PARENTING
Mengenal Penyakit Celiac pada Anak dan Cara Mendukung Kesehatan Mentalnya
Annisya Asri Diarta | HaiBunda
Kamis, 20 Aug 2026 18:20 WIBTerkadang, Si Kecil mengalami hal-hal yang tidak diinginkan, termasuk gangguan kesehatan seperti penyakit celiac. Kondisi ini membutuhkan perhatian khusus, mulai dari pola makan dan gaya hidup hingga dukungan mental bagi Si Kecil, Bunda.
Seorang profesor madya psikiatri dan pediatri di Fakultas Kedokteran CU Anschutz sekaligus psikolog anak di Rumah Sakit Anak Colorado, Monique Germone, PhD, telah meneliti dampak penyakit celiac pada anak-anak dan keluarga. Germone mengatakan, “Saya familiar dengan tantangan menghadapi penyakit ini. Menurut saya, pasien celiac dan keluarganya perlu mendapat dukungan layanan kesehatan perilaku untuk membantu mendeteksi masalah perkembangan, pendidikan, dan perilaku sejak dini,” ucapnya, seperti dikutip dari laman resmi University of Colorado Anschutz.
Penyakit celiac sendiri merupakan gangguan autoimun yang dipicu oleh konsumsi gluten dan diperkirakan dialami oleh sekitar satu hingga tiga persen populasi dunia, dikutip dari MedicalXpress. Kondisi ini tidak hanya dapat memengaruhi kesehatan fisik, tetapi juga berpotensi berdampak pada kesehatan mental anak.
Hal ini ditunjukkan dalam studi yang dilakukan Germone pada tahun 2022. Penelitian tersebut menemukan bahwa sekitar sepertiga anak mengalami gejala kecemasan dan depresi yang cukup signifikan secara klinis. Kondisi tersebut tidak berkaitan dengan lamanya mereka menjalani diet bebas gluten maupun adanya kondisi medis lain.
Menurut Germone, temuan tersebut menunjukkan pentingnya pemeriksaan lebih lanjut oleh tenaga kesehatan. “Temuan ini menunjukkan bahwa anak-anak tersebut perlu segera mendapatkan pemeriksaan dari tenaga kesehatan untuk memperoleh diagnosis lebih lanjut,” ucapnya, seperti dikutip dari laman University of Colorado Anschutz.
Hasil penelitian ini juga mendorong perlunya upaya lebih lanjut untuk membantu anak-anak yang mengalami masalah tersebut. Lantas, bagaimana cara mengatasi penyakit celiac sekaligus mendukung kesehatan mental anak?
Mengenal penyakit celiac
Sebelum membahas cara mengatasi penyakit celiac, sebaiknya Bunda memahami kondisi ini terlebih dahulu. Penyakit celiac merupakan kondisi autoimun ketika sistem kekebalan tubuh bereaksi terhadap gluten dan dapat menyebabkan kerusakan pada usus kecil. Gluten adalah protein yang terdapat dalam makanan berbahan gandum, jelai, atau rye, dikutip dari Mayo Clinic.
Pada anak dengan penyakit celiac, konsumsi gluten dapat memicu respons imun yang menyerang lapisan usus kecil. Jika berlangsung terus-menerus, respons tersebut dapat menyebabkan kerusakan pada usus dan mengganggu penyerapan nutrisi.
Kondisi ketika tubuh tidak dapat menyerap nutrisi dengan baik disebut malabsorpsi. Kerusakan usus akibat penyakit celiac dapat menyebabkan gejala seperti diare, kelelahan, penurunan berat badan, kembung, dan anemia.
Jika tidak ditangani, kondisi ini dapat menimbulkan komplikasi serius. Pada anak-anak, malabsorpsi juga dapat memengaruhi pertumbuhan dan perkembangan, selain menimbulkan gejala pada saluran pencernaan.
Cara mengatasi penyakit celiac
Dikutip dari University of Colorado Anschutz, Bunda dapat melakukan langkah-langkah berikut ini untuk mendukung kesehatan mental anak dengan penyakit celiac. Simak selengkapnya.
1. Metode Biopskiososial
Para ahli kesehatan mental yang terlatih dalam mendukung anak dengan kondisi medis sering menggunakan model biopsikososial untuk memahami kondisi anak yang menderita penyakit celiac secara menyeluruh.
Germone menjelaskan bahwa pendekatan ini melihat bagaimana kesehatan fisik dan faktor biologis seseorang saling berkaitan dengan kehidupan sehari-hari serta kondisi psikologisnya. Hal ini mencakup cara seseorang menjalani hidup, dukungan dari lingkungan sekitar, serta cara berpikir dan merasakan kondisi yang dialaminya.
Pada penyakit celiac, faktor seperti sistem pangan, aturan, dan kebijakan juga dapat memengaruhi kemampuan anak dalam memahami kondisi serta menjalani pengobatan. Model biopsikososial juga dapat disesuaikan dengan latar belakang budaya dan kondisi setiap keluarga.
Pendekatan ini melibatkan keluarga dalam memahami kondisi yang dialami sehingga tenaga kesehatan dapat menentukan penanganan yang lebih personal dan sesuai dengan kebutuhan anak. Germone juga menekankan pentingnya menerapkan diet bebas gluten serta memberikan dukungan agar anak dapat menjalaninya secara konsisten.
Namun, menjalani diet bebas gluten dapat menjadi tantangan dalam kehidupan sehari-hari, Bunda. Selain aspek psikologis dan pola makan, faktor biologis dalam tubuh anak juga penting diperhatikan, salah satunya adalah kondisi bakteri yang hidup di dalam usus.
Hal tersebut turut menjadi perhatian dalam sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal Frontiers in Microbiology. Penelitian ini mengkaji hubungan antara bakteri usus dan penyakit celiac pada anak-anak di Canterbury, Selandia Baru, wilayah yang memiliki kasus penyakit celiac cukup tinggi. Penelitian tersebut bertujuan memahami peran mikrobioma usus dalam perkembangan penyakit celiac, dikutip dari MedicalXpress.
Kemudian peneliti membandingkan bakteri usus dan metabolit pada sebelas anak yang baru didiagnosis penyakit celiac dengan sepuluh anak sehat. Kondisi anak dengan penyakit celiac juga diperiksa kembali setelah enam bulan menjalani diet bebas gluten.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyakit celiac dapat memengaruhi komposisi bakteri di dalam usus. Salah satu perubahan yang paling terlihat terjadi pada bakteri Bacteroides, terutama Bacteroides ovatus yang meningkat secara signifikan pada anak-anak dengan penyakit celiac. Kemudian keduanya mulai menurun setelah anak menjalani diet bebas gluten, meski belum sepenuhnya kembali ke kondisi normal.
Diet bebas gluten juga dapat memengaruhi komposisi mikrobioma usus, salah satunya dengan meningkatkan jumlah Bilophila wadsworthia. Meski penelitian ini masih terbatas, temuan tersebut menunjukkan adanya hubungan antara bakteri usus dan penyakit celiac yang dapat membantu memahami perkembangan serta pemulihan penyakit.
Di masa mendatang, penelitian ini berpotensi dikembangkan untuk membantu diagnosis, memantau keberhasilan pengobatan, hingga menemukan target terapi baru.
2. Hubungan antar sesama penderita penyakit celiac
Studi menunjukkan bahwa dukungan teman sebaya sangat bermanfaat untuk anak dengan penyakit celiac. Germone mengatakan, “Perkemahan khusus menjadi tempat yang nyaman bagi anak untuk berinteraksi dengan teman sebaya tanpa khawatir soal makanan, karena tersedia makanan bebas gluten yang aman,” ucapnya, seperti dikutip dari University of Colorado Anschutz.
Salah satu contohnya adalah Roundup River Ranch di Colorado. Perkemahan ini menyediakan sesi khusus untuk anak dengan penyakit celiac dan menerapkan menu bebas gluten, sehingga anak dapat merasa lebih nyaman sekaligus membangun koneksi dengan teman sebaya.
Germone juga menambahkan "Koneksi sosial dan dukungan dari teman sebaya juga penting bagi kesehatan mental anak. Dengan berada di lingkungan yang memahami kondisi mereka, anak dapat merasa diterima, tidak sendirian, dan lebih percaya diri dalam menghadapi penyakit celiac," ujarnya seperti dikutip dari University of Colorado Anschutz.
Itulah ulasan tentang penyakit celiac pada anak dan cara mendukung kesehatan mentalnya. Semoga bermanfaat untuk antisipasi kesehatan Si Kecil, Bunda.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(rap/rap)Simak video di bawah ini, Bun:
Bayi Langsung Jalan Tanpa Merangkak, Normalkah?
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
Tak Perlu Dimarahi, Coba 3 Trik Ini agar Anak yang Cengeng Jadi Lebih Tenang
3 Hal yang Sebaiknya Tidak Bunda Lakukan saat Anak sedang Tantrum
5 Manfaat Si Kecil Dekat dengan Kakek dan Neneknya, Salah Satunya Jadi Anak Tangguh Bun
6 Cara Mengendalikan Emosi pada Anak, Bunda Perlu Tahu
TERPOPULER
Momen Hari Pertama Bilqis Anak Ayu Ting Ting Jadi Anak SMP, Intip Potretnya
Cara Membuat Ayam Goreng Laos yang Empuk dan Lembut ala Restoran Terkenal
Cara Mengenali Orang yang Mulai Lelah Mental dan Emosional, Kerap Ucapkan 9 Kalimat Ini
Potret Gender Reveal Anak Kedua Miskah Shafa dan dr Yislam, Aisha Bakal Punya Adik Cowok
Mengenal Penyakit Celiac pada Anak dan Cara Mendukung Kesehatan Mentalnya
REKOMENDASI PRODUK
7 Merek Panci Anti Lengket Keramik Bebas PFOA dan PTFE
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
5 Rekomendasi Glossy Balm, Bikin Bibir Plumpy dan Tampak Sehat
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
7 Panci 3 Susun Stainless Steel yang Bagus dan Berkualitas
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
9 Rekomendasi Reed Diffuser Lokal yang Wanginya Enak & Tahan Lama
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
5 Pasta Gigi Bayi 1 Tahun ke Atas yang Aman Jika Tak Sengaja Tertelan, Pilih Terbaik Cegah Karies
Annisa KarnesyiaTERBARU DARI HAIBUNDA
Momen Hari Pertama Bilqis Anak Ayu Ting Ting Jadi Anak SMP, Intip Potretnya
Cara Membuat Ayam Goreng Laos yang Empuk dan Lembut ala Restoran Terkenal
Mengenal Penyakit Celiac pada Anak dan Cara Mendukung Kesehatan Mentalnya
Potret Gender Reveal Anak Kedua Miskah Shafa dan dr Yislam, Aisha Bakal Punya Adik Cowok
Cara Mengenali Orang yang Mulai Lelah Mental dan Emosional, Kerap Ucapkan 9 Kalimat Ini
FOTO
VIDEO
DETIK NETWORK
-
Rekomendit
Latihan Bola Anak di Rumah Kurang Maksimal Tanpa Gawang Beneran? Ini Solusinya
-
Beautynesia
Quote Film Ikonis yang Cocok dengan Karaktermu Berdasarkan Tanggal Lahir
-
Female Daily
Aarti Wellness Club Menteng, Destinasi Baru untuk Me Time yang Berkualitas!
-
CXO
Turnamen Voli SBY Cup 2026 di Magelang 13-17 Mei, Ada LavAni-Samator
-
Wolipop
Potret 'Bucin' Kim Kardashian dan Lewis Hamilton Pamer Kemesraan Saat Liburan
-
Mommies Daily
Lagi Butuh Tertawa? Ini 15 Drakor Komedi yang Dijamin Bikin Mood Naik