HaiBunda

PARENTING

Dokter Ungkap Pentingnya Memeriksa Kurva Pertumbuhan saat Tubuh Anak Pendek

Annisa Karnesyia   |   HaiBunda

Sabtu, 25 Jul 2026 16:05 WIB
Dokter Ungkap Pentingnya Orang Tua Memahami Kurva Pertumbuhan saat Tubuh Anak Pendek/ Foto: iStock
Jakarta -

Setiap orang tua tentu ingin melihat anaknya tumbuh dan berkembang sesuai usianya. Namun, saat tinggi badan anak tampak lebih pendek dibandingkan teman-teman sebayanya, tidak sedikit orang tua merasa khawatir.

Anak tumbuh pendek bisa terjadi karena gangguan pertumbuhan, Bunda. Untuk memastikan kondisinya, Bunda perlu mengetahui dan memahami kurva pertumbuhan.

"Orang tua juga mesti mengerti tentang kurva ini. Tanpa kurva ini, akan sangat sulit bagi dokter untuk menjawab pertanyaan orang tua (kenapa anaknya pendek?)," kata dokter spesialis anak subspesialis endokrinologi, Prof. Dr. dr. Aman Bhakti Pulungan, Sp. A, Subsp. End., FAAP, FRCPI (Hon.), dalam Virtual Media Interview bersama RS Pondok Indah Group, Rabu (22/7/26).


Menurut Aman, rata-rata bayi lahir normal dengan panjang tubuh di atas 48 sentimeter (cm). Setelah itu, pertumbuhan anak dapat dipantau melalui kurva pertumbuhan.

"Kalau dia nanti pendek variasi normal, maka akan dilihat kurvanya itu menurun dan paralel. Tapi kalau pendek karena kekurangan growth hormone, maka kurva akan turun dan bablas," ujar Aman.

Setelah mengetahui kurva pertumbuhan, orang tua dapat memastikan kondisi anak dengan memeriksakannya ke dokter. Apa pun hasilnya, Bunda disarankan untuk meminta rujukan ke dokter spesialis

"Gangguan pertumbuhan tidak datang tiba-tiba. Kalau kurvanya sudah menurun atau makin turun walau anak belum pendek, konsultasi sesegera mungkin. Kalau dokter bilang tidak apa-apa, orang tua tetap minta agar anaknya dirujuk," ungkap Aman.

"Kita harus tahu, penyebab pendek bukan hanya stunting atau kekurangan nutrisi, tapi bisa karena kelainan hormon yang dikaitkan dengan masalah otak. Pada perempuan, itu bisa karena kelainan genetik seperti sindrom Turner. Kalau tidak diobati bisa dikaitkan dengan kelainan jantung dan kelainan lainnya," sambungnya.

Menurut Aman, orang tua harus proaktif bila menganggap anaknya memiliki perawakan pendek dibandingkan anak seusianya. Jangan sampai deteksi gangguan pertumbuhan baru diketahui saat anak sudah memasuki usia remaja, Bunda.

"Perawakan pendek tidak hanya menunjukkan adanya masalah medis, tetapi juga masalah sosial dan intelektualitas. Perawakan pendek juga sering kali menimbulkan kecemasan, kepercayaan diri yang rendah, dan bullying," kata Aman.

Perlu diketahui, pertumbuhan normal adalah kombinasi yang kompleks dari interaksi antara faktor genetik, gizi, dan hormon. Selain itu, faktor-faktor psikososial juga dapat memengaruhi pertumbuhan.

Kaitan waktu tidur anak dan pertumbuhannya

Pertumbuhan anak juga dapat dipengaruhi oleh waktu tidurnya, Bunda. Aman mengatakan bahwa waktu tidur yang cukup dan berkualitas harus didapat anak karena berkaitan dengan hormon pertumbuhan.

"Waktu tidur itu berpengaruh langsung ke pertumbuhan, terutama hormon pertumbuhan. Waktu tidur anak tidak boleh dipotong dan harus ada jadwalnya. Jadi, deep sleep itu penting," ujar Aman.

Selain waktu tidur, kebiasaan anak yang jarang bergerak juga tidak secara langsung berhubungan dengan pertumbuhannya. Anak yang jarang bergerak bisa mengalami obesitas. Pada beberapa keadaan, kondisi tersebut bisa mempercepat fase pubertas anak.

Terapi hormon pertumbuhan

Terapi hormon pada anak bisa dilakukan pada anak-anak yang mengalami masalah pertumbuhan. Menurut Aman, terapi ini dapat dilakukan tergantung dengan kondisi medis yang dialami oleh anak.

"Kapan saja terdiagnosis, itu boleh diterapi. Kalau didiagnosis usia dua tahun, kita bisa terapi. Kalau diagnosis gangguan pertumbuhan karena tulang sering patah, di umur satu tahun juga sudah bisa diterapi. Begitu juga kalau ada kelainan kromosom atau hormon tiroid. Jadi, sangat bergantung kapan terdiagnosis. Tapi ya masalahnya di kita, diagnosis ini sering kali telat," ujar Aman.

"Jadi jangan menganggap semua yang pendek itu karena masalah gizi. Jadi seolah-olah memberikan makanan bergizi, sudah pasti anak akan tambah tinggi. Makanan memang bagus untuk balita atau di 1.000 hari kehidupan. Tapi kalau sudah fase anak, makanan tidak bisa diberikan. Kalau kasih makanan seperti protein berlebihan, itu malah bahaya. Anaknya bukan bertambah tinggi, tapi pubertas bisa terganggu," sambungnya.

Perlu dicatat, terapi hormon pertumbuhan memiliki golden periode ya, Bunda. Aman mengatakan bahwa terapi mungkin tidak bisa diberikan ketika anak sudah memasuki pubertas, misalnya anak perempuan yang sudah haid.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(ank/rap)

Simak video di bawah ini, Bun:

5 Manfaat Gymnastic bagi Anak, Bagus untuk Kesehatan Fisik dan Mental Bun

TOPIK TERKAIT

ARTIKEL TERKAIT

TERPOPULER

Bukan Arab Saudi, Ternyata Ini Negara Terkaya di Timur Tengah

Mom's Life Amira Salsabila

Lee Da Hae Beri Julukan 'Heaven' untuk Bayi di Kandungan, Ini Maknanya

Kehamilan Dwi Indah Nurcahyani

Serunya Little Explorer! Si Buah Hati Belajar Sejarah Sambil Menjelajah Museum Nasional

Parenting Amira Salsabila

Dokter Ungkap Pentingnya Memeriksa Kurva Pertumbuhan saat Tubuh Anak Pendek

Parenting Annisa Karnesyia

Momen Kebersamaan Raina & Rizki Langit, Anak-Anak Rossa yang Terpaut Usia Beda Jauh

Parenting Annisa Karnesyia

REKOMENDASI
PRODUK

TERBARU DARI HAIBUNDA

Viral Tren 'Reparenting Parents', Ketika Ortu Sembuhkan Luka Masa Kecil Lewat Pola Asuh ke Anak

Serunya Little Explorer! Si Buah Hati Belajar Sejarah Sambil Menjelajah Museum Nasional

Lee Da Hae Beri Julukan 'Heaven' untuk Bayi di Kandungan, Ini Maknanya

Bukan Arab Saudi, Ternyata Ini Negara Terkaya di Timur Tengah

Dokter Ungkap Pentingnya Memeriksa Kurva Pertumbuhan saat Tubuh Anak Pendek

FOTO

VIDEO

DETIK NETWORK