AAP menyatakan bahwa anak-anak yang lebih kecil sebaiknya fokus pada permainan fisik. Namun, di atas usia 10 tahun hingga 17 tahun, anak-anak dapat diberi kesempatan bermain video game dengan tetap bertanggung jawab.
Tips mendampingi anak bermain video game
Apa saja cara yang dapat dilakukan orang tua untuk melindungi anak laki-laki mereka dari potensi bahaya video game? Berikut beberapa saran yang bisa diterapkan:
1. Atur keseimbangan waktu, bukan dengan hukuman
Orang tua memegang kendali untuk menyeimbangkan kegiatan anak di rumah. Termasuk mendiskusikan tentang jadwal tidur, sekolah, melakukan pekerjaan rumah, dan aktivitas lain agar kegiatan bermain video game tidak berlebihan.
2. Hubungkan pilihan game dengan nilai keluarga
Sesuaikan pemilihan game yang ada dengan nilai-nilai yang dianut oleh keluarga. Misalnya, pilih jenis permainan yang mengutamakan kerja sama tim, pemecahan masalah, sportivitas yang baik, dan keterampilan positif lainnya.
3. Berikan contoh kebiasaan digital yang sehat
Penggunaan ponsel dan media oleh orang tua sendiri memberi sinyal kepada anak tentang apa yang wajar dan tidak. Jadi perhatikan waktu bermain gadget Bunda sendiri, terutama di depan anak-anak.
Cobalah untuk menjauh dari ponsel juga, termasuk saat sedang menghabiskan waktu berkualitas dengan anak.
Jika sikap orang tua terhadap kedisiplinan screen time termasuk 'sehat', kemungkinan besar anak-anak juga akan demikian.
Itulah tentang video game dan pembentukan karakter pada anak laki-laki. Jika Bunda melihat anak mulai menunjukkan perilaku negatif, termasuk berbohong tentang waktu bermain, kehilangan waktu tidur, atau mengalami masalah emosi, maka ini tanda sudah waktunya untuk mengambil tindakan.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(fir/fir)Simak video di bawah ini, Bun:
Jelang Isra Miraj, Ini 7 Amalan Penuh Berkah untuk Si Kecil
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
4 Cara agar Anak Merasa Miliki Privasi, tapi Tetap Bisa Bunda Pantau
Buang Jauh Gengsi Bun, Ini Pentingnya Orang Tua Minta Maaf pada Anak
Bunda Perlu Tahu, Pentingnya Mengajarkan Kejujuran pada Anak Sejak Dini
Tips Agar Anak Tak Jadi Pelampiasan Emosi Bunda
TERPOPULER
5 Potret Cute Baby Regina Anak Ahok & Puput Nastiti Bareng Dua Kakaknya
Kebahagiaan Zaskia Mecca Bisa Memperingati Isra Miraj di Baitul Maqdis, Kota Suci di Yerusalem
Jawaban Sienna Usai Tahu Marshanda Tak Perjuangkan Hak Asuh saat Berpisah dengan Ben Kasyafani
Penyanyi Ailee Mulai Jalani IVF Bersama Sang Suami, Akui Gugup dan Takut
15 Kalimat yang Diucap Orang Pura-pura Cerdas
REKOMENDASI PRODUK
3 Tips Jaga Pencernaan Anak saat Bepergian
Tim HaiBundaREKOMENDASI PRODUK
5 Rekomendasi Muted Lip Tint, Pas untuk Makeup Look Lembut
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
10 Rekomedasi Susu Program Hamil untuk Dukung Keberhasilan Promil
Dwi Indah NurcahyaniREKOMENDASI PRODUK
Review Eomma Head to Toe Happiness, Sampo & Sabun Mandi untuk Perawatan Bayi
Firli NabilaREKOMENDASI PRODUK
5 Rekomendasi Lipstik Warna Muted, Ada Pilihan Bunda?
Amira SalsabilaTERBARU DARI HAIBUNDA
Kebahagiaan Zaskia Mecca Bisa Memperingati Isra Miraj di Baitul Maqdis, Kota Suci di Yerusalem
5 Potret Cute Baby Regina Anak Ahok & Puput Nastiti Bareng Dua Kakaknya
Penyanyi Ailee Mulai Jalani IVF Bersama Sang Suami, Akui Gugup dan Takut
15 Kalimat yang Diucap Orang Pura-pura Cerdas
Jawaban Sienna Usai Tahu Marshanda Tak Perjuangkan Hak Asuh saat Berpisah dengan Ben Kasyafani
FOTO
VIDEO
DETIK NETWORK
-
Insertlive
Tak Perlu Gym Berat, Ini Walking Workout Cocok untuk Usia 50 Tahun ke Atas
-
Beautynesia
7 Kebiasaan Pagi yang Baik untuk Dapatkan Tubuh Lebih Sehat, Mudah Dilakukan!
-
Female Daily
Catat Tanggalnya! Ini Deretan Event Lari 2026 di Jakarta yang Seru dan Wajib Kamu Ikuti
-
CXO
GOT7 Rilis Album Baru, Persiapan Harus Lewat Video Call Karena Hal Ini
-
Wolipop
Gaun Merah Bella Hadid di Premiere 'The Beauty' Disorot, Tandai Debut Akting
-
Mommies Daily
Kuis: Jenis Olahraga yang Cocok untuk Mommies Lakukan di Tahun 2026