PARENTING
7 Kebiasaan Orang Tua yang Membuat Anak Menyembunyikan Perasaannya
Annisa Karnesyia | HaiBunda
Rabu, 08 Jul 2026 18:20 WIBTidak semua anak mampu mengungkapkan apa yang mereka rasakan, Bunda. Sebagian memilih memendam emosi, sehingga orang tua perlu lebih peka mengenali tanda ketika anak memilih untuk menyembunyikan perasaannya.
Menurut psikoterapis Victoria Grinman, PhD, LCSW-R, anak menyembunyikan perasaannya mungkin karena merasa tidak aman untuk berkomunikasi secara bebas. Salah satu penyebabnya bisa karena pola yang sudah terbentuk sejak lama.
"Anak-anak belajar sejak dini apakah emosi mereka ditanggapi dengan rasa ingin tahu atau koreksi," kata Grinman, dilansir Parents.
"Jika seorang anak merasa bahwa kerentanannya ditanggapi dengan kritik, perbaikan, hukuman, atau bahkan tekanan berlebihan dari orang tua, mereka mungkin secara tidak sadar memutuskan bahwa lebih aman untuk memendam perasaan tersebut," sambungnya.
Ya, kebiasaan yang orang tua memang dapat memengaruhi keputusan anak untuk menyembunyikan perasaannya, Bunda. Mengenali kebiasaan ini sangat penting untuk koreksi diri agar pola pengasuhan berjalan baik.
Lantas, apa saja kebiasaan orang tua yang membuat anak suka menyembunyikan perasaannya? Simak penjelasannya berikut ini ya.
Kebiasaan orang tua yang bikin anak tertutup
Dilansir dari laman Times of India, berikut kebiasaan-kebiasaan orang tua yang bisa bikin anak jadi pribadi tertutup:
1. Mengabaikan emosi terlalu cepat
Orang tua yang sering mengabaikan emosi terlalu cepat bisa membuat anaknya merasa tidak aman. Pengabaian emosi ini bisa dalam bentuk ucapan, seperti "Itu bukan apa-apa" atau "Berhenti menangis, itu bukan masalah besar."
Orang tua sering mengatakan itu dengan niat baik, berharap untuk menenangkan anak atau mengatasi kekecewaan kecil. Namun bagi anak, pesan tersebut dapat diterima dengan sangat berbeda. Mereka merasa emosinya diabaikan.
Ketika perasaan terlalu sering diabaikan, anak-anak mulai meragukan sinyal emosional mereka sendiri. Mereka belajar bahwa mengekspresikan rasa sakit tidak akan membawa kenyamanan. Akhirnya, mereka berhenti mengungkapkan perasaan itu sama sekali.
2. Hanya memberi penghargaan pada emosi yang dianggap 'gampang'
Banyak orang tua bersikap hangat dan penuh kasih sayang ketika seorang anak ceria, patuh, atau penyayang. Namun suasana berubah ketika anak tantrum, cemburu, cemas, atau frustrasi. Tiba-tiba anak tersebut digambarkan sebagai sosok yang dramatis, kasar, atau sensitif.
Ketika anak-anak berulang kali menerima pesan bahwa hanya emosi tertentu yang dapat diterima, mereka mulai memisahkan pengalaman batin mana yang yang aman untuk diungkapkan dan mana yang harus tetap tersembunyi. Akhirnya, anak merasa harus menutup diri ketika mengalami perasaan yang dianggap buruk oleh orang tuanya.
Perlu diketahui, anak-anak belajar untuk menyaring apa yang mereka ungkapkan berdasarkan bagaimana orang dewasa merespons. Seiring waktu, penyaringan emosi ini dapat mempersulit anak-anak untuk mengenali, memahami, dan mengkomunikasikan perasaan mereka dengan cara yang sehat.
3. Mengubah perasaan menjadi masalah disiplin
Bunda sering mendisiplinkan Si Kecil saat melakukan kesalahan? Sebelum melakukannya, pahami dulu perbedaan antara mengoreksi perilaku dan menghukum emosi.
Seorang anak dapat diajari bahwa memukul itu salah tanpa harus diberi tahu bahwa kemarahan itu sendiri salah. Seorang anak menangis, dan sering kali orang tua meresponsnya dengan hukuman. Seorang anak berkata, "Aku marah" dan orang tua meresponsnya dengan berkata, "Jangan membantah."
Ketika setiap perasaan yang kuat diperlakukan sebagai pembangkangan, anak-anak belajar untuk memutuskan hubungan dengan apa yang mereka rasakan bahkan sebelum mereka berbicara. Mereka mungkin berhenti menggunakan bahasa emosional sama sekali, karena mengungkapkan perasaan tampaknya bisa berujung pada masalah.
4. Orang tua suka berpura-pura baik-baik saja saat mengalami kesulitan
Anak-anak lebih banyak mengamati daripada mendengar. Jika mereka melihat orang dewasa menekan amarah, menyangkal kesedihan, atau berpura-pura semuanya baik-baik saja padahal tidak, mereka akan cepat menyerap pola tersebut.
Pikiran anak-anak sering mempelajari kebiasaan emosional melalui pengamatan daripada instruksi. Bahkan pada momen-momen biasa, seperti bagaimana orang tua menanggapi frustrasi atau meminta maaf setelah perselisihan, anak secara diam-diam membentuk pemahamannya tentang emosi.
Pengalaman berulang tersebut dapat menjadi bagian dari 'cetak biru' emosional yang anak bawa hingga masa remaja dan dewasa. Orang tua yang tidak pernah membicarakan stres, tidak pernah mengakui kekecewaan, dan tidak pernah menunjukkan kerentanan mungkin tampak tenang, tetapi anak dapat menirunya sebagai perilaku memendam perasaan.
5. Orang tua tanpa sadar menjadikan anak sebagai tameng dari masalah
Beberapa anak belajar menyembunyikan perasaan bukan karena emosi mereka ditolak, tetapi karena mereka menjadi 'pengasuh yang penuh perhatian' bagi orang tuanya. Jika orang tua kewalahan, rapuh, atau mudah tersinggung, anak mungkin dengan cepat memahami bahwa mengekspresikan kesedihan atau ketakutan akan menambah tekanan.
Alih-alih mengungkapkan perasaan, anak tumbuh menjadi pribadi yang pendiam dan tenang. Mereka menelan keluhan dan berhenti bertanya. Mereka belajar membaca situasi dan mengatur kenyamanan orang lain sebelum memperhatikan kenyamanan dirinya sendiri. Ini adalah keterampilan yang berat untuk dipikul seorang anak, dan sering kali dimulai dengan cinta yang bercampur dengan rasa takut.
6. Memberikan solusi secara berlebihan sebelum mendengarkan
Ketika anak-anak mulai terbuka, banyak orang tua langsung memberikan nasihat. Mereka berkata, "Abaikan saja mereka" atau "Berpikirlah positif". Niatnya sering kali bermanfaat karena orang tua ingin menyelesaikan masalah dengan cepat. Tak sedikit di antaranya menganggap itu sebagai bentuk kasih sayang.
Namun tanpa disadari, dengan melakukan itu, orang tua terkadang mengabaikan tindakan sederhana, yakni mendengarkan anak. Padahal, anak ingin didengarkan terlebih dulu sebelum orang tua memberi solusi.
Ketika setiap pengungkapan emosi disambut dengan ceramah atau nasihat, anak belajar bahwa perasaan itu merepotkan. Akhirnya, mereka memutuskan untuk menyembunyikan perasaannya.
7. Menggunakan rasa malu untuk mengendalikan ekspresi
Cara kita melontarkan kalimat ke anak bisa memengaruhi cara pikirnya dalam mengungkap emosi. Komentar seperti "Kamu terlalu tua untuk menangis" atau "Mengapa kamu begitu lemah?", tidak hanya mengoreksi perilaku, tetapi juga melekatkan rasa malu pada emosi itu sendiri.
Rasa malu dapat memberi tahu seorang anak bahwa bukan hanya perasaannya yang salah, tetapi mereka juga salah karena merasakannya. Pesan itu dapat bertahan selama bertahun-tahun. Banyak orang dewasa yang kesulitan mengekspresikan diri mereka sendiri berawal dari belajar bahwa kerentanan mengundang ejekan, bukan perhatian.
Itulah kebiasaan-kebiasaan orang tua yang membuat anak suka menyembunyikan perasaannya. Semoga informasi ini bermanfaat ya, Bunda.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(ank/fir)Simak video di bawah ini, Bun:
5 Hal yang Diingat Anak Seumur Hidup dari Orang Tua
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
6 Kebiasaan Orang Tua yang Tak Disadari Bisa Merugikan Anak di Masa Depan Menurut Pakar
4 Kebiasaan Orang Tua Menurut Pakar Harvard yang Bikin Anak Mandiri dan Sukses
20 Perbuatan Orang Tua yang Tanpa Disadari Menyakiti Hati Anak, Hindari ya Bun
Kini Jadi Psikolog, Caca Tengker Tak Ingin Andalkan Teori dalam Mengasuh Anak
TERPOPULER
Cara Mengenali Seseorang Punya Kepercayaan Diri Tinggi dari Kebiasaan Sehari-hari
7 Kebiasaan Orang Tua yang Membuat Anak Menyembunyikan Perasaannya
Cara Membuat Yogurt di Rumah yang Mudah, Enak & Hemat
Ternyata Begini Cara Anne Hathaway Sembunyikan Kehamilan kala Promosi Devil Wears Prada 2
Jangan Salah Paham! Ini Ciri Orang dengan IQ Tinggi yang Sering Dianggap sebagai Kekurangan
REKOMENDASI PRODUK
7 Rekomendasi Curling Iron Terbaik, Cocok untuk Styling Rambut Sehari-hari
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
5 Rekomendasi Panci Kukus Dandang Bakso yang Bagus
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
5 Rekomendasi Botol Minum Tali Panjang untuk Anak TK, Awet & Mudah Dibersihkan
Nadhifa FitrinaREKOMENDASI PRODUK
7 Rekomendasi Sendok Panci dan Centong Stainless Steel yang Bagus
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
5 Contoh Name Tag MPLS untuk PAUD, SD, SMP, dan SMA yang Kreatif
Nadhifa FitrinaTERBARU DARI HAIBUNDA
7 Persiapan Persalinan yang Perlu Dilakukan Ibu Hamil Sebelum Melahirkan
Cara Mengenali Seseorang Punya Kepercayaan Diri Tinggi dari Kebiasaan Sehari-hari
Cara Membuat Yogurt di Rumah yang Mudah, Enak & Hemat
7 Kebiasaan Orang Tua yang Membuat Anak Menyembunyikan Perasaannya
Ternyata Begini Cara Anne Hathaway Sembunyikan Kehamilan kala Promosi Devil Wears Prada 2
FOTO
VIDEO
DETIK NETWORK
-
Insertlive
Biasa Duet dengan KD, Lyodra Kagum Bisa Kolaborasi bareng Amora Isi OST 'Moana'
-
Beautynesia
5 Ciri Kepribadian Orang Dilihat dari Dekorasi Rumahnya
-
Female Daily
Rambut Rontok Setelah Diet? Kenali Penyebab dan Cara Mengatasinya
-
CXO
GOT7 Rilis Album Baru, Persiapan Harus Lewat Video Call Karena Hal Ini
-
Wolipop
Gaya Klasik Shandy Aulia di Dior Haute Couture Paris, Pose Bareng Han So Hee
-
Mommies Daily
Realita Menjadi Orang Tua: 12 Hal yang Dulu Bilang “Nggak Akan Aku Lakukan”, Ternyata Dilakukan Juga