HaiBunda

PARENTING

10 Kalimat Ayah yang Bisa Membekas Seumur Hidup pada Anak

Annisa Karnesyia   |   HaiBunda

Sabtu, 11 Jul 2026 20:15 WIB
Ilustrasi Kalimat Ayah yang Bisa Membekas Seumur Hidup pada Anak/ Foto: iStock
Jakarta -

Mengasuh anak adalah sebuah perjalanan yang penuh dengan suka cita dan tantangan. Dalam proses tumbuh kembangnya, setiap perkataan orang tua, terutama ayah, dapat meninggalkan kesan yang mendalam di hati anak.

Kalimat yang diucapkan dengan penuh perhatian bisa menjadi sumber kepercayaan diri anak. Sebaliknya, ucapan yang kurang tepat dapat membekas seumur hidup pada anak hingga dia tumbuh dewasa.

Saat bicara dengan anaknya, seorang ayah sebaiknya bisa memilah kalimat yang pantas diucapkan. Jangan sampai kalimat yang dilontarkan menciptakan jarak di antara keduanya.


Lantas, apa saja kalimat ayah yang bisa membekas seumur hidup pada anak?

Kalimat ayah yang bisa membekas seumur hidup pada anak

Melansir dari beberapa sumber, berikut 10 kalimat ayah yang bisa membekas seumur hidup di hari anaknya:

1. "Berhenti bertingkah seperti perempuan! Jadilah laki-laki!"

Ketika seorang ayah mengucapkan komentar seperti ini kepada anaknya, hal itu bisa sangat menyakitkan. Kalimat ini dapat membatasi anak untuk mengekspresikan emosinya, Bunda.

"Mengucapkan hal-hal ini dapat membentuk stereotip gender yang kaku sekaligus memberikan tekanan yang tidak semestinya agar putra mereka mengambil peran yang tidak mampu ia tangani," kata psikolog klinis keluarga di Amerika Serikat, Dr. Adolph Brown, dilansir laman Parade.

"Ungkapan-ungkapan itu juga dapat mendorong devaluasi feminitas dan membatasi berbagai ekspresi emosi," sambungnya.

2. "Laki-laki tidak boleh menangis"

Para ahli mengatakan bahwa seorang ayah tidak boleh mengatakan kalimat ini pada putranya. Kalimat ini membuat anak-anak tidak dapat mengekspresikan perasaan mereka dengan menangis.

"Pernyataan-pernyataan ini berpotensi menyebabkan penekanan emosi yang mengarah pada mekanisme penanggulangan yang buruk. Hal itu dapat menghambat pengaturan emosi karena dianggap sebagai tanda kelemahan," ujar Brown.

3. "Jangan terlalu sensitif"

Bagi seorang anak, kalimat ini tidak terdengar seperti bimbingan, tapi lebih ke arah pengabaian. Dilansir laman Times of India, bila kalimat ini diucapkan berulang kali, anak bisa menelan kekecewaan dan tidak mempercayai emosi mereka sendiri.

Mereka mungkin tumbuh menjadi orang dewasa yang suka meminta maaf karena merasakan emosi yang mendalam. Pada akhirnya, hal tersebut berkontribusi pada kurangnya kecerdasan emosional, Bunda.

4. "Kamu harus kuat"

Kekuatan itu penting, tetapi tidak ketika hal tersebut menjadi perintah agar anak diam. Anak-anak yang mendengar ungkapan ini mungkin belajar bahwa kerentanan adalah kelemahan dan bahwa rasa sakit harus ditanggung sendiri.

Anak-anak yang sering mendengar kalimat ini dari ayahnya bisa tumbuh menjadi orang yang enggan meminta bantuan. Mereka harus menjadi kuat meski pada kenyataannya kewalahan.

5. "Kamu bikin malu" atau "Kamu memalukan"

Seorang ayah tanpa sadar sering menggunakan komentar kasar dan menyakitkan seperti ini sebagai respons terhadap kesalahan anak-anaknya. Para ahli memperingatkan bahwa hal itu tidak hanya merusak hubungan, tetapi juga bisa berdampak pada kesejahteraan dan kepercayaan diri anak.

"Ungkapan-ungkapan itu dapat menimbulkan rasa malu yang signifikan dan memengaruhi kesehatan mental anak," ujar psikolog dan penulis Dr. Patricia Dixon.

"Jika putra atau putri mendengar ayahnya menyebut mereka memalukan atau bodoh, hal itu dapat membuat mereka meragukan identitas dan harga diri mereka, terutama jika mereka mengidolakan ayahnya," lanjutnya.

6. "Mengapa kamu tidak bisa lebih seperti saudara laki-laki atau perempuan kamu?"

Perbandingan termasuk salah satu cara tercepat untuk melukai identitas seorang anak. Alih-alih merasa diperhatikan, mereka merasa diukur. Alih-alih merasa didukung, mereka justru merasa bisa digantikan.

Komentar semacam ini dapat memicu persaingan antara anak dan saudaranya. Tak hanya itu, anak-anak juga bisa merasa tidak aman dan memiliki keyakinan terpendam bahwa kasih sayang harus diperoleh dengan menjadi orang lain.

7. "Kamu baik-baik saja"

Terkadang seorang ayah mengatakan kalimat ini untuk menenangkan anaknya. Namun, ketika seorang anak benar-benar kesal, kalimat itu justru bisa terasa seperti penolakan.

Pesan yang mungkin mereka terima adalah bahwa rasa sakit tidak pernah menyenangkan atau selalu dilebih-lebihkan. Pasalnya, seorang anak akan lebih mudah tenang ketika perasaan mereka disebutkan terlebih dahulu, bukan diabaikan begitu saja.

8. "Berhentilah menangis"

Menangis bukanlah suatu kekurangan, tapi sebuah sinyal. Ketika anak-anak disuruh berhenti menangis sebelum mereka dipahami, mereka mungkin belajar untuk menekan perasaan alih-alih memprosesnya.

Kebiasaan itu dapat mengikuti anak-anak hingga dewasa, di mana kesedihan muncul sebagai dalam bentuk yang negatif. Anak bisa dianggap tidak punya empati karena memilih untuk menekan emosinya daripada menunjukkan ekspresi yang jujur.

9 . "Aku tidak pernah memiliki itu saat kecil, dan aku baik-baik saja"

Ungkapan ini sering kali berasal dari ketahanan yang diperoleh dengan susah payah oleh seorang ayah. Ia ingin menunjukkan bahwa anak juga bisa memiliki ketahanan seperti dirinya.

Namun bagi seorang anak, ungkapan tersebut bisa terdengar seperti penolakan untuk mengakui realitas mereka. Generasi yang berbeda tidak menghadapi tekanan yang sama, dan anak-anak perlu tahu bahwa perjuangan mereka valid meskipun terlihat kecil dari sudut pandang orang tua. Seorang ayah juga perlu ingat kalau validasi dapat membangun kepercayaan.

10. "Kamu tidak akan pernah mencapai apa pun jika terus seperti ini"

Ini adalah jenis kalimat yang dapat dipikul seorang anak sampai dewasa. Ketika seorang ayah mengucapkannya karena frustrasi, kalimat itu bisa membuat anak mengalami kemunduran. Anak-anak memang membutuhkan koreksi, tetapi mereka juga membutuhkan keyakinan bahwa kesalahan bukanlah sebuah pertanda buruk.

"Mengucapkan hal-hal tersebut menyiratkan kekecewaan dan mengabaikan upaya yang telah dilakukan oleh anak," kata Dixon.

"Alih-alih mengakui kerja keras, seorang ayah hanya fokus pada kekurangan, yang dapat membuat anak-anaknya merasa bahwa upaya terbaik mereka tidak akan pernah cukup untuk mendapatkan persetujuan. Hal ini dapat menciptakan kesan yang bertahan lama bahwa nilai diri mereka akan bergantung pada pemenuhan harapan yang tidak realistis," tuturnya.

Itulah kalimat ayah yang ternyata bisa membekas seumur hidup bagi anak. Semoga informasi ini bermanfaat ya.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(ank/fir)

Simak video di bawah ini, Bun:

5 Hal yang Diingat Anak Seumur Hidup dari Orang Tua

TOPIK TERKAIT

ARTIKEL TERKAIT

TERPOPULER

10 Kalimat Ayah yang Bisa Membekas Seumur Hidup pada Anak

Parenting Annisa Karnesyia

Jarang Terekspose, Intip Potret Manisnya Aurora Anak Olivia Jensen di Usia 9 Tahun

Parenting Annisa Karnesyia

Keren, Intip Aksi Amora Lemos Wawancara Cast dan Sutradara 'Moana' Live Action

Mom's Life Amira Salsabila

9 Tanaman Penyerap Polusi, Bantu Bersihkan Udara di dalam Rumah

Mom's Life Arina Yulistara

Resep Kubis Ala Jepang yang Viral, Rasanya Bikin Ketagihan dan Cuma Butuh 10 Menit

Mom's Life Amira Salsabila

REKOMENDASI
PRODUK

TERBARU DARI HAIBUNDA

Kenali Tanda-Tanda Stres Berlebihan yang Terlihat dari Wajah, Jarang Diperhatikan

Jarang Terekspose, Intip Potret Manisnya Aurora Anak Olivia Jensen di Usia 9 Tahun

9 Tanaman Penyerap Polusi, Bantu Bersihkan Udara di dalam Rumah

10 Kalimat Ayah yang Bisa Membekas Seumur Hidup pada Anak

Keren, Intip Aksi Amora Lemos Wawancara Cast dan Sutradara 'Moana' Live Action

FOTO

VIDEO

DETIK NETWORK