Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

parenting

Kenali Penyebab Anak Kurang Gizi dan Gejala Awal yang Timbul

Natasha Ardiah   |   HaiBunda

Jumat, 30 Jan 2026 16:50 WIB

Anak kurang gizi
Anak kurang gizi/ Foto: Getty Images/Sasiistock
Daftar Isi

Bunda, anak adalah amanah berharga yang membutuhkan perhatian khusus sejak dini. Namun, masih banyak orang tua yang belum menyadari kondisi anak kurang gizi hingga dampaknya mulai terlihat.

Masalah anak yang kurang gizi sering kali berawal dari kebiasaan sehari-hari yang dianggap sepele. Jika tidak dikenali lebih awal, kondisi ini dapat memengaruhi tumbuh kembang anak secara menyeluruh.

Oleh karena itu, penting bagi Bunda dan Ayah untuk memahami penyebab dan tanda awal yang muncul. Dengan pengetahuan yang tepat, risiko anak kurang gizi dapat dicegah sejak dini.

Penyebab anak kurang gizi

Dilansir dari laman situs resmi UNICEF, kekurangan gizi pada anak merupakan kondisi serius yang mencerminkan belum terpenuhinya hak anak untuk tumbuh dan berkembang secara optimal. Anak kurang gizi bisa berisiko mengalami hambatan belajar dan tidak dapat mencapai potensi terbaiknya.

Sampai saat ini, masalah anak kurang gizi masih menjadi perhatian dunia meskipun berbagai upaya telah dilakukan. Pengukuran kondisi ini penting untuk menilai keberhasilan pembangunan dan memastikan dunia bergerak menuju target dalam mengakhiri kekurangan gizi pada anak.

Mengutip dari laman Cleveland Clinic, kekurangan gizi dapat terjadi ketika asupan nutrisi harian tidak memenuhi kebutuhan tubuh anak. Kondisi ini menjadi salah satu penyebab anak kurang gizi yang paling sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari.

Selain itu, masalah kesehatan tertentu juga dapat mengganggu penyerapan nutrisi di dalam tubuh. Berikut ini daftar lengkap penyebab anak menjadi kurang gizi:

  1. Keterbatasan ekonomi yang membuat kebutuhan gizi anak tidak terpenuhi secara optimal.
  2. Akses yang terbatas terhadap makanan sehat dan bergizi seimbang.
  3. Gangguan kesehatan yang menyebabkan anak sulit makan, seperti mual atau susah menelan.
  4. Penyakit tertentu yang menguras energi tubuh, misalnya diare berkepanjangan.
  5. Kebutuhan kalori yang meningkat pada masa pertumbuhan atau kondisi khusus.
  6. Masalah kesehatan mental yang dapat menurunkan nafsu makan anak.
  7. Gangguan pola makan yang tidak sehat atau bersifat ekstrem.
  8. Kelainan pencernaan yang menghambat penyerapan zat gizi tubuh.
  9. Kondisi medis yang memerlukan pemberian nutrisi melalui infus jangka panjang.
  10. Pola makan yang terlalu ketat atau menu yang kurang bervariasi.

Gejala awal anak kurang gizi

Gejala awal anak kurang gizi dapat dikenali dari perubahan fisik yang tampak jelas. Berikut ini beberapa ciri anak kurang gizi yang telah Bubun kutip berdasarkan informasi dari laman Cleveland Clinic, yaitu: 

  1. Berat badan berada di bawah normal, dengan tulang tampak menonjol serta lapisan lemak dan otot yang menipis.
  2. Lengan dan kaki terlihat sangat kurus, disertai pembengkakan pada perut atau wajah akibat penumpukan cairan.
  3. Proses tumbuh kembang fisik dan kemampuan berpikir anak berjalan lebih lambat dari seharusnya.
  4. Tubuh tampak lemah, mudah lelah, dan pada kondisi tertentu bisa mengalami pingsan.
  5. Anak menjadi lebih mudah rewel, kurang responsif, atau terlihat tidak bersemangat.
  6. Kondisi kulit kering, kurang kenyal, muncul ruam, atau luka yang sulit sembuh.
  7. Rambut menjadi rapuh, mudah rontok, dan warnanya tampak lebih pucat.
  8. Anak lebih sering mengalami infeksi dan tingkat keparahannya cenderung lebih tinggi.
  9. Suhu tubuh cenderung rendah dan anak kesulitan menjaga kehangatan tubuhnya.
  10. Denyut jantung dan tekanan darah berada di bawah batas normal.

