parenting
Hanya Konsumsi Nugget Sejak Kecil, Bocah Ini Alami Gangguan Makan Serius
HaiBunda
Minggu, 29 Mar 2026 14:50 WIB
Daftar Isi
Menjaga asupan nutrisi anak jadi salah satu hal terpenting untuk tumbuh kembang Si Kecil. Sebisa mungkin, anak mengonsumsi makanan bergizi dan mengurangi konsumsi Ultra Processed Food yang dapat memengaruhi kesehatan.
Seperti kisah seorang anak yang hanya mau makan nugget ayam, serta makanan hambar dan pucat sejak kecil, Bunda. Setelah diperiksa lebih jauh, ia terdiagnosis Avoidant/Restrictive Food Intake Disorder (ARFID). Apa itu?
Dikutip dari Mirror, Noah Young yang berasal dari Derbyshire, Inggris, selalu menolak makan buah dan sayuran. Kondisi ini membuatnya terdiagnosis ARFID sejak usia 18 bulan.
Ia hanya mau makan nugget ayam sehingga mencoba makanan baru atau berbeda dapat membuatnya tersedak. Bahkan Young pernah muntah hanya karena memakan wortel. Sarapan Young biasanya terdiri dari roti panggang dengan selai, pancake, atau sereal tanpa susu.Â
Untuk makan siang, ia biasanya makan sandwich ham atau sandwich selai, atau pasta polos. Sementara untuk makan malam, Young biasanya memilih kentang goreng dan nugget ayam, pizza, atau wrap ayam polos.
Orang tua Young akhirnya mencari bantuan profesional
Kondisi ini tentu membuat sang ibu, Caroline (35), kemudian memutuskan untuk berkonsultasi dan mencari bantuan profesional.Â
"Ketika Young berusia 18 bulan, dia mulai menjadi semakin pemilih makanan. Dia pernah dipulangkan dari sekolah saat berusia 6 tahun karena muntah setelah mencoba makan wortel. Kondisinya semakin buruk," ungkap Caroline.
Dulu Young masih suka makan pasta dengan saus, tetapi kemudian kini dia hanya ingin pasta polos. Begitu juga dengan menu kentang, yang hanya mau dimakan oleh Young jika disajikan berupa kentang goreng.
"Awalnya saya hanya mengira itu sekadar kebiasaan pilih-pilih makanan karena banyak yang mengatakan begitu. Membuatnya makan makanan yang sehat benar-benar menjadi tantangan, dia bisa menangis dan tersedak," imbuhnya.
Khawatir perkembangan anaknya akan terhambat, Caroline kemudian membaca sebuah artikel tentang seorang wanita yang juga mengalami ARFID.Â
Wanita tersebut mendapatkan bantuan dari seorang profesional, lalu Caroline pun coba menghubungi orang tersebut untuk membantu Young.
Setelah hanya satu sesi selama tiga jam, pakar ARFID bernama David Kilmurry berhasil membuat Young mencoba makanan baru untuk pertama kalinya dalam lebih dari 7 tahun. Menurut Caroline, Kilmurry berhasil membuat putranya mau makan jeruk, mangga, dan ceri.Â
"Kami baru menemuinya dua minggu lalu. Pada sesi pertama saja dia sudah berhasil membuat Young mencobanya. Metodenya berbasis meditasi dan membuat anak saya tetap tenang," ungkap Caroline.
Metode yang dilakukan untuk mengatasi ARFID
Caroline menceritakan bahwa Kilmurry memberinya sebuah buku harian, di mana terdapat beberapa aturan yang perlu dipatuhi untuk mengatasi masalah makan Young.
Kini Young masih memiliki pola makan lamanya, tetapi sekarang ia sudah bisa makan jeruk atau ceri sebagai camilan. Ia juga mulai makan kacang polong dan jagung manis dalam porsi kecil.
Jika Young bisa makan lebih dari 50 jenis makanan, maka ia tidak lagi dikategorikan sebagai ARFID. Saat ini, Young sudah mencoba 22 jenis makanan. Sebagian besar buah-buahan, tetapi itu merupakan kemajuan yang baik.
Ibu dari tiga anak tersebut sebelumnya khawatir tentang pola makan Young yang sangat terbatas akan menghambat pertumbuhannya. Ukuran tubuh Young tergolong kecil untuk usianya saat ini, tetapi ia tetap cukup yakin bahwa putranya akan segera tumbuh lebih tinggi.
"Tubuhnya kecil. Adiknya yang 2,5 tahun lebih muda justru lebih tinggi darinya. Ini jelas memengaruhi pertumbuhannya. Ketika melihat anak-anak lain bermain sepak bola, ukurannya jauh lebih kecil dibanding mereka," ujar Caroline.
Ia berharap kondisi putranya akan terus berkembang, meskipun prosesnya tidak mudah. Saat ini Young sudah tidak muntah lagi, dan dia mulai menyadari bahwa makanan itu tidak akan menyakitinya.
"Dia sangat senang karena berhasil mencoba hal-hal baru. Saya bisa melihat bahwa dia merasa bangga akan hal itu," tutupnya.
Apa itu Avoidant/Restrictive Food Intake Disorder (ARFID)?
Dikutip dari Kids Health, ARFID adalah gangguan makan yang tergolong relatif baru. Anak-anak dengan ARFID merupakan pemilih makanan yang sangat ekstrem dan terkadang bahkan memiliki minat yang sangat rendah terhadap makanan.
Mereka biasanya hanya mau makan beberapa jenis makanan yang disukainya saja. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat menyebabkan pertumbuhan yang kurang optimal dan masalah kekurangan nutrisi.
ARFID biasanya mulai muncul pada usia yang lebih muda dibandingkan gangguan makan lainnya, serta lebih sering terjadi pada anak laki-laki.
Penyebab pasti ARFID sampai saat ini belum diketahui. Banyak ahli percaya bahwa gangguan ini terjadi akibat kombinasi dari temperamen anak, faktor genetik, serta peristiwa pemicu (misalnya pengalaman tersedak saat makan).
Beberapa anak dengan ARFID juga memiliki kondisi medis tertentu seperti Gastroesophageal Reflux Disease (GERD), alergi, atau kondisi kesehatan lain.
Apa saja ciri-ciri ARFID?
Anak-anak dengan ARFID umumnya termasuk dalam tiga kategori utama:
1. Pemilih makanan sangat ekstrem
Sebagian anak merupakan pemilih makanan yang sangat ekstrem dan dapat memiliki reaksi negatif yang kuat terhadap bau, rasa, tekstur, atau warna makanan.Â
Mereka juga bisa sangat takut mencoba makanan baru yang disebut neophobia. Sering kali anak juga khawatir akan pengalaman buruk yang mungkin terjadi saat mencoba makanan yang belum pernah dikenal.
2. Tidak tertarik pada makanan
Sebagian anak lain dengan ARFID mungkin memiliki ketertarikan yang sangat rendah terhadap makan.Â
Mereka memiliki nafsu makan yang sangat kecil atau merasa makan tidak memberikan kepuasan yang berarti, bahkan sama sekali tidak menarik bagi mereka. Anak-anak ini sering kali mengatakan bahwa mereka tidak merasa lapar.
Sebagian anak juga merasa takut terhadap apa yang mungkin terjadi ketika mereka makan, misalnya mengalami rasa sakit, tersedak, atau muntah.
3. Gangguan kombinasi
Beberapa anak dengan ARFID hanya termasuk dalam satu kategori tersebut, sementara yang lain dapat berada dalam lebih dari satu kategori sekaligus.
Banyak anak dengan ARFID memiliki berat badan yang kurang. Namun, ada juga yang memiliki berat badan normal tetapi pola makan mereka sangat terbatas.
Dampak dari kondisi ARFID
ARFID dapat menyebabkan berbagai masalah akibat kekurangan nutrisi. Anak-anak dengan gangguan ini juga rentan mengalami kondisi berikut:
- Tidak mendapatkan cukup vitamin, mineral, dan protein
- Memerlukan pemberian makan melalui terapi medis dan suplemen nutrisi tambahan
- Mengalami pertumbuhan yang kurang optimal
- Mengalami keterlambatan pubertas
Kekurangan nutrisi yang berkaitan dengan ARFID juga dapat menyebabkan:
- Pusing dan pingsan akibat tekanan darah rendah
- Denyut nadi yang lambat
- Dehidrasi
- Tulang yang melemah (osteoporosis) dan otot yang melemah
- Berhentinya menstruasi (amenorrhea)
Itulah penjelasan tentang kisah seorang anak dengan kondisi Avoidant/Restrictive Food Intake Disorder (ARFID), yang membuatnya hanya makan nugget ayam dan makanan pucat serta hambar sejak kecil.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(fir/fir)TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
Parenting
Cerita Remaja yang Hanya Bisa Makan Makanan Serba Kuning dan Kering
Parenting
Coba 4 Resep MPASI Ini Bun, Bisa Dongkrak Berat Badan Bayi
Parenting
10 Cara Menambah Tinggi Badan Anak, Mulai dari Olahraga Tepat hingga Makan Bergizi
Parenting
3 Eksperimen Sederhana untuk Isi Kegiatan Si Kecil di Rumah, Seru Bun!
Parenting
5 Cara Mengatasi Batuk pada Anak yang Bisa Bunda Lakukan di Rumah
7 Foto
Parenting
Potret 7 Anak Artis saat Menikmati MPASI, Ekpresinya Cute dan Gemas
HIGHLIGHT
REKOMENDASI PRODUK
INFOGRAFIS
KOMIK BUNDA
FOTO
Fase Bunda
Haru! Bocah 4 Tahun Jalani Operasi Jantung Sendiri, Kini Diadopsi Dokter Penyelamatnya
Dikira Masalah Mata Biasa, Anak 9 Tahun Ini Mengidap Tumor Otak
Sering Muntah Setelah Makan Stroberi, Anak Ini Ternyata Mengidap Tumor Otak