Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

parenting

Sering Diremehkan, Anak yang Menghitung Pakai Jari Justru Lebih Jago Matematika

Nadhifa Fitrina   |   HaiBunda

Minggu, 05 Apr 2026 19:00 WIB

Sering Diremehkan, Anak yang Menghitung Pakai Jari Justru Lebih Jago Matematika
Ilustrasi Sering Diremehkan, Anak yang Menghitung Pakai Jari Justru Lebih Jago Matematika/Foto: Getty Images/pixs4u
Jakarta -

Bunda, siapa sangka kalau menghitung dengan jari ternyata bisa bantu anak lebih cepat paham matematika, lho. Cara ini ternyata punya pengaruh besar terhadap kemampuan berhitung mereka.

Penelitian menunjukkan bahwa anak usia 4 sampai 6½ tahun yang sering menghitung pakai jari memiliki kemampuan penjumlahan lebih baik saat mereka menginjak 7 tahun. Penulis utama dari Universitas Lausanne di Swiss, Catherine Thevenot, PhD, menyampaikan pandangannya terkait hal ini.

"Menghitung dengan jari bukan hanya alat untuk meraih kesuksesan instan pada anak-anak kecil, tetapi juga cara untuk mendukung pengembangan keterampilan aritmatika abstrak tingkat lanjut," kata Thevenot, dikutip dari American Psychological Association (APA).

Banyak anak kecil yang menggunakan jari sebagai strategi untuk menyelesaikan soal matematika. Sayangnya, masih banyak guru di Sekolah Dasar (SD) berharap anak-anak berhenti menghitung pakai jari.

Padahal, kebiasaan ini sebenarnya bagus untuk proses belajar matematika anak lho, Bunda. Simak ulasan selengkapnya berikut ini.

Menghitung pakai jari bisa tingkatkan kemampuan matematika anak

Dilansir dari laman APA, sebuah studi di Prancis menemukan bahwa 30 persen guru kelas satu menganggap anak yang sering menghitung memakai jari itu sebagai tanda kesulitan memahami konsep angka. Padahal, kebiasaan ini sebenarnya bagian dari strategi belajar mereka.

Penelitian sebelumnya hanya melihat anak-anak dalam satu kesempatan. Hasilnya memperlihatkan bahwa anak yang pakai jari lebih mahir aritmatika sampai usia 7 tahun dibandingkan yang tidak.

Setelah usia 7 tahun, hubungan itu justru berbalik, Bunda. Anak yang tidak lagi menggunakan jari justru berprestasi lebih baik, tetapi belum jelas apakah mereka tidak pernah pakai jari atau memang sudah berhenti.

Bicara soal ini, Thevenot menuturkan bahwa studi mereka bertujuan untuk melihat perbedaan tersebut dan mencoba memahami apa yang bisa diungkapkan oleh penggunaan jari terhadap perkembangan aritmatika anak-anak.

"Studi kami bertujuan untuk mengklarifikasi perbedaan ini dan untuk lebih memahami apa yang sebenarnya diungkapkan oleh penggunaan jari atau ketiadaannya, tentang perkembangan aritmatika anak-anak," kata Thevenot.

Untuk itu, Thevenot dan rekannya, Marie Krenger, mengikuti 211 anak di Swiss mulai dari usia 4,5 hingga 7,5 tahun. Mereka menilai bagaimana cara menghitung jari anak berubah seiring waktu dan hubungannya dengan kemampuan matematika.

Lebih lanjut, dua kali setahun, para peneliti meminta anak-anak mengerjakan hingga tiga rangkaian soal penjumlahan dengan tingkat kesulitan yang berbeda. Mulai dari menjumlahkan dua angka antara 1 dan 5, kemudian satu angka antara 1-5 dengan angka lain 6-9, hingga dua angka antara 6-9.

Pada setiap tes, peneliti hanya melanjutkan ke tingkat berikutnya jika anak bisa menjawab 80 persen dari rangkaian sebelumnya dengan benar, Bunda.

Kebiasaan menghitung pakai jari bantu anak menguasai angka

Para peneliti lalu merekam video anak-anak untuk melihat apakah mereka menggunakan jari saat mengerjakan penjumlahan. Nah dari pengamatan ini, terlihat bahwa perhitungan memakai jari paling sering terjadi pada usia sekitar 5,5 hingga 6 tahun.

Pada usia 7,5 tahun, sekitar 43 persen anak pernah menghitung pakai jari tetapi sekarang sudah tidak lagi, Bunda. Sementara itu, 50 persen masih menggunakan jari untuk berhitung dan hanya 7 persen yang belum pernah menghitung pakai jari sama sekali.

Secara keseluruhan, anak-anak yang paling pintar adalah mereka yang dahulu sering menghitung pakai jari tapi sekarang sudah bisa berhitung tanpa jari. Mereka lebih unggul dibandingkan dengan anak yang belum pernah menghitung pakai jari.

Menurut Thevenot, strategi ini sebaiknya tidak dilarang di sekolah karena justru bisa membantu anak beralih ke cara berhitung yang lebih cepat.

"Ini memiliki implikasi penting, karena menunjukkan bahwa tidak ada alasan untuk melarang anak-anak di sekolah menggunakan jari mereka untuk menyelesaikan soal aritmatika dengan alasan bahwa strategi ini dapat mencegah mereka beralih ke prosedur yang lebih cepat dan terinternalisasi setelah angka-angka menjadi terlalu besar untuk direpresentasikan dengan jari," ungkap Thevenot.

"Penelitian ini mendukung upaya mendorong anak-anak untuk menggunakan jari mereka dalam aritmatika tanpa takut mereka akan terjebak dalam strategi yang terbatas," lanjutnya.

Itulah penjelasan tentang anak-anak yang sering diremehkan karena menghitung pakai jari, padahal kebiasaan ini justru membuat mereka lebih pintar matematika. Semoga bisa membantu, ya.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(ndf/fir)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda