PARENTING
Apakah Autis pada Anak Bisa Sembuh? Ini Faktanya
Nadhifa Fitrina | HaiBunda
Minggu, 05 Apr 2026 09:30 WIBTidak sedikit orang tua yang merasa khawatir saat mengetahui tumbuh kembang anaknya berbeda dari anak seusianya. Perasaan bingung pun kerap muncul, apalagi ketika mulai mendengar istilah autis pada anak.
Dalam kondisi seperti ini, Bunda perlu mendapatkan informasi yang tepat dan tidak membingungkan. Perlu diketahui bahwa autisme sendiri bukanlah kondisi yang bisa dipahami secara sederhana.
Setiap anak memiliki karakter dan perkembangan yang berbeda, sehingga penanganannya pun tidak bisa disamakan. Oleh karena itu, banyak orang tua yang mulai mencari tahu lebih jauh tentang kondisi ini.
Dikutip dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), anak dengan autisme biasanya mengalami kesulitan dalam menjalin hubungan dengan orang lain. Mereka sulit diajak berinteraksi atau tidak memberi respons jika dipanggil atau diajak bicara. Lantas, apakah autis pada anak bisa sembuh?
Apakah anak autis bisa sembuh?
Dikutip dari National Health Service (NHS), autisme merupakan kondisi di mana perkembangan otak seseorang berbeda dari individu non-autis. Kondisi ini bukan suatu penyakit, sehingga tidak ada obat untuk menyembuhkannya.
Oleh karena itu, autisme lebih tepat dipahami sebagai gangguan perkembangan, bukan penyakit atau kondisi medis yang bisa disembuhkan dengan obat. Penggunaan kata 'sembuh' dalam konteks autisme pun menjadi kurang tepat, Bunda.
Sementara itu, dilansir Cleveland Clinic, anak dengan autisme umumnya tidak bisa hilang sepenuhnya. Namun dalam beberapa kasus, anak yang menjalani terapi bisa saja tidak lagi didiagnosis autisme.
Kenapa anak bisa terkena autis?
Secara umum, anak bisa mengalami autisme karena adanya kombinasi berbagai faktor yang memengaruhi perkembangan otak. Jadi, kondisi ini bukan disebabkan oleh satu hal saja, melainkan hasil dari beberapa faktor yang saling berkaitan.
Mengutip dari Autism Speaks, faktor utama yang berperan biasanya adalah genetik dan lingkungan. Keduanya dapat memengaruhi cara otak anak berkembang, terutama dalam hal komunikasi dan interaksi sosial.
Namun, kita perlu memahami bahwa faktor ini tidak selalu menjadi penyebab yang pasti. Artinya, tidak semua anak dengan faktor tersebut akan mengalami autisme.
Menilik dari National Institute of Environmental Health Sciences (NIEHS), beberapa faktor lingkungan dapat meningkatkan risiko autisme sejak masa kehamilan hingga proses kelahiran.
Contohnya paparan polusi udara saat hamil, kondisi kesehatan ibu seperti obesitas atau diabetes, serta kelahiran prematur atau berat badan lahir rendah. Selain itu, komplikasi saat persalinan yang menyebabkan kurangnya oksigen pada otak bayi juga bisa meningkatkan risiko terjadinya autisme.
10 Jenis terapi untuk anak dengan autisme
Terdapat beberapa jenis terapi untuk anak dengan autisme yang dilansir dari berbagai sumber:
1. Terapi fisik atau fisioterapi
Terapi ini melibatkan berbagai kegiatan dan latihan yang bertujuan untuk melatih kemampuan motorik, sekaligus memperkuat postur tubuh dan keseimbangan anak. Masalah pada gerakan memang cukup sering ditemukan pada anak dengan autisme.
Mengutip dari National Institutes of Health (NIH), banyak anak dengan autisme menjalani terapi fisik. Meski demikian, manfaat dari terapi ini masih perlu diteliti lebih lanjut.
2. Terapi bermain
Terapi bermain membantu anak mengembangkan berbagai kemampuan melalui aktivitas yang menyenangkan. Mulai dari keterampilan sosial hingga kemampuan memecahkan masalah, semuanya bisa dilatih lewat permainan.
Lewat terapi bermain, anak belajar mengekspresikan emosi, meningkatkan keterampilan sosial, serta melatih imajinasi dan kemampuan berpikir. Terapi ini juga cocok untuk anak usia dini, Bunda.
3. Terapi visual
Terapi visual bertujuan untuk melatih keterampilan penglihatan dan koneksi saraf antara mata dan otak. Melalui latihan yang disesuaikan, anak diharapkan dapat lebih mudah memahami lingkungan di sekitarnya.
4. Terapi wicara
Terapi wicara dan bahasa bertujuan membantu meningkatkan kemampuan komunikasi anak. Terapi ini menjadi salah satu yang paling sering digunakan untuk anak dengan autisme.
Lewat terapi ini, anak akan dilatih untuk menggunakan kata-kata dalam menyampaikan kebutuhan dan perasaannya. Selain itu, anak juga dibantu menyesuaikan cara berbicara.
5. Terapi biomedis
Terapi biomedis merupakan pendekatan alternatif yang mencakup berbagai metode, seperti pemberian vitamin dosis tinggi hingga terapi oksigen hiperbarik. Biasanya, terapi ini digunakan sebagai pendamping dari terapi utama.
Meski belum selalu didukung oleh bukti yang kuat, beberapa keluarga merasa pendekatan ini memberikan manfaat bagi anak.
6. Terapi tingkah laku
Terapi ini berfokus pada membantu anak mengembangkan perilaku positif sekaligus mengurangi perilaku yang kurang tepat. Mengutip dari National Institutes of Health (NIH), pendekatan yang sering digunakan adalah metode Applied Behavior Analysis (ABA).
Selain itu, terapi ini juga memberikan panduan tentang cara menghadapi perilaku anak dalam situasi tertentu. Perkembangan anak biasanya dipantau secara berkala untuk melihat perubahan yang terjadi.
7. Terapi okupasi
Terapi okupasi membantu anak mengembangkan keterampilan yang dibutuhkan dalam kegiatan sehari-hari. Misalnya, anak dilatih untuk melakukan hal seperti menyikat gigi, berpakaian, atau makan secara mandiri.
Terapi ini juga mendukung kemampuan motorik, keseimbangan, dan koordinasi tubuh anak. Lewat berbagai latihan, anak dibimbing untuk meningkatkan kekuatan fisik dan keterampilan gerak yang dibutuhkan saat belajar maupun bermain.
8. Applied Behavior Analysis (ABA)
ABA merupakan salah satu terapi yang paling umum digunakan untuk anak dengan autisme. Dikutip dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia, terapi ini bertujuan membantu anak dengan autisme mengembangkan keterampilan sosial dan meningkatkan kemampuan berkomunikasi.
Program ABA biasanya dibuat secara khusus sesuai kebutuhan masing-masing anak. Setiap perkembangan akan dipantau secara rutin untuk melihat hasil dari setiap sesi terapi.
9. Terapi kemampuan sosial
Kemampuan sosial menjadi bekal penting anak untuk bisa berinteraksi dengan orang lain. Namun, anak dengan autisme sering mengalami kesulitan dalam memahami aturan atau situasi sosial di sekitarnya.
Aanak dengan autisme biasanya tidak otomatis memahami keterampilan sosial seperti anak lainnya. Karena itu, terapi ini membantu anak belajar memahami aturan sosial, membaca ekspresi, serta merespons situasi.
10. Terapi perkembangan
Terapi ini bertujuan membantu anak mengembangkan kemampuan interaksi sosial melalui kegiatan yang menyenangkan. Anak dibimbing untuk melakukan interaksi seperti memberi isyarat, melakukan kontak mata, atau meniru.
Melalui pendekatan ini, anak didorong untuk terus berinteraksi secara berkelanjutan. Dengan begitu, kemampuan komunikasi sosial dapat berkembang secara bertahap.
11. Terapi sensori
Terapi ini berfokus pada kemampuan anak dalam memproses rangsangan dari lingkungan sekitarnya. Mengutip dari NIH, terapi sensori dilakukan melalui kegiatan berbasis permainan yang melibatkan gerakan dan indra.
Melalui terapi ini, anak dibantu agar lebih tenang dan mampu merespons suara, cahaya, atau sentuhan dengan lebih baik. Anak juga dilatih untuk mengenali dan beradaptasi dengan berbagai hal yang dirasakan dari lingkungan sekitarnya.
Itulah penjelasan mengenai apakah autisme pada anak dapat sembuh beserta fakta yang perlu dipahami. Semoga penjelasannya bisa membantu, ya.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(ndf/fir)Simak video di bawah ini, Bun:
Anak Terlihat Narsis, Apakah Karena Faktor Keturunan? Ini Kata Psikolog
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
Serba-serbi Peringatan Hari Peduli Autisme Sedunia 2 April 2026
Benarkah Autisme Anak Perempuan Sering Baru Terungkap saat Remaja?
Hari Peduli Autisme Sedunia, Ini 5 Aktivitas Penuh Manfaat untuk Anak Autis
5 Tips Membesarkan Anak Autisme agar Selalu Bahagia
TERPOPULER
Potret Hangat Annisa Trihapsari Bersama 3 Anak dan Cucu Tercinta
Potret Baby Urwah Anak Ketiga Zaskia Sungkar & Irwansyah, Wajahnya Baru Diperlihatkan
Hamil Keempat setelah Tummy Tuck, Bunda Ini Kaget dengan Bentuk Baby Bump yang Aneh
9 Ciri Perempuan Bervalue, Lebih Dihargai dan Disukai Banyak Orang
Sering Diremehkan, Anak yang Menghitung Pakai Jari Justru Lebih Jago Matematika
REKOMENDASI PRODUK
5 Rekomendasi CCTV untuk Rumah, Pantau dari HP dengan Mudah
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
3 Rekomendasi Baju Anak Perempuan yang Terinspirasi dari Para Pemeran Na Willa
Nadhifa FitrinaREKOMENDASI PRODUK
5 Rekomendasi Kompor Listrik yang Awet dan Cocok untuk Dapur Modern
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
5 Rekomendasi Sunscreen untuk Kulit Berminyak, Sudah Coba Bunda?
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
9 Rekomendasi Obat Lambung untuk Ibu Hamil yang Aman Tersedia di Apotek
Annisa KarnesyiaTERBARU DARI HAIBUNDA
Potret Baby Urwah Anak Ketiga Zaskia Sungkar & Irwansyah, Wajahnya Baru Diperlihatkan
5 Rekomendasi CCTV untuk Rumah, Pantau dari HP dengan Mudah
Hamil Keempat setelah Tummy Tuck, Bunda Ini Kaget dengan Bentuk Baby Bump yang Aneh
Potret Hangat Annisa Trihapsari Bersama 3 Anak dan Cucu Tercinta
Sering Diremehkan, Anak yang Menghitung Pakai Jari Justru Lebih Jago Matematika
FOTO
VIDEO
DETIK NETWORK
-
Insertlive
Model Batik Wanita Terbaru, Cocok untuk Tampil Anggun & Stylish di Berbagai Acara
-
Beautynesia
3 Cara Mengenali Orang yang Lagi Berbohong dari Perilaku Sehari-hari
-
Female Daily
Hojicha Lagi Viral, Ini yang Bikin Hojicha Genmai Milk Tea dari CHAGEE Wajib Dicoba
-
CXO
GOT7 Rilis Album Baru, Persiapan Harus Lewat Video Call Karena Hal Ini
-
Wolipop
Tampil Glamour di Pemakaman Anak Sendiri, Influencer Ini Dikecam Netizen
-
Mommies Daily
Terpopuler: 15 Etika untuk Anak hingga Review Sampo dan Sabun Anak