HaiBunda

PARENTING

Anak Sulit Menerima Kekalahan? Psikolog Ungkap Arti di Balik Sikapnya

Annisa Karnesyia   |   HaiBunda

Rabu, 22 Jul 2026 09:20 WIB
Ilustrasi Anak Sulit Menerima Kekalahan? Psikolog Ungkap Arti di Balik Sikapnya/ Foto: iStock
Jakarta -

Tidak ada orang tua yang senang melihat anaknya menangis atau marah saat kalah. Namun, kesulitan menerima kekalahan adalah hal yang cukup umum terjadi pada anak saat berkompetisi atau sekadar bermain dengan teman sebaya.

Menurut sebuah studi di Cognitive, Affective, & Behavioral Neuroscience tahun 2015, rasa sakit psikologis akibat kalah dua kali lebih kuat daripada kesenangan saat kita menang. Tak heran bila bagi sebagian anak, kekalahan bukan sekadar hasil permainan, tetapi pengalaman yang memicu rasa marah bahkan frustrasi.

Saat anak sulit menerima kekalahan, orang tua perlu bereaksi. Pasalnya, cara orang tua dalam mendampingi momen ini berperan penting untuk membentuk kemampuan anak mengelola emosi.


"Kebanyakan orang tidak senang kalah, dan itu wajar. Jadi, penting untuk berhati-hati agar tidak terlalu memperhatikan satu reaksi saja," kata psikolog klinis di Amerika Serikat, Dr. Kendra Read, PhD, dilansir Parade.

"Kita mungkin memperhatikan beberapa pola pada anak atau mungkin tidak. Bagaimanapun, orang dewasa di sekitar mereka dapat melakukan banyak hal untuk mendukung cara mengatasi masalah yang sehat. Kita tidak perlu menunggu sampai masalah muncul," lanjutnya.

Kenapa anak sulit menerima kekalahan?

Psikolog Read mengatakan bahwa ketika seorang anak benar-benar kehilangan kendali setelah bermain, sering kali bukan hanya tentang permainannya. Pada dasarnya, mereka kesulitan menerima kekalahan karena memang sulit mengelola perasaan yang besar.

"Itu adalah proses yang sedang berlangsung bagi hampir setiap anak di planet ini," ujarnya.

Selain itu, mungkin ada banyak gejolak batin yang tidak dapat kita lihat dan tidak dapat diungkapkan oleh anak. Akibatnya, orang tua tidak mengetahui alasan sebenarnya mengapa seorang anak marah setelah kalah.

"Ada juga monolog batin yang terjadi yang tidak selalu kita lihat. Apa yang dikatakan anak pada dirinya sendiri tentang permainan itu? Apakah mereka fokus pada kemenangan sebagai tujuan utama, daripada hanya bermain? Apakah mereka berpikir kekalahan berarti sesuatu tentang diri mereka, seperti, 'Saya kalah, oleh karena itu, saya adalah pecundang?' Atau mungkin taruhannya terasa sangat besar bagi mereka secara sosial, seolah-olah seluruh reputasi mereka di taman bermain bergantung pada satu putaran permainan ini," ungkap Read.

Apa yang harus dilakukan orang tua saat anak menghadapi kekalahan?

Kepribadian anak terus terbentuk seiring bertambahnya usia, Bunda. Jika anak kesulitan menerima kekalahan dalam permainan, orang tua mungkin akan memperhatikan bahwa mereka ternyata juga kesulitan untuk menghadapi momen-momen penting lainnya, seperti kesalahan dalam pekerjaan rumah, merasa mengecewakan seseorang, atau khawatir akan dipermalukan.

Sebagai orang tua, Bunda dan Ayah sebaiknya tidak perlu larut dalam perasaan anak. Bila mereka mengalami kekalahan, kita perlu melihat polanya dan memberikan pengarahan yang efektif.

"Orang tua tidak seharusnya terlalu membesar-besarkan tentang arti kekalahan pada anak mereka. Mereka harus memperhatikan pola di berbagai situasi. Ketika pola-pola tersebut terlihat, mereka dapat lebih fokus pada intervensi untuk membantu anaknya," ujar Read.

Lantas, kapan saatnya orang tua perlu mengkhawatirkan tentang reaksi anak terhadap kekalahan dalam permainan dan hal-hal lainnya?

"Jika anak mengamuk setiap kali hidup tidak berjalan sesuai keinginannya, itu patut diperhatikan," kata Read.

"Itu mungkin menunjukkan pola yang lebih besar terkait pengaturan emosi yang muncul di berbagai situasi. Tetapi jika itu hanya tentang kalah dalam permainan, dan kita tidak melihatnya dapat memengaruhi area lain dalam kehidupan, itu mungkin hanya masalah tersendiri, bukan tanda bahaya untuk sesuatu yang lebih dalam," lanjutnya.

Cara lain adalah dengan mencontohkan yang baik ke anak. Saat terjadi kekalahan, kita mesti bertindak bijak sehingga anak dapat mengelola emosinya saat kalah.

"Jika kekalahan selalu disertai dengan ejekan atau pengabaian, itulah pelajaran yang mereka serap. Mereka melihat kita untuk belajar bagaimana berpikir tentang orang-orang yang kalah," ujar Read.

Orang tua juga perlu berhati-hati agar tidak selalu berbicara tentang kemenangan dan betapa pentingnya kemenangan itu. Untuk itu, Read menyarankan agar orang tua bisa memperluas sudut pandang mereka.

Tak hanya itu, saat anak kalah atau menang, orang tua dapat melontarkan berbagai pujian. Selain untuk menekan rasa kecewa, pujian bisa membuat anak merasa diperhatikan.

"Bicaralah tentang bersenang-senang, menjadi rekan satu tim yang baik, dan menikmati pengalaman. Hasil akhir hanyalah bagian kecil dari gambaran yang jauh lebih besar," kata Read.

"Kita juga bisa mengakui siapa yang menang dan siapa yang kalah, tetapi kemudian beralih lah ke hal-hal yang baik," lanjutnya.

Itulah penjelasan tentang arti di balik anak yang sulit menerima kekalahan menurut psikolog. Semoga informasi ini bermanfaat ya, Bunda.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(ank/fir)

Simak video di bawah ini, Bun:

5 Hal yang Diingat Anak Seumur Hidup dari Orang Tua

TOPIK TERKAIT

ARTIKEL TERKAIT

TERPOPULER

Dea Annisa Pamer Foto Pre Wedding Romantis Bareng Calon Suami, Intip Potretnya

Mom's Life Amira Salsabila

Anak Sulit Menerima Kekalahan? Psikolog Ungkap Arti di Balik Sikapnya

Parenting Annisa Karnesyia

Kisah Bunda 5 Anak Terus Menyusui selama 15 Th, Akui Jalani Extended Breastfeeding

Menyusui Annisa Aulia Rahim

Ciri Kepribadian Orang yang Suka Warna Emas Menurut Psikologi, Benarkah Identik dengan Kesuksesan?

Mom's Life Annisa Karnesyia

10 Kebiasaan Bumil yang Baik untuk Dukung Bayi Tumbuh Sehat dan Cerdas

Kehamilan Annisa Aulia Rahim

REKOMENDASI
PRODUK

TERBARU DARI HAIBUNDA

Momen Mitoni Syukuran 7 Bulanan Kehamilan Athina Papadimitriou, Istri Rio Haryanto

7 Rekomendasi Hair Oil untuk Rambut Kering agar Lebih Halus, Mudah Diatur & Penumbuh Rambut

Dea Annisa Pamer Foto Pre Wedding Romantis Bareng Calon Suami, Intip Potretnya

Anak Sulit Menerima Kekalahan? Psikolog Ungkap Arti di Balik Sikapnya

Kisah Bunda 5 Anak Terus Menyusui selama 15 Th, Akui Jalani Extended Breastfeeding

FOTO

VIDEO

DETIK NETWORK