HaiBunda

PARENTING

Mengenal Apa Itu Food Noise yang Bisa Terjadi pada Anak

Kinan   |   HaiBunda

Rabu, 15 Jul 2026 09:20 WIB
Ilustrasi anak makan/Foto: Getty Images/iStockphoto/Nattakorn Maneerat
Jakarta -

Anak terus-menerus membicarakan makanan, selalu memikirkan camilan berikutnya, atau ingin makan meski baru saja selesai makan? Hal ini mungkin disebabkan oleh fenomena yang kini dikenal sebagai food noise.

Meski istilah ini masih tergolong baru, para ahli menyebut food noise dapat memengaruhi kesehatan fisik hingga emosional, bahkan pola makan anak. 

Nah, orang tua pun memiliki peran penting untuk membantu anak mengelola kondisi ini sejak dini.


Apa itu food noise?

Food noise merupakan konsep yang masih tergolong baru, sehingga belum memiliki definisi yang baku. Namun dikutip dari Good Rx, beberapa ahli mendefinisikannya sebagai pikiran tentang makanan yang terus-menerus muncul.

Berbeda dengan pikiran soal makanan yang biasa, pada food noise ini terjadi secara konstan dan bahkan sampai mengganggu aktivitas sehari-hari. Anak jadi sulit menjalani kebiasaan hidup sehat.

Kondisi ini dapat berupa 'suara' yang muncul di dalam pikiran, yang terus membahas apa yang akan dimakan, kapan harus makan, di mana akan makan, berapa banyak yang harus dimakan, dan sebagainya.

Food noise dapat menyebabkan seseorang:

  • Makan meskipun sebenarnya tidak lapar
  • Sering terdistraksi oleh pikiran yang terus-menerus tentang makanan
  • Berbelanja makanan beberapa kali dalam sehari
  • Memikirkan menu makan berikutnya saat masih menyantap makanan yang sedang dimakan

Bagaimana food noise memengaruhi kehidupan sehari-hari?

Pikiran yang terus-menerus dipenuhi oleh makanan dapat berdampak pada kesehatan fisik maupun mental seseorang. 

Kondisi ini berisiko dapat menyebabkan:

  • Kenaikan berat badan yang tak terkendali
  • Kesulitan menurunkan berat badan
  • Masalah kesehatan yang berkaitan dengan berat badan, seperti diabetes atau hipertensi
  • Gangguan pola makan
  • Kecemasan dan risiko depresi

Food noise pada anak

Tak cuma pada orang dewasa, para ahli juga mengatakan bahwa food noise dapat terjadi pada anak-anak. 

"Food noise merupakan 'suara' yang muncul terus-menerus dan mengganggu di dalam pikiran seseorang mengenai makanan, aktivitas makan, dan keinginan untuk makan. Ini bisa terjadi pada anak-anak juga," ujar dokter spesialis anak di Amerika Serikat, Daniel Ganjian, MD, FAAP, dikutip dari Parents.

Menurut Ganjian, food noise bisa mulai muncul sejak masa kanak-kanak atau remaja, seiring berkembangnya hubungan anak dengan makanan.

Meski ada banyak faktor yang dapat memicu masalah pola makan dan citra tubuh, Ganjian menyebut media sosial turut memperburuk kondisi tersebut terutama pada kelompok usia muda.

Saat ini, semakin banyak anak dan remaja yang menggunakan media sosial. Oleh karena itu, Ganjian dan para ahli lainnya menekankan bahwa food noise dapat memengaruhi anak secara fisik, emosional, maupun sosial.

Mengapa food noise bisa muncul sejak dini?

Food noise dapat terjadi karena berbagai penyebab, bukan hanya satu faktor saja. Beberapa penyebab yang umum antara lain:

  • Faktor genetik
  • Ketidakseimbangan hormon
  • Pemicu dari lingkungan, seperti iklan makanan yang sangat menggugah selera

"Perlu dipahami bahwa otak anak masih terus berkembang sehingga mereka jauh lebih sulit untuk menghentikan pikiran-pikiran yang terus muncul tersebut," jelas Ganjian.

Menurut terapis sekaligus penulis buku My Child Has an Eating Disorder: An Essential Guide for Parents of Kids, Teens, and Adults, Alli Spotts-De Lazzer, LMFT, LPCC, CEDS-C, food noise terasa mirip dengan lagu yang terus berputar di kepala tanpa bisa dihentikan.

"Hampir selalu ada makanan di sekitar kita, mudah diperoleh atau dibeli, sehingga muncul rasa mendesak untuk menuruti 'suara' tersebut agar pikiran menjadi tenang," imbuh Spotts-De Lazzer.

Food noise dapat mengganggu konsentrasi saat belajar di kelas atau berolahraga, membuat anak sulit menikmati momen yang sedang dilakukan saat ini dan mengganggu kegiatan sosialnya.

Dampak food noise bagi anak

Ilustrasi/Foto: Getty Images/kohei_hara

Pembahasan mengenai food noise sering dikaitkan dengan obesitas, termasuk pada anak-anak, tetapi dampak sebenarnya lebih dari sekadar masalah fisik.

Salah satu dampak lainnya yang tak kalah penting yakni tekanan mental bagi anak. Sebagian anak merasa pikirannya tentang makanan tidak bisa dikendalikan. Hal ini berpotensi memunculkan rasa bersalah atau malu setiap kali makan.

Cara orang tua membantu anak mengatasi food noise

Seperti disebutkan sebelumnya, food noise dapat mendorong anak jadi makan lebih sering meskipun sebenarnya tidak lapar. 

Hal ini terjadi karena 'suara' di dalam pikiran tersebut membuat anak keliru mengenali sinyal lapar dari tubuhnya.

Untuk mengatasi hal ini, orang tua dapat membantu mengecilkan 'suara' pada kasus food noise Si Kecil. Apa saja yang bisa dilakukan?

1. Terapkan jadwal makan yang konsisten

Menurut dokter spesialis endokrinologi anak, Michelle Maresca, MD, makan utama dan camilan pada waktu yang teratur dapat membantu mengurangi kecemasan anak mengenai kapan makanan tersedia.

"Ketika anak tahu kapan mereka akan makan berikutnya, mereka cenderung tidak terus-menerus memikirkannya," kata Maresca.

Selain itu, konsistensi juga membantu mencegah anak menjadi terlalu lapar. Saat rasa lapar sudah berlebihan, mereka cenderung makan terlalu cepat sehingga tidak sempat mengenali sinyal kenyang.

2. Fokus saat makan

Distraksi saat makan seperti pemakaian televisi, ponsel, atau tablet bisa membuat anak lebih sulit mengenali sinyal lapar dan kenyang.

Jadi, pastikan anak makan bersama di meja makan atau ruang makan tanpa gangguan seperti tablet dan ponsel. Dengan begitu, anak belajar bahwa waktu makan adalah saat untuk fokus menikmati makanan, bukan sambil screen time.

3. Tetap sajikan makanan favorit anak

Orang tua sebaiknya tetap menyajikan makanan kesukaan anak dalam jumlah yang wajar dan seimbang agar mereka tidak merasa terlalu dibatasi. Pola makan dengan aturan yang terlalu ketat kadang membuat anak jadi tidak nyaman di jam makannya.

Memberikan makanan favorit dalam porsi kecil dapat membantu membangun hubungan yang lebih sehat dengan makanan, sekaligus mengurangi kecenderungan makan berlebihan.

4. Berikan contoh kebiasaan yang sehat

Orang tua memiliki peran besar dalam membentuk hubungan anak dengan makanan, baik melalui ucapan maupun tindakan sehari-hari.

Cara orang tua membicarakan pola makan atau bentuk tubuh mereka sendiri juga dapat meninggalkan kesan yang mendalam bagi anak. Sebagai contoh, orang tua mungkin berkata bahwa mereka tidak ingin makan banyak karena sedang ingin menurunkan berat badan.

Meskipun terdengar sepele, komentar seperti ini sering melekat dalam ingatan anak dan memengaruhi cara mereka memandang makanan maupun tubuhnya sendiri.

Hal ini juga dapat memicu food noise pada anak, karena seseorang yang mereka percaya memberikan komentar negatif terhadap makanan yang sebenarnya enak untuk dinikmati.

Seiring waktu, pengalaman seperti ini dapat menumpuk dan berkembang menjadi pola makan yang tidak sehat pada anak.

5. Alihkan perhatian dengan aktivitas menyenangkan

Saat anak mulai terus-menerus membicarakan makanan padahal belum waktunya makan, ajak ia melakukan kegiatan lain seperti bermain di luar, membaca buku, menggambar, bersepeda, atau membuat kerajinan tangan.

Kapan perlu konsultasi ke dokter?

Perhatikan ciri-ciri berikut, jika anak mulai sering melakukannya Bunda mungkin perlu berkonsultasi ke dokter atau psikolog anak:

  • Terlalu sering membicarakan makanan
  • Diam-diam mengambil atau menyembunyikan makanan
  • Mengalami kecemasan atau sulit berkonsentrasi
  • Terus makan meski tampak sudah kenyang
  • Terlalu terpaku pada bentuk tubuhnya
  • Kehilangan kendali terhadap pola makan secara terus-menerus, hingga menyebabkan makan berlebihan atau justru makan terlalu sedikit
  • Perilaku makan anak mulai mengganggu hubungan keluarga maupun pergaulan sosial

Tenaga profesional bisa melakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk menentukan masalah, penyebab, serta cara tepat mengatasinya.

Itulah penjelasan tentang apa itu food noise yang bisa terjadi pada anak. Pastikan Bunda memberikan contoh positif terkait pola makan agar Si Kecil bisa turut menirunya. Semoga bermanfaat ya, Bunda.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(fir/fir)

Simak video di bawah ini, Bun:

White Noise Aman untuk Bayi?

TOPIK TERKAIT

ARTIKEL TERKAIT

TERPOPULER

Mengenal Apa Itu Food Noise yang Bisa Terjadi pada Anak

Parenting Kinan

Divonis Kanker Payudara Stadium 4, Perempuan Ini Berbagi Kisah Penuh Harapan

Menyusui Annisa Aulia Rahim

Potret Christy Eks Cherrybelle Hamil Anak Kedua, Bersiap Menyambut Baby Girl

Kehamilan Annisa Karnesyia

Cara Mengenali Orang dari Kebiasaannya yang Selalu Menghabiskan Makanan di Piring

Mom's Life Annisa Karnesyia

Terpopuler: Potret Marcelino Lefrandt & Dewi Rezer Dukung Anak Ikut Abang None Jaksel

Mom's Life Annisa Karnesyia & Pritadanes

REKOMENDASI
PRODUK

TERBARU DARI HAIBUNDA

5 Rekomendasi Vitamin Rambut, Menutrisi dari Akar hingga Cegah Rontok

Dibintangi 8 Aktor & Aktris Top Dunia, Tiket Film 'The Odyssey' Ludes Terjual Sebelum Rilis

Mengenal Apa Itu Food Noise yang Bisa Terjadi pada Anak

Divonis Kanker Payudara Stadium 4, Perempuan Ini Berbagi Kisah Penuh Harapan

9 Drama Korea Genre Thriller Psikologi Terbaik dengan Rating Tertinggi

FOTO

VIDEO

DETIK NETWORK