HaiBunda

PARENTING

Ketahui Tanda-tanda Overstimulasi pada Bayi & Cara Mengatasinya

Kinan   |   HaiBunda

Rabu, 17 Jun 2026 15:40 WIB
Ilustrasi overstimulasi pada bayi/Foto: Getty Images/damircudic
Jakarta -

Ketika anak mendapatkan terlalu banyak stimulasi berlebihan, ia bisa mengalami overstimulasi lho, Bunda. Dampaknya kemudian bisa memicu tantrum atau perubahan emosi.

Hal ini karena ketika anak menerima terlalu banyak rangsangan sensorik, mereka rentan merasa lelah sampai kemudian mencapai batas toleransinya.

Meski perubahan perilaku ini terkadang terlihat muncul secara mendadak, biasanya ada beberapa tanda yang menunjukkan bahwa anak akan segera mengalami 'ledakan' emosi. Nah, kondisi ini dikenal sebagai overstimulasi.


Apa itu overstimulasi?

"Overstimulasi terjadi ketika bayi atau anak mengalami lebih banyak rangsangan daripada yang dapat mereka tangani atau biasa rasakan," ungkap dokter anak, Kevin Kathrotia, dikutip dari Healthline. 

Menurut Kathrotia, stimulasi berlebihan pada bayi cukup sering terjadi. Tepatnya paling umum pada usia sekitar 2 minggu hingga 3-4 bulan. 

Selain itu, anak-anak yang usianya lebih tua juga bisa mengalami overstimulasi. Misalnya, Bunda mungkin pernah melihat Si Kecil mengalami tantrum setelah seharian bermain di luar bersama teman dan keluarga.

Setiap individu memiliki kapasitas dan batas toleransi yang berbeda-beda. Kondisi ini juga berlaku pada anak-anak sesuai dengan tahap perkembangan usianya, Bunda.

Tanda-tanda overstimulasi pada bayi dan anak

Sering kali overstimulasi tidak disebabkan oleh satu faktor saja, melainkan kombinasi dari beberapa hal.

"Seorang anak mungkin bisa berada di taman yang ramai pada satu kesempatan, tapi di waktu lain merasa overstimulasi. Misalnya saat kurang tidur atau melewatkan jam makan," ujar analis perilaku, Kerri Milyko, PhD, BCBA-D, LBA (NV), dikutip dari Parents.

Overstimulasi dapat terlihat berbeda pada setiap anak. Namun, beberapa tanda umum yang dapat muncul pada bayi misalnya seperti:

  • Menangis lebih keras dari biasanya
  • Menolak sentuhan atau memalingkan kepala saat disentuh
  • Ingin terus digendong
  • Ingin menyusu lebih sering
  • Sangat rewel
  • Mengepalkan tangan atau menggerakkan tangan dan kaki
  • Tampak ketakutan
  • Mengalami tantrum
  • Bergerak dengan cepat atau tersentak-sentak
  • Terlihat sangat lelah
  • Melakukan upaya menenangkan diri, seperti mengisap atau mengepalkan tangan

Penyebab overstimulasi pada bayi

Berikut beberapa hal yang bisa menjadi penyebab overstimulasi pada bayi:

1. Faktor lingkungan

Sebagian bayi mudah merasa kewalahan saat berada di tempat yang bising, ramai, memiliki pencahayaan terang, atau penuh warna mencolok. Semua stimulasi ini bisa membuat mereka lebih cepat lelah dan bahkan pusing.

2. Screentime berlebihan

Penggunaan gadget dan screentime berlebihan, termasuk dari televisi, ponsel, dan perangkat elektronik lainnya dapat menjadi 'terlalu berat' untuk diproses otak bayi. Terutama saat usia mereka masih di bawah 18 bulan. 

Oleh sebab itu, World Health Organization (WHO) merekomendasikan untuk menghindari penggunaan gadget pada bayi.

3. Terlalu banyak aktivitas

Kegiatan memang penting untuk pertumbuhan dan perkembangan bayi. Tapi jika terlalu banyak, ini justru rentan membuat mereka overstimulasi dan kewalahan.

4. Melewatkan waktu tidur

Melewatkan waktu tidur, baik tidur siang atau tidur terlalu larut malam juga bisa menjadi penyebab overstimulasi. Rasa lelah yang berlebihan dapat dengan cepat membuat bayi mengalami kelelahan.

5. Perubahan rutinitas

Bayi sangat menyukai rutinitas. Dengan memprediksi, mereka jadi punya rasa aman tersendiri. Adanya perubahan jadwal dapat membuat mereka menjadi lebih rewel.

6. Terlalu banyak orang

Sebagian bayi senang bertemu banyak orang, tetapi sebagian lainnya bisa cepat merasa kewalahan ketika bertemu wajah-wajah baru. Ada juga anak yang sangat merasa tidak nyaman atau bahkan kewalahan saat berada di tengah keramaian.

7. Tumbuh gigi

Meski hanya bersifat sementara, proses tumbuh gigi dapat membuat bayi merasa tidak nyaman sehingga lebih sensitif terhadap berbagai rangsangan di sekitarnya.

Cara mengatasi bayi overstimulasi

Ilustrasi cara mengatasi bayi overstimulasi/Foto: Getty Images/iStockphoto/monzenmachi

Untuk membantu mengatasi bayi yang mengalami overstimulasi, berikut beberapa cara yang bisa Bunda lakukan:

1. Jauhkan bayi dari situasi ramai

Saat menyadari Si Kecil sudah kewalahan, langkah paling awal yang perlu dilakukan adalah memindahkannya ke lingkungan yang lebih tenang dan redup.

Contohnya seperti kamar bayi atau ruangan yang tidak silau dan tenang di rumah. Bisa juga berupa stroller atau bahkan carseat, yang penting bayi dibawa jauh dari suasana ramai.

Pastikan suasana di sekitar tetap tenang dan ajak bayi berbicara dengan suara yang lembut serta menenangkan.

2. Membedong

Bunda juga dapat mempertimbangkan untuk membedong bayi. Membedong memberikan tekanan yang stabil, meniru kenyamanan saat berada di dalam rahim, serta membantu mengurangi refleks kaget yang bagi sebagian bayi terasa menenangkan.

3. Tenangkan dengan white noise

Bunda juga bisa memutar musik yang lembut atau menggunakan mesin suara maupun white noise. Hal yang terpenting, hindari penggunaan televisi atau memberikan ponsel untuk bayi.

Para ahli sepakat bahwa screentime juga bisa memicu overstimulasi bagi anak di bawah usia 2 tahun.

4. Menggendong bayi

Sebagian bayi ingin digendong atau disentuh ketika merasa kewalahan, tetapi banyak juga yang justru tidak menginginkannya.

Menurut Kathrotia, bayi yang berada pada fase purple crying dalam perkembangannya, yakni sekitar usia 2 minggu hingga 4 bulan, dapat menolak sentuhan atau pelukan ketika mengalami overstimulasi. Hal ini karena bagi mereka, justru hal itulah yang membuat semakin kewalahan.

Jika Si Kecil tampak tidak nyaman dengan sentuhan Bunda, baringkan ia telentang di tempat yang aman seperti tempat tidurnya. Pastikan Bunda tetap berada di dekatnya sampai ia kembali tenang.

5. Lakukan aktivitas yang menenangkan

Dikutip dari The Bump, Bunda juga bisa mengajak Si Kecil melakukan aktivitas yang tenang, seperti membacakan buku atau memeluknya.

Jika memungkinkan, pastikan juga lingkungan di sekitar anak juga tidak dulu terlalu bising. 

Kapan harus konsultasi ke dokter?

Sesekali mengalami overstimulasi sebenarnya merupakan hal yang wajar bagi bayi. Namun dalam beberapa kasus, overstimulasi yang terlalu sering terjadi bisa menjadi tanda adanya kondisi lain, seperti gangguan pemrosesan sensorik atau autisme.

Bunda sebaiknya mendiskusikan kondisi tersebut dengan dokter apabila:

  • Perilaku anak mengganggu aktivitas dan rutinitas sehari-hari
  • Anak mengalami kesulitan bergerak atau berdiri
  • Reaksi anak terlalu sulit ditangani tanpa bantuan profesional

Selain itu, pastikan anak tetap menjalani pemeriksaan kesehatan rutin agar dokter dapat memantau perkembangan dan perilakunya. Semoga bermanfaat ya, Bunda.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(fir/fir)

Simak video di bawah ini, Bun:

5 Hal yang Diingat Anak Seumur Hidup dari Orang Tua

TOPIK TERKAIT

ARTIKEL TERKAIT

TERPOPULER

9 Tanda Seseorang Lebih Cerdas dari Rata-rata Meski Tak Pernah Tes IQ

Mom's Life Amira Salsabila

5 Kebiasaan yang Dilakukan Orang Bahagia Menurut Psikolog

Mom's Life Annisa Karnesyia

Kocak, Rigen Rakelna Tertidur saat Istri Alami Kontraksi Persalinan Anak Keempat

Kehamilan Amrikh Palupi

Anak Laki-laki Suka Main Game? Simak Manfaat dan Risikonya Menurut Ahli

Parenting Indah Ramadhani

Karina Ranau Istri Almarhum Epy Kusnandar Didorong oleh Pria di Warung, Simak Kronologinya

Mom's Life Pritadanes

REKOMENDASI
PRODUK

TERBARU DARI HAIBUNDA

15 Dongeng Romantis Sebelum Tidur yang Mengajarkan Anak Kasih Sayang dan Empati

Pusing karena Hamil atau Sekadar Kelelahan? Kenali Perbedaannya

9 Tanda Seseorang Lebih Cerdas dari Rata-rata Meski Tak Pernah Tes IQ

Teknik Marmet, Cara Memerah ASI dengan Tangan yang Praktis dan Efektif

Resep Sapi Lada Hitam Lezat dan Praktis, Rasanya Tak Kalah dari Restoran

FOTO

VIDEO

DETIK NETWORK