Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

parenting

Ini Kebiasaan yang Dibenci Orang Tua tapi Baik untuk Anak Remaja Menurut Studi

Nadhifa Fitrina   |   HaiBunda

Rabu, 21 Jan 2026 15:20 WIB

Kebiasaan yang Dibenci Orang Tua tapi Baik untuk Anak Remaja Menurut Studi
Ilustrasi Kebiasaan yang Dibenci Orang Tua tapi Baik untuk Anak Remaja Menurut Studi/Foto: Getty Images/iStockphoto/BongkarnThanyakij
Daftar Isi
Jakarta -

Tak jarang, kita sebagai orang tua suka langsung menilai kebiasaan anak sebagai sesuatu yang kurang baik. Padahal, beberapa hal yang tampak 'menyebalkan' bisa saja berdampak positif bagi mereka.

Saat melihat anak melakukan sesuatu yang berbeda dari biasanya, Bunda mungkin kerap merasa khawatir atau ingin menegur. Namun, penelitian justru menunjukkan bahwa tidak semua hal yang tampak kurang tepat itu merugikan.

Menilik dari laman Health and Me, sebuah studi yang diterbitkan di The Journal of Affective Disorders meneliti lebih dari seribu remaja berusia 16-24 tahun. Para peneliti menganalisis data mereka untuk melihat hubungan antara kebiasaan tertentu dan kesehatan mental remaja.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Hasilnya cukup mengejutkan, Bunda. Ternyata, ada beberapa hal yang meski kadang dianggap orang tua 'tidak baik', nyatanya bisa membantu remaja tetap sehat secara emosional.

Lantas, kebiasaan seperti apa yang biasa dibenci orang tua tapi baik untuk anak remaja? Simak ulasan selengkapnya.

Kebiasaan yang dibenci orang tua tapi baik untuk anak remaja

Sering kali, kita merasa kesal melihat anak remaja tidur terlalu lama di akhir pekan, setuju tidak Bunda? Padahal, kebiasaan ini ternyata punya manfaat untuk kesehatan mental mereka, lho.

Berdasarkan hasil studi yang dilansir dari Health and Me, membiarkan remaja tidur lebih lama di akhir pekan bisa menurunkan risiko depresi. Banyak orang tua biasanya menganggap hal ini sebagai kemalasan atau kurang disiplin.

Penelitian ini dilakukan oleh ilmuwan dari Universitas Oregon dan Universitas Kedokteran Upstate, Negara Bagian New York. Mereka menganalisis data dari lebih dari 1.000 anak remaja berusia 16-24 tahun.

Para peserta kemudian menyampaikan jam tidur dan bangun mereka selama di akhir pekan. Termasuk juga berapa lama mereka tidur tambahan saat sedang libur sekolah.

Dikutip dari Fast Company bahwa anak remaja yang tidur lebih lama di akhir pekan jauh lebih kecil kemungkinannya mengalami gejala depresi, Bunda. Kelompok ini punya risiko depresi 41 persen lebih rendah dibandingkan dengan mereka yang tetap bangun pagi seperti hari biasa.

Jadi, meski terlihat 'malas' bagi orang tua, membiarkan anak remaja tidur lebih lama di akhir pekan bisa menjadi salah satu cara untuk jaga kesehatan mental mereka.

Bangun pagi bukan kunci disiplin bagi anak remaja, ini alasannya

Bunda mungkin suka berpikir kalau bangun pagi setiap harinya bisa membangun disiplin pada anak, ya. Namun, penelitian terbaru justru menunjukkan hal yang berbeda dari sisi mereka.

Dilansir dari Fast Company, selama masa pubertas, jam tubuh anak remaja mulai bergeser, Bunda. Akibatnya, mereka cenderung tidur lebih larut di malam hari dan bangun lebih siang di pagi hari dibandingkan dengan orang dewasa.

"Alih-alih menjadi morning person, anak remaja akan lebih cenderung menjadi orang yang aktif di malam hari," jelas seorang profesor madya di Universitas Oregon dan salah satu penulis studi tersebut, Melynda Casement.

Menurutnya, pergeseran ke waktu tidur yang lebih larut ini biasanya berlangsung hingga usia 18-20 tahun, sebelum akhirnya stabil. Artinya, kebiasaan ini normal ya dan jadi bagian dari tumbuh kembang anak remaja.

Tidur lebih lama di akhir pekan bisa lindungi kesehatan mental remaja

Kebiasaan anak remaja yang tidur larut malam, ditambah waktu sekolah yang pagi, hingga kegiatan ekstrakurikuler, membuat mereka sering kali kekurangan tidur, Bunda.

Kondisi ini bisa saja menumpuk menjadi 'utang tidur' yang berisiko pada kesehatan mentalnya.

Profesor Casement menyampaikan bahwa anak remaja sebenarnya butuh delapan sampai sepuluh jam tidur setiap malamnya. Sayangnya, kebanyakan dari mereka tidak mendapatkannya di hari biasa, sehingga tidur lebih lama di akhir pekan menjadi sangat penting.

Nah, sekarang sudah banyak bukti ilmiah yang mengatakan kalau tidur sampai siang itu bukan berarti anak 'malas' ya, Bunda.

Itulah seputar kebiasaan yang dibenci orang tua tapi baik untuk anak remaja menurut studi. Semoga penjelasannya bisa memberikan wawasan baru, ya.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(ndf/fir)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda