PARENTING
Stres Sejak Kecil Ternyata Bisa Mengubah Cara Otak Anak Memproses Emosi
Nadhifa Fitrina | HaiBunda
Rabu, 15 Apr 2026 09:30 WIBTidak semua hal yang terjadi di masa kecil terlihat berdampak saat itu juga. Namun, pengalaman tersebut bisa tersimpan dan berpengaruh pada perkembangan anak ke depannya, Bunda.
Di masa bayi hingga balita, otak anak sedang berkembang dengan begitu cepat. Pada tahap ini, anak mulai belajar mengenali emosi dan kehidupan di sekitarnya.
Pengalaman dan hubungan yang terjadi di masa awal kehidupan memang berperan dalam proses tersebut. Apa yang dialami anak bisa membentuk cara mereka belajar, mengatur emosi, dan berinteraksi dengan orang lain.
Dikutip dari Yahoo Health, penelitian selama puluhan tahun di bidang psikologi perkembangan dan ilmu saraf menunjukkan bahwa stres di usia dini tidak bisa kita anggap sepele. Terutama pada tahun-tahun pertama kehidupan, kondisi ini bisa memengaruhi perkembangan otak, perilaku, hingga kesejahteraan anak.
Hal ini turut menjadi perhatian para ahli yang mendalami perkembangan anak. Salah satunya adalah seorang profesor di University of Minnesota's Institute of Child Development dan direktur di Gunnar Lab for Developmental Psychobiology Research, Megan Gunnar.
Melalui berbagai penelitian yang dilakukannya, terungkap bahwa pengalaman sejak kecil memiliki pengaruh terhadap cara kerja otak. Bahkan, hal ini dapat memengaruhi bagaimana anak memproses emosi seiring bertambahnya usia.
Bagaimana stres sejak kecil memengaruhi cara anak memproses emosi?
Pada masa awal kehidupan, otak anak sedang dalam proses berkembang dan menyesuaikan diri. Di fase ini, otak bekerja membentuk berbagai kemampuan penting, termasuk dalam mengatur emosi.
Selama tahap tersebut, ada fase yang dikenal sebagai 'masa sensitif'. Pada periode ini, berbagai pengalaman yang dialami anak bisa membentuk pola yang akan menetap dalam perkembangan otaknya.
Artinya, apa yang terjadi di masa kecil bisa berdampak hingga jangka panjang. Hal ini juga termasuk dalam cara anak memproses emosi dan menghadapi berbagai situasi di kemudian hari.
Bicara soal ini, Megan menyampaikan bahwa kemampuan seperti mengendalikan diri dapat terus dilatih dan dikembangkan seiring bertambahnya usia, Bunda.
"Anda dapat melatih pengaturan diri sepanjang hidup Anda. Namun, akan lebih sulit di usia lanjut daripada di usia muda, tetapi kemampuan ini tidak akan pernah sepenuhnya hilang," ujarnya seperti dikutip dari Yahoo Health.
Tips mengenali tanda stres pada anak
Sebagai orang tua, mengenali stres pada anak sebenarnya tidak selalu harus dengan cara yang rumit. Tanda yang paling sering terlihat justru muncul dari perubahan perilaku anak.
Ketika anak mulai menunjukkan sikap yang berbeda, hal itu bisa menjadi tanda bahwa mereka sedang butuh perhatian dari Bunda dan Ayah. Misalnya, anak yang sebelumnya terlihat baik-baik saja tiba-tiba jadi lebih rewel atau bertingkah tidak seperti biasanya.
Perlu kita pahami bersama bahwa perilaku tersebut bukan berarti anak nakal, ya. Bisa jadi ada hal lain yang sedang mereka rasakan, seperti lapar, lelah, atau ada masalah yang mengganggu pikirannya.
Jika perubahan ini berlangsung cukup lama, orang tua harus lebih peka terhadap kondisi anak. Sikap yang lebih manja atau mudah rewel dapat menjadi tanda bahwa anak sedang merasa stres dan membutuhkan dukungan.
Cara terbaik orang tua merespons anak yang sedang stres
Dalam keseharian, orang tua biasanya lebih banyak memberikan larangan kepada anak, bukan begitu, Bunda? Misalnya, mengatakan "Jangan lakukan itu!" tanpa menjelaskan apa yang seharusnya dilakukan.
Guru prasekolah biasanya sudah terbiasa melakukan hal ini, Bunda. Mereka tidak hanya melarang saja, tapi juga memberi contoh perilaku yang lebih tepat. Mereka tidak mengatakan, "Berhenti membuat suara keras!", tapi mereka mengatakan, "Gunakan suara pelan, ya" supaya anak tahu perilaku yang diharapkan.
Menurut Megan Gunnar, ketika anak sedang merasa kesal, menanyakan langsung apa yang sedang terjadi itu tidak selalu mudah. Mereka biasanya belum bisa menjelaskan perasaannya dengan jelas.
"Ketika seorang anak merasa stres dan kesal, menanyakan apa yang salah bisa jadi agak sulit karena terkadang mereka sendiri tidak benar-benar tahu apa yang salah," tuturnya.
Nah, saat emosi anak sedang naik, pendekatan yang lembut sangat dibutuhkan, Bunda. Salah satunya dengan mengajak anak untuk duduk bersama dan mengatur napas perlahan.
Setelah anak lebih tenang, Bunda dan Ayah bisa mulai mendengarkan apa yang sedang mereka rasakan. Tidak hanya itu, orang tua juga sebaiknya menyesuaikan jawaban dengan cara berpikir anak.
"Hal lain yang menurut saya sangat penting untuk diingat oleh orang tua adalah saat anak bertanya, kita sering memahaminya dengan cara berpikir orang dewasa. Misalnya pertanyaan seperti 'Apa yang dilakukan orang jahat itu?', lebih baik orang tua menjawab dengan mengajak anak berpikir, seperti, 'Menurut kamu, apa yang sebenarnya terjadi?'" jelas Megan.
"Jadi, orang tua memberikan jawaban sesuai dengan pemahaman mereka, bukan hal besar yang mungkin jauh di luar apa yang mereka pikirkan," sambungnya.
Itulah penjelasan tentang stres sejak kecil yang ternyata bisa mengubah cara otak anak memproses emosi.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(ndf/fir)Simak video di bawah ini, Bun:
Tanda Anak Mengalami Child Grooming dan Alasan Mereka Tidak Melawan
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
5 Cara Ajarkan Anak Kenali Emosinya agar Tidak Sering Tantrum
8 Kesulitan Orang Tua saat Dampingi Anak Belajar di Rumah
6 Cara Mengendalikan Emosi pada Anak, Bunda Perlu Tahu
Pentingnya Ajarkan Pengendalian Emosi Anak Sejak Dini, Bunda Perlu Tahu
TERPOPULER
5 Potret Penampilan Tamara Bleszynski Hadiri Pernikahan Teuku Rassya, Curi Perhatian Netizen
Aturan Baru Main Game Roblox Khusus Anak Usia 5-12 Tahun di Indonesia
Hara Hachi Bu, Kebiasaan Makan Orang Jepang untuk Umur Panjang
Jangan Ucap 11 Kalimat Ini saat Ngobrol, Bikin Kamu Kurang Dihargai & Dihormati
Aturan Baru BPOM soal Batas Cemaran Mikroba Mie Instan & Minuman Serbuk
REKOMENDASI PRODUK
5 Rekomendasi Kebaya untuk Hari Kartini, Elegan dan Stylish
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
10 Rekomendasi Mesin Cuci 2 Tabung yang Awet & Hemat Listrik di Bawah Rp2 Jutaan
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
5 Rekomendasi Panci Stainless Steel yang Bagus dan Tahan Lama
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
5 Rekomendasi Susu Ibu Hamil yang Bagus dan Rasanya Enak
Tim HaiBundaREKOMENDASI PRODUK
7 Sofa Minimalis Harga di Bawah Rp2 Jutaan yang Nyaman & Bagus
Amira SalsabilaTERBARU DARI HAIBUNDA
Mau Punya Paspor Singapura? Ini Syarat di Tengah Target 30 Ribu Warga Baru
7 Potret Maternity Shoot Ochi Rosdiana Jelang Melahirkan Anak Pertama
Aturan Baru Main Game Roblox Khusus Anak Usia 5-12 Tahun di Indonesia
Diskon Hingga 50% di Trans Shopping Mall Pakai Allo Paylater, Bunda Sudah Belanja Hemat Hari Ini?
Hara Hachi Bu, Kebiasaan Makan Orang Jepang untuk Umur Panjang
FOTO
VIDEO
DETIK NETWORK
-
Insertlive
Bayaran Justin Bieber di Coachella 2026 Jadi yang Termahal, Tembus Rp170 M
-
Beautynesia
4 Ciri Kepribadian Orang yang Malas Mengantre untuk Apa pun
-
Female Daily
Mengenal Cycle Syncing, Cara Menyesuaikan Workout dan Diet dengan Siklus Menstruasi!
-
CXO
GOT7 Rilis Album Baru, Persiapan Harus Lewat Video Call Karena Hal Ini
-
Wolipop
Ria Miranda Kolaborasi dengan 3Mongkis, Eksplorasi Knit hingga Denim
-
Mommies Daily
Balita 1,5 Tahun Hipotermia di Gunung: Pelajaran Penting untuk Orang Tua