Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

parenting

4 Tanda Anak Alami Anxious Attachment Menurut Psikolog, Termasuk Punya Tipe Emosi Ini

Nadhifa Fitrina   |   HaiBunda

Senin, 02 Feb 2026 08:50 WIB

9 Tanda Anak Butuh Perhatian agar Tak Merasa Diabaikan
Ilustrasi Tanda Anak Alami Anxious Attachment Menurut Psikolog/Foto: Getty Images/iStockphoto/maroke
Daftar Isi
Jakarta -

Bunda suka merasa tidak, kalau Si Kecil begitu menempel dan sulit untuk ditinggal sebentar. Hal ini memang bisa bikin geram ya, apalagi saat Bunda harus mengurus banyak kegiatan di rumah.

Sering kali, anak bisa tiba-tiba menangis atau rewel saat harus pergi ke sekolah atau bermain dengan temannya. Perilaku seperti ini mungkin saja anak mengalami anxious attachment, Bunda.

Beberapa anak jadi sangat menempel pada orang tuanya dan terlihat takut jika tidak ada di dekatnya. Mereka juga sering menunjukkan emosi, misalnya menangis atau marah saat diajak melakukan sesuatu yang belum familiar baginya.

Anak dengan anxious attachment terkadang juga sulit untuk menghadapi hal-hal baru, Bunda. Bahkan, perubahan seperti pindah dari satu kegiatan ke kegiatan lain saja bisa bikin mereka frustrasi.

Lantas, sebenarnya apa arti dari anxious attachment ini? Apakah kondisi seperti ini bisa berpengaruh pada tumbuh kembang Si Kecil?

Mengenal anxious attachment pada anak

Menilik dari Parents, anxious attachment adalah tipe keterikatan atau ikatan emosional pada anak di mana mereka merasa cemas atau takut kehilangan orang yang mereka sayangi.

Anak dengan anxious attachment biasanya menempel lebih dekat, mudah cemas saat berpisah, dan sering membutuhkan perhatian lebih dari orang tuanya. Seorang Psikolog Perkembangan dan Ilmuwan Riset Senior di Education Development Center, Jessica Young, PhD, membeberkan alasan terbentuknya jenis emosi ini.

"Anxious attachment dapat terbentuk jika orang tua terkadang memberikan perhatian yang penuh, tapi di waktu lain mereka tidak hadir secara emosional atau mengabaikan anak," kata Young.

Penelitian menunjukkan bahwa kondisi ini bisa menimbulkan kecemasan pada anak, bahkan hingga masa remaja. Anak-anak dengan anxious attachment cenderung menyimpan masalahnya sendiri dan mengandalkan orang dewasa untuk membantu menghadapi masalah.

Lebih lanjut, anak yang mengalami anxious attachment sering kali bingung tentang apa yang bisa mereka harapkan dari orang tuanya. Mereka kadang ragu apakah orang tua akan selalu ada saat mereka membutuhkan bantuan atau perhatian.

Lalu, apa saja tanda-tanda yang biasanya terlihat ketika anak mengalami anxious attachment?

Tanda-tanda anak alami anxious attachment menurut psikolog

Kalau Bunda khawatir anak menunjukkan anxious attachment, ada empat tanda yang bisa diperhatikan menurut psikolog. Perlu kita ingat bahwa muncul satu atau dua tanda belum tentu anak mengalami kondisi ini. Berikut tanda-tandanya:

1. Anak sangat manja dan menolak untuk dipisahkan

Menurut Psikolog Jessica Young, salah satu ciri utamanya adalah ketika Si Kecil menjadi manja dan menolak keras untuk berpisah. Rasa cemas saat jauh dari orang tua ini bisa menjadi tanda adanya pola keterikatan yang kurang tenang pada anak.

Sebenarnya wajar saja kalau anak usia 3-5 tahun itu menangis saat Bunda titipkan di sekolah atau tempat baru. Reaksi ini normal karena mereka butuh perlindungan dari orang tuanya.

Namun, kita juga perlu perhatikan kalau sifat manja ini muncul terus-menerus setiap harinya. Coba Bunda lihat, apakah rasa cemasnya sampai membuat Si Kecil jadi tidak ingin bermain bersama teman-temannya?

2. Anak memiliki harga diri yang rendah

Rendahnya harga diri ternyata jadi salah satu ciri yang kerap muncul pada anak dengan anxious attachment. Kondisi ini membuat anak sering merasa ragu terhadap kemampuan dirinya sendiri.

Penelitian menunjukkan bahwa perasaan kurang percaya diri yang menetap pada diri anak bisa memicu depresi saat mereka remaja nanti. Oleh karena itu, Si Kecil biasanya butuh semangat supaya lebih yakin pada kemampuannya.

Bunda mungkin saja akan melihat anak butuh dukungan ekstra, baik saat ia sedang belajar di sekolah maupun ketika bermain bersama temannya. Mereka seolah membutuhkan 'validasi' agar merasa mampu melakukan tugasnya dengan baik.

Padahal, anak sebenarnya sedang kurang percaya diri, Bunda. Itulah sebabnya mereka sering terlihat ragu atau enggan mencoba hal-hal baru.

Sayangnya, rasa tidak percaya diri juga ini membuat anak tak ingin menceritakan kesulitan yang sedang mereka alami. Mereka cenderung menutup diri karena merasa bahwa masalah yang terjadi saat ini adalah murni kesalahan mereka sendiri.

3. Anak sangat sensitif terhadap teguran

Wajar ya Bunda kalau anak-anak tidak suka ditegur, tetapi anak dengan anxious attachment bisa bereaksi berlebihan atau sensitif terhadap koreksi.

Penelitian menunjukkan bahwa anak-anak yang sensitif ini bisa merasa kurang percaya diri saat dewasa nanti. Hal ini kadang membuat mereka kesulitan untuk bergaul dengan teman-temannya atau menghadapi persoalan di tempat kerja.

4. Emosi anak yang mudah berubah

Sebenarnya wajar saja jika anak sesekali tantrum atau emosinya berubah-ubah. Namun, anak dengan anxious attachment cenderung suasana hatinya berubah lebih cepat dari biasanya.

Sifat emosional ini biasanya terlihat dari cara anak bereaksi saat menghadapi masalah. Mereka bisa tiba-tiba menangis atau marah, tapi bingung saat diminta menjelaskan apa yang membuatnya merasa kesal.

Kondisi ini muncul karena Si Kecil belum bisa mengatur emosinya dengan baik, Bunda. Alih-alih bercerita, anak justru mengekspresikan perasaannya dengan tantrum karena merasa tidak punya cara lain untuk menghadapinya.

Tips mengatasi anak mengalami anxious attachment

Anak-anak sebenarnya bisa belajar untuk mengurangi rasa cemas mereka, Bunda. Salah satu tips pentingnya adalah memberikan contoh perilaku yang positif.

Saat Bunda menanggapi emosi sendiri dengan tenang, Si Kecil akan belajar tentang bagaimana cara mengenali dan mengelola perasaannya sendiri.

"Tunjukkan kepada anak-anak tentang cara mengenali perasaan dan menanggapinya secara positif," kata Psikolog Jessica Young.

Selain itu, Bunda bisa ciptakan lingkungan yang konsisten di rumah. Rutinitas harian yang jelas membuat anak merasa aman dan lebih percaya diri dalam menghadapi hari-hari mereka.

"Buatlah struktur sebanyak mungkin agar anak tahu apa yang diharapkan," ujarnya.

Bunda juga bisa membuat kotak lima indera sebagai alat menenangkan diri untuk Si Kecil. Anak bisa memilih benda yang berkaitan dengan kelima indra mereka dan menghias kotak sesuai dengan keinginannya.

"Mintalah anak memilih lima benda untuk dimasukkan ke dalam kotak yang berkaitan dengan lima indra. Anak juga bisa menghias kotak tersebut sesuai dengan keinginannya," jelas Dr. Young.

Misalnya, anak bisa memasukkan benda yang bisa dilihat, seperti mainan warna-warni, atau yang bisa disentuh, misalnya bola atau boneka. Mereka juga bisa menambahkan benda yang bisa didengar, contohnya alat musik mini, serta benda yang bisa dicium, seperti bunga kering atau lilin aromaterapi.

Kotak lima indera ini bisa membantu anak merasa lebih tenang saat harus menghadapi situasi yang menegangkan, misalnya ketika berpisah dari orang tua.

Lebih lanjut, Bunda juga bisa dorong anak untuk bermain dan membuat pilihannya sendiri. Boleh terlibat, tapi jangan menyelesaikan semua masalah mereka ya, supaya anak bisa belajar percaya diri.

Itulah penjelasan mengenai tanda anak mengalami anxious attachment menurut psikolog. Semoga informasinya bisa membantu ya, Bunda.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(ndf/fir)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda