HaiBunda

PARENTING

3 Keterikatan Emosional Anak yang Bisa Diam-Diam Merusak Hidup Saat Dewasa

Nadhifa Fitrina   |   HaiBunda

Minggu, 24 May 2026 21:00 WIB
Ilustrasi Keterikatan Emosional Anak yang Bisa Diam-Diam Merusak Hidup Saat Dewasa/Foto: Getty Images/iStockphoto/szefei
Jakarta -

Bunda mungkin tak selalu menyadari, tetapi anak sebenarnya sedang membentuk cara pandangnya tentang diri sendiri dari banyak hal di sekitarnya. Setiap interaksi bisa punya arti besar bagi dirinya.

Seorang ahli saraf sekaligus penulis buku Breaking The Habit of Being Yourself dan You Are The Placebo, Dr. Joe Dispenza, menjelaskan bahwa ada pola keterikatan yang mulai terbentuk sejak anak masih sangat kecil.

Di masa ini, anak belum bisa mengerti semua hal seperti orang dewasa. Karena itu, apa yang ia lihat, dengar, dan rasakan dari lingkungan terdekat akan tersimpan dan membentuk cara ia melihat dirinya sendiri.


Seiring waktu, pengalaman yang terus berulang ini bisa membentuk kebiasaan dalam diri anak, Bunda. Tanpa kita sadari, kebiasaan ini bisa diam-diam merusak hidup mereka saat dewasa.

Keterikatan emosional anak yang diam-diam merusak hidup saat dewasa

Bunda perlu tahu, bahwa sejak kecil anak sebenarnya sudah membentuk keterikatan emosional tertentu. Menilik dari laman Your Tango, ada tiga keterikatan emosional yang diam-diam bisa merusak hidup anak saat dewasa. 

1. Terlalu fokus pada tubuh sendiri

Sejak kecil, anak bisa mulai terlalu fokus pada tubuhnya sendiri. Ia menjadi sangat sadar pada penampilan, rasa sakit, atau perubahan kecil pada dirinya yang sebenarnya masih wajar saja dalam proses tumbuh kembang.

Akhirnya, anak mudah merasa tidak nyaman dengan tubuhnya sendiri dan kerap membandingkan diri dengan orang lain. Hal ini tentu bisa membuatnya kurang percaya diri dalam menjalani kegiatan sehari-hari.

2. Terlalu bergantung pada lingkungan sekitar

Selanjutnya, anak juga bisa sangat terikat dengan lingkungan di sekitarnya sejak kecil. Ia merasa aman hanya ketika berada di situasi, tempat, atau orang yang sudah familier dan dikenalnya dengan baik.

Saat dewasa, ini bisa membuatnya sulit menghadapi perubahan dalam hidup. Setiap hal baru bisa terasa tidak nyaman dan butuh waktu lebih lama untuk beradaptasi.

3. Terlalu terikat pada konsep waktu

Ada juga anak yang sejak kecil sudah merasa dikejar oleh waktu. Bagaimana bisa, ya? Mereka selalu merasa harus cepat dalam melakukan banyak hal, misalnya takut tertinggal dari orang lain atau khawatir soal masa depan yang belum terjadi.

Ketika dewasa, hal ini bisa berubah menjadi tekanan dalam hidup. Mereka jadi sulit menikmati proses, karena terlalu sibuk memikirkan waktu dan merasa selalu ada yang harus dikejar.

Inilah tiga sisi keterikatan yang bisa memengaruhi anak saat dewasa. Sebagai orang tua, kita bisa lebih peka dalam mendampingi tumbuh kembang anak.

Terlebih saat ia menghadapi perubahan dalam dirinya maupun perubahan lingkungan agar ia tidak mudah kehilangan arah dalam menjalani hidupnya.

Saat tumbuh, cara anak melihat dirinya juga ikut terbentuk

Dalam buku berjudul Living Your Unlived Life: Coping with Unrealized Dreams and Fulfilling Your Purpose in the Second Half of Life karya seorang terapis asal Amerika, Robert A. Johnson, dijelaskan tentang bagaimana pengalaman hidup bisa membentuk cara seseorang memandang dirinya.

Kalau dikaitkan dengan anak, masa awal ini menjadi waktu yang penting, Bunda. Karena di sini, anak masih sangat mudah menyerap apa yang ia lihat, dengar, dan rasakan dari sekitarnya.

Di sisi lain, anak juga belum punya kemampuan untuk memilah mana yang harus disimpan dan mana yang tidak. Jadi, semua pengalaman terasa sama pentingnya bagi dirinya.

Seiring waktu, hal-hal yang terus ia alami akan menjadi bagian dari cara ia bersikap. Tentu saja, hal ini bisa terbawa sampai ia tumbuh besar lho, Bunda.

Seorang pelatih kehidupan pemulihan bersertifikat dan pembicara asal Amerika Serikat, Greg Boudle, juga mengatakan bahwa setiap perjalanan hidup sebenarnya sudah membentuk seseorang.

Pada akhirnya, ada masa ketika seseorang mulai lebih mengenal hidupnya dengan cara yang lebih tenang, bukan lagi dari penilaian dari orang lain, tetapi dari kesadaran diri sendiri, Bunda.

Itulah penjelasan mengenai keterikatan emosional anak yang bisa diam-diam memengaruhi hidup mereka saat dewasa. Semoga bisa membantu Bunda dalam mendampingi tumbuh kembang anak, ya.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(ndf/fir)

Simak video di bawah ini, Bun:

Ingin Anak Sukses? Ini 5 Kalimat yang Harus Dihindari Orang Tua Menurut Ahli

TOPIK TERKAIT

ARTIKEL TERKAIT

TERPOPULER

Luna Maya Bangun Sekolah di Maumere, Dapat Support Mendiang Tante yang Ikut Donasi

Mom's Life Annisa Karnesyia

Korea Selatan Beri Bantuan Produk Ramah Lingkungan bagi Ibu Hamil & Menyusui, Ini Tujuannya

Kehamilan Melly Febrida

Cara Mengenali Orang yang Suka Cari Perhatian dari Ucapan Sehari-hari

Mom's Life Amira Salsabila

Perempuan Indonesia Bersinar, Desak Rita Berhasil Jadi Atlet Panjat Tebing Nomor 1 Dunia

Mom's Life Amira Salsabila

7 Cara Mengenali Orang yang Punya Kecerdasan Emosional dari Cara Bicaranya

Mom's Life Amira Salsabila

REKOMENDASI
PRODUK

TERBARU DARI HAIBUNDA

Luna Maya Bangun Sekolah di Maumere, Dapat Support Mendiang Tante yang Ikut Donasi

In This Economy, Apakah Tepat Membeli Perangkat Rumah Tangga Tenaga Surya? Simak Perhitungannya, Bun

Korea Selatan Beri Bantuan Produk Ramah Lingkungan bagi Ibu Hamil & Menyusui, Ini Tujuannya

Momen Pertama Si Buah Hati Bertemu Teman dan Guru Baru, Begini Cara Bantu agar Lebih Percaya Diri

Cara Mengenali Orang yang Suka Cari Perhatian dari Ucapan Sehari-hari

FOTO

VIDEO

DETIK NETWORK