Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

parenting

Larangan Penggunaan HP di Sekolah, Benarkah Bikin Anak Lebih Fokus? Ini Kata Studi

Annisa Karnesyia   |   HaiBunda

Kamis, 03 Sep 2026 13:35 WIB

Ilustrasi Anak Sekolah
Larangan Penggunaan HP di Sekolah, Benarkah Bikin Anak Lebih Fokus? Ini Kata Studi/ Foto: Getty Images/iStockphoto/Rani Nurlaela Desandi
Jakarta -

Penggunaan handphone (HP) di sekolah masih menjadi perdebatan di kalangan orang tua. Di satu sisi, ponsel dapat membantu anak mengakses informasi dan mendukung proses belajar. Namun, di sisi lain, media sosial dan berbagai aplikasi hiburan bisa menjadi sumber distraksi saat pelajaran berlangsung.

Dampak media sosial terhadap anak-anak dan remaja telah terdokumentasi dengan baik. Media sosial berdampak negatif pada perkembangan otak dan kesejahteraan emosional anak.

Di beberapa negara, aturan penggunaan HP di sekolah cukup ketat. Tak hanya itu, banyak negara menerapkan larangan penggunaan media sosial berdasarkan usia dan orang tua sedang mempertimbangkan kembali apa yang dapat mereka lakukan di rumah.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Pada Juni 2026, Perdana Menteri Britania Raya saat itu, Keir Starmer, mengumumkan akan memberlakukan larangan media sosial bagi anak-anak di bawah usia 16 tahun, mulai tahun 2027. Demikian seperti melansir dari laman Mom.

Di Australia, larangan media sosial sudah berlaku pada Desember 2025. Namun, larangan tersebut dianggap gagal karena beberapa remaja telah menemukan cara untuk mengakali sistem.

Lantas, benarkah larangan penggunaan HP bisa bikin anak lebih fokus?

Efektivitas larangan penggunaan HP di sekolah

Dalam dunia yang ideal, media sosial hanya akan menjadi alat untuk menyatukan orang. Media sosial akan memungkinkan anak-anak dan remaja untuk mengeksplorasi identitas mereka, bertