HaiBunda

PARENTING

Fimosis pada Anak Laki-Laki: Ketahui Gejala, Penyebab, dan Pengobatannya

Kinan   |   HaiBunda

Senin, 22 Jun 2026 18:30 WIB
Ilustrasi/Foto: Getty Images/comzeal
Jakarta -

Fimosis pada anak laki-laki menjadi salah satu hal yang cukup umum dialami, jika anak belum disunat. Bagaimana cara pengobatannya? Apakah ini berbahaya?

Sebenarnya fimosis merupakan kondisi yang normal terjadi pada anak laki-laki. Namun, hal ini perlu mendapat perhatian khusus segera jika mulai menimbulkan gangguan bagi keseharian anak. Termasuk jika sampai menimbulkan keluhan seperti demam, nyeri atau sulit buang air kecil.

Fimosis yang umum terjadi pada bayi dan anak-anak adalah fimosis fisiologis, yaitu kondisi pelepasan kulit yang belum sempurna. Sementara itu, fimosis patologis disebabkan oleh jaringan parut, infeksi, atau peradangan. 


Apa itu fimosis?

Dikutip dari Web MD, fimosis adalah kondisi ketika kulup (foreskin) tidak dapat ditarik ke belakang dari kepala penis. Kondisi ini biasanya terjadi pada laki-laki yang belum disunat.

Kulup sendiri merupakan jaringan kulit yang menutupi kepala penis. Bayi laki-laki terlahir dengan kulup yang masih rapat, sehingga perlu 'diangkat' melalui prosedur sirkumsisi atau sunat.

Jika dibiarkan tetap ada, seiring pertumbuhan anak nantinya kulup akan secara bertahap menjadi lebih longgar. 

Biasanya, sekitar usia 6 tahun kulup sudah dapat ditarik ke belakang sepenuhnya untuk buang air kecil dan membersihkan area di bawahnya. Namun dalam kasus yang jarang terjadi, kulup dapat tetap rapat hingga masa remaja. 

Apa perbedaan fimosis dan parafimosis?

Fimosis terkadang dapat menyebabkan kondisi berbahaya yang disebut parafimosis. Kondisi ini terjadi ketika kulup tersangkut di belakang kepala penis, sehingga tidak dapat dikembalikan ke posisi semula.

Hal ini dapat terjadi ketika kulup yang ketat dipaksa untuk ditarik ke belakang. Jika dibiarkan, parafimosis dapat menghambat aliran darah ke penis dan memerlukan penanganan medis segera.

Penyebab fimosis pada anak laki-laki

Pada bayi dan anak-anak, fimosis merupakan kondisi bawaan yang umumnya akan membaik dengan sendirinya seiring pertumbuhan. Kondisi ini disebut fimosis fisiologis.

Sementara itu, ada jenis lain yakni fimosis patologis, yang muncul disebabkan oleh faktor lain seperti:

1. Jaringan parut

Infeksi dapat menyebabkan terbentuknya jaringan parut pada kulup, sehingga kulit menjadi kurang elastis. Jaringan yang mengeras tersebut juga dapat menyulitkan kulup untuk ditarik ke belakang.

2. Cedera

Jangan menarik atau menggerakkan kulup secara paksa. Menarik atau meregangkan kulup berlebihan dapat menyebabkan robekan kecil dan peradangan, yang pada akhirnya memicu fimosis.

Selain itu, ada beberapa faktor risiko fimosis pada bayi dan anak laki-laki, seperti:

  • Eksim: Kondisi jangka panjang yang menyebabkan kulit menjadi gatal, merah, kering, dan pecah-pecah.
  • Psoriasis: Kondisi kulit yang menyebabkan munculnya bercak kulit berwarna merah, bersisik, dan berkerak.
  • Lichen planus: Ruam gatal yang dapat memengaruhi berbagai area tubuh.
  • Lichen sclerosus: Kondisi yang dapat menyebabkan terbentuknya jaringan parut pada kulup sehingga meningkatkan risiko terjadinya fimosis.

Tanda dan gejala fimosis pada anak

Dikutip dari Children's Health, gejala utama fimosis adalah tampilan fisik kulup yang tidak dapat ditarik sepenuhnya dari kepala penis.

Gejala lainnya dapat meliputi:

  • Perdarahan atau infeksi di sekitar kulup
  • Nyeri saat buang air kecil
  • Pembengkakan di sekitar kulup
  • Muncul reaksi infeksi seperti demam

Pemeriksaan dan diagnosis fimosis pada anak

Dokter biasanya akan menanyakan gejala yang dialami anak, beserta riwayat kesehatannya. Anak juga akan menjalani pemeriksaan fisik, termasuk pemeriksaan pada penis dan kulup.

Bagaimana pengobatan fimosis?

Penanganan akan bergantung pada gejala yang dialami anak, usia, kondisi kesehatan secara umum, serta tingkat keparahan kondisi yang dialami.

Pengobatan fimosis fisiologis

Jenis fimosis ini biasanya dapat membaik dengan sendirinya, Bunda. Seiring bertambahnya usia anak, kulup akan perlahan terlepas dari kepala penis. Oleh karena itu, kondisi ini umumnya tidak memerlukan pengobatan khusus.

Pengobatan fimosis patologis

Untuk menangani kasus fimosis patologis, beberapa cara yang dapat dilakukan yakni:

1. Steroid topikal

Penggunaan steroid topikal pada kulup merupakan salah satu metode pengobatan yang efektif. Tapi penggunaannya hanya boleh dilakukan atas resep dokter. Efek pengobatan ini juga bersifat sementara.

Dalam beberapa kasus, kondisi fimosis dapat muncul kembali beberapa bulan setelah pengobatan selesai.

2. Sirkumsisi (sunat)

Jika kulup masih tidak dapat ditarik ke belakang setelah penggunaan steroid topikal, dokter mungkin akan menyarankan prosedur sirkumsisi atau sunat.

Sirkumsisi adalah prosedur pengangkatan kulup yang bertujuan menghilangkan bagian kulup yang menyempit.

Bagaimana cara mencegah fimosis?

Pastikan perawatan kulup dilakukan dengan benar untuk membantu mencegah fimosis patologis. Biasanya kulup dapat mulai dapat ditarik ke belakang secara alami pada usia yang berbeda-beda pada setiap anak.

Menarik kulup secara rutin tidak dianjurkan sebelum kulup dapat diretraksi secara alami. Jika ditarik secara paksa, ini dapat memperburuk fimosis.

Tips membersihkan kulup 

Sebelum kulup dapat ditarik ke belakang secara alami, bersihkan kulup dan penis anak menggunakan sabun serta air hangat saat mandi. Setelah itu, keringkan area tersebut secara menyeluruh menggunakan handuk.

Nantinya setelah kulup dapat ditarik ke belakang secara alami, cara membersihkannya yakni:

  • Tarik kulup ke belakang dengan lembut dan ditarik secara paksa, karena bisa menyebabkan nyeri dan bahkan luka. 
  • Bersihkan bagian bawah kulup menggunakan sabun dan air saat mandi.
  • Bilas dan keringkan area di bawah kulup sampai bersih dan kering.
  • Tarik kembali kulup secara perlahan hingga menutupi kepala penis. Kulup tidak boleh dibiarkan dalam posisi tertarik ke belakang.

Seiring bertambahnya usia anak, ajarkan kebiasaan untuk merawat dan menjaga kebersihan kulupnya dengan baik. 

Perawatan kulup yang tepat merupakan bagian penting dari kebersihan dan kesehatan diri bagi anak laki-laki.

Itulah penjelasan tentang fimosis pada anak laki-laki, mulai dari gejala, penyebab, dan pengobatannya. Semoga bermanfaat ya, Bunda!

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(fir/fir)

Simak video di bawah ini, Bun:

Lebih Sering Berantem saat Punya Anak, Normalkah?

TOPIK TERKAIT

ARTIKEL TERKAIT

TERPOPULER

10 Hal yang Tidak Disukai Gen Z dari Cara Kerja Gen X dan Boomer di Tempat Kerja

Mom's Life Amira Salsabila

Potret Ashanty & Anang Wisuda Bareng Azriel, Raih Gelar S2 hingga S3

Mom's Life Amira Salsabila

Terobosan Baru IVF, Peneliti Kembangkan Sperma Bermagnet untuk Bantu Pembuahan

Kehamilan Annisa Aulia Rahim

Fimosis pada Anak Laki-Laki: Ketahui Gejala, Penyebab, dan Pengobatannya

Parenting Kinan

Cara Mengenali Orang Elegan dan Punya Kecerdasan Tinggi dari Ucapan Sehari-hari

Mom's Life Annisa Karnesyia

REKOMENDASI
PRODUK

TERBARU DARI HAIBUNDA

10 Hal yang Tidak Disukai Gen Z dari Cara Kerja Gen X dan Boomer di Tempat Kerja

Terobosan Baru IVF, Peneliti Kembangkan Sperma Bermagnet untuk Bantu Pembuahan

Potret Ashanty & Anang Wisuda Bareng Azriel, Raih Gelar S2 hingga S3

Cerita Bunda Trauma usai Keguguran, Tak Dapat Bantuan Medis & Diminta Simpan Janin di Kulkas

Fimosis pada Anak Laki-Laki: Ketahui Gejala, Penyebab, dan Pengobatannya

FOTO

VIDEO

DETIK NETWORK