Permasalahan kurang gizi pada anak

Permasalahan kurang gizi pada anak masih menjadi perhatian serius karena berdampak langsung pada kesehatan dan tumbuh kembang anak. Berikut ini adalah beberapa permasalahan yang sering dijumpai pada anak yang kurang gizi.

1. Berat badan kurang (underweight)

Dikutip dari situs resmi World Health Organization (WHO), berat badan kurang atau underweight merupakan salah satu permasalahan gizi yang paling mudah dikenali pada anak yang kurang gizi. Kondisi ini dapat diketahui melalui pengukuran berat badan yang berada di bawah standar sesuai usia.

Meski terlihat ringan, anak dengan berat badan kurang memiliki risiko kesehatan yang lebih tinggi. Risiko tersebut akan semakin besar pada anak kurang gizi dengan kondisi underweight yang tergolong berat.

2. Kurus (wasting)

Kurus atau wasting merupakan tanda kekurangan gizi akut yang sering dialami anak kurang gizi. Kondisi ini umumnya terjadi akibat asupan makanan yang tidak mencukupi dan seringnya anak terserang penyakit infeksi, terutama diare.

Pada anak yang kurus atau mengalami wasting, sistem kekebalan tubuh mereka menjadi lemah sehingga lebih mudah terserang infeksi yang berat dan berlangsung lebih lama. Jika tidak segera ditangani, kondisi ini dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan serius hingga kematian.

Adapun cara membedakan anak kurus sehat dan kurang gizi adalah dengan memperhatikan pola makan, tingkat aktivitas, serta daya tahan tubuh anak. Anak kurus yang sehat umumnya tetap aktif, jarang sakit, dan tumbuh sesuai tahap usianya, sedangkan anak kurus yang kurang gizi cenderung lemas dan mudah jatuh sakit.

3. Pendek (stunting)

Berdasarkan informasi dari Organisasi Kesehatan Dunia, pendek atau stunting merupakan salah satu masalah serius yang sering dialami anak kurang gizi akibat asupan nutrisi yang tidak tercukupi dalam jangka panjang. Kondisi ini juga dapat dipicu oleh infeksi berulang yang menghambat proses pertumbuhan anak.

Selain memengaruhi tinggi badan, stunting juga berdampak pada perkembangan mental dan kemampuan kognitif anak. Beberapa ciri-ciri anak gizi buruk yang terkena stunting meliputi keterlambatan perkembangan motorik, daya konsentrasi yang rendah, serta kemampuan belajar yang tidak sesuai dengan usianya. Akibatnya, anak cenderung mengalami kesulitan mengikuti pelajaran dan menunjukkan prestasi akademik yang kurang optimal.

Dampak stunting tidak hanya dirasakan pada masa kanak-kanak, tetapi juga hingga dewasa. Anak perempuan yang mengalami stunting berisiko menghadapi komplikasi kehamilan dan melahirkan generasi berikutnya yang juga rentan menjadi anak kurang gizi.

4. Kekurangan vitamin dan mineral

Kekurangan vitamin dan mineral merupakan masalah gizi yang sering dialami anak ketika asupan nutrisi hariannya tidak seimbang. Kondisi ini dapat memengaruhi daya tahan tubuh, pertumbuhan fisik, serta kemampuan belajar anak dalam jangka panjang. Adapun anak-anak yang kurang gizi sering kali kekurangan vitamin dan mineral sebagai berikut: 

Vitamin A

Vitamin A berfungsi mendukung pertumbuhan anak sekaligus menjaga kesehatan mata, kulit, tulang, dan daya tahan tubuh agar anak tidak mudah mengalami masalah gizi. Kekurangan vitamin A dapat membuat pertumbuhan anak bisa menjadi tidak optimal.

Zat besi

Zat besi berperan penting dalam menunjang tumbuh kembang bayi, terutama untuk perkembangan otak dan pembentukan sel darah merah yang berfungsi mengalirkan oksigen ke seluruh tubuh. Dikutip dari laman Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), kekurangan zat besi dapat memicu anemia serta berdampak pada kecerdasan, perilaku, dan kemampuan motorik anak.

Yodium

Yodium berperan penting dalam menjaga fungsi kelenjar tiroid agar bekerja dengan baik. Mineral ini dibutuhkan untuk menghasilkan hormon tiroid yang membantu mengatur metabolisme, kerja pencernaan, serta menjaga kestabilan denyut jantung dan tekanan darah.

5. Kwashiorkor

Mengutip dari Cleveland Clinic, kwashiorkor merupakan kurangnya protein pada anak. Penyakit ini lebih jarang ditemukan di negara dengan tingkat kesejahteraan tinggi. Penyakit ini umumnya muncul di wilayah dengan keterbatasan pangan, kondisi ekonomi rendah, sanitasi yang kurang layak, serta tingginya angka penyakit infeksi.

Kondisi ini dapat dialami oleh siapa saja, namun paling sering menyerang anak-anak usia dini. Risiko tertinggi terjadi pada anak berusia sekitar 3–5 tahun, terutama setelah berhenti menyusu dan mulai mengonsumsi makanan yang tinggi karbohidrat tetapi minim protein dan zat gizi penting lainnya.

6. Marasmus

Marasmus dan kwashiorkor merupakan dua bentuk kekurangan gizi protein-energi berat yang banyak ditemukan pada anak kurang gizi. Marasmus terjadi ketika tubuh kekurangan energi secara menyeluruh akibat asupan kalori yang sangat rendah atau pengeluaran energi yang berlebihan, sehingga anak kehilangan lemak dan massa otot. Sementara itu, kwashiorkor lebih berkaitan dengan kurangnya asupan protein, meskipun kebutuhan kalori harian tampak masih terpenuhi.

7. Daya Tangkap Kurang

Daya tangkap yang kurang sering dialami anak kurang gizi karena otak tidak memperoleh asupan nutrisi yang cukup untuk berkembang optimal. Akibatnya, anak menjadi lebih sulit memahami pelajaran dan membutuhkan waktu lebih lama untuk menerima informasi baru. Jika kondisi ini berlangsung lama, kemampuan belajar anak dapat tertinggal dibandingkan anak seusianya.

Cara mengatasi anak kurang gizi

Bunda, cara mengatasi anak kurang gizi perlu disesuaikan dengan penyebab serta tingkat keparahan kondisi yang dialami anak. Pada tahap awal, Bunda biasanya akan mendapatkan panduan perawatan dan pengaturan pola makan yang dapat diterapkan di rumah.

Dalam kondisi tertentu, anak akan mendapat pendampingan dari ahli gizi atau tenaga kesehatan profesional, bahkan dirawat di rumah sakit bila diperlukan. Setiap tindakan penanganan dilakukan dengan persetujuan orang tua dan selalu mempertimbangkan kepentingan terbaik anak sesuai dengan pedoman medis.

Dilansir dari situs National Health Service (NHS), cara yang paling tepat untuk mengatasi anak yang kurang gizi adalah sebagai berikut:

  • Perubahan pola makan, seperti mengonsumsi makanan yang kaya energi dan nutrisi. 
  • Dukungan bagi keluarga untuk membantu mereka mengelola faktor-faktor yang memengaruhi asupan nutrisi anak.
  • Pengobatan untuk kondisi medis mendasar apa pun yang menyebabkan kekurangan gizi. 
  • Mengonsumsi suplemen vitamin dan mineral.
  • Suplemen nutrisi berenergi tinggi dan berprotein tinggi jika perawatan lain saja tidak cukup. 

Anak dengan kondisi kekurangan gizi berat memerlukan penanganan yang dilakukan secara bertahap dan penuh kehati-hatian. Pemberian cairan dan nutrisi tidak bisa langsung seperti pola makan biasa, sehingga sering kali membutuhkan perawatan intensif di fasilitas kesehatan.

Setelah kondisi anak mulai stabil, asupan makanan normal diberikan secara perlahan dan dapat dilanjutkan di rumah. Selama proses pemulihan, pertumbuhan anak perlu dipantau secara rutin melalui pengukuran berat dan tinggi badan, serta dirujuk ke layanan lanjutan apabila perkembangan belum menunjukkan hasil yang diharapkan.

Daftar vitamin untuk anak agar tumbuh kembangnya optimal tidak kurang gizi

Supaya anak tidak kurang gizi dan pemenuhan gizinya terpenuhi, Bunda harus memberikan vitamin agar tumbuh kembang anak dapat optimal. Berikut ini daftar vitamin yang diperlukan agar anak tidak kurang gizi. 

1. Vitamin A

Vitamin A berperan penting dalam mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak agar berjalan optimal. Asupan vitamin ini membantu menjaga kesehatan mata, kulit, tulang, serta meningkatkan daya tahan tubuh sehingga dapat mencegah anak kurang gizi Vitamin A dapat diperoleh dari susu, keju, telur, serta sayuran berwarna kuning hingga oranye, dan juga dapat dipertimbangkan sebagai suplemen untuk anak kurang gizi sesuai anjuran dokter.

2. Vitamin B1 (tiamin) 

Vitamin B1 berfungsi membantu menjaga kesehatan sistem saraf anak agar proses tumbuh kembang berlangsung dengan baik. Asupan vitamin ini dapat berasal dari daging, ikan, sayuran, buah, telur, serta biji-bijian, dan dapat dilengkapi dengan suplemen untuk anak kurang gizi bila kebutuhan nutrisinya belum tercukupi.

3. Vitamin B2 (riboflavin) 

Vitamin B2 atau riboflavin berperan penting dalam menjaga kesehatan kulit, mata, serta sistem saraf anak. Asupan vitamin ini perlu diperhatikan karena kekurangannya dapat meningkatkan risiko kurang gizi dan menghambat tumbuh kembang Si Kecil.

4. Vitamin B3 (niasin) 

Vitamin B3 atau niasin berperan dalam menjaga kesehatan kulit dan sistem saraf anak agar tetap berfungsi dengan baik. Asupan vitamin ini penting diperhatikan karena kekurangannya dapat berisiko memperburuk kondisi anak yang kurang gizi, sehingga perlu dipenuhi melalui makanan sehari-hari seperti daging, ikan, telur, dan susu.

5. Vitamin B6 (piridoksin) 

Vitamin B6 atau piridoksin berperan dalam membantu tubuh anak mengolah energi dari makanan serta membentuk hemoglobin yang penting bagi kesehatan darah. Vitamin ini dapat diperoleh dari daging tanpa lemak, biji-bijian utuh, telur, sayuran, kacang-kacangan, susu, hingga kentang untuk mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.

6. Vitamin B9 (folat)  

Vitamin B9 atau folat berperan penting dalam membantu tubuh anak mengolah energi dari makanan serta mendukung pembentukan sel darah. Asupan vitamin ini dapat diperoleh dari daging tanpa lemak, telur, susu, biji-bijian utuh, sayuran, kacang-kacangan, hingga kentang untuk menunjang tumbuh kembang anak.

7. Vitamin B12 (kobalamin) 

Vitamin B12 atau kobalamin berperan penting dalam pembentukan sel darah merah, produksi DNA, serta menjaga fungsi sistem saraf anak. Asupan vitamin ini dapat diperoleh dari daging merah, daging unggas, makanan laut, susu, keju, dan telur untuk mendukung tumbuh kembang anak agar tidak mengalami kekurangan gizi.

8. Vitamin C

Vitamin C memiliki peran penting dalam membantu pembentukan kolagen serta meningkatkan daya tahan tubuh anak terhadap infeksi. Selain menjaga kesehatan gigi, tulang, dan gusi, vitamin ini juga membantu penyerapan zat besi dan dapat diperoleh dari sayuran seperti paprika dan brokoli, serta buah-buahan seperti jeruk, beri, mangga, dan kiwi.

9. Vitamin D

Vitamin D berperan penting dalam membantu penyerapan kalsium sehingga tulang anak tumbuh kuat dan sehat. Kebutuhan vitamin ini dapat dipenuhi melalui paparan sinar matahari serta konsumsi makanan seperti ikan salmon, ikan sarden, dan kuning telur.

10. Vitamin E

Vitamin E membantu memperkuat sistem kekebalan tubuh sekaligus menjaga kesehatan kulit dan mata anak. Vitamin ini bisa diperoleh dari minyak bunga matahari, minyak kanola, biji-bijian, kacang-kacangan, telur, gandum, serta margarin. 

11. Vitamin K

Vitamin K memiliki peran penting dalam membantu proses pembekuan darah sehingga luka pada anak dapat sembuh dengan baik. Asupan vitamin ini dapat diperoleh dari sayuran hijau, kacang hijau, telur, dan keju, yang perlu diperhatikan agar kebutuhan gizi anak kurang gizi tetap terpenuhi.

Bunda, itulah penjelasan mengenai penyebab, gejala, serta cara yang dilakukan untuk menangani masalah pada anak kurang gizi. Apabila Si Kecil sudah memiliki gejala-gejala di atas, harap segera periksa ke dokter dan lakukan penanganan yang tepat agar tumbuh kembang anak menjadi optimal.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(rap/rap)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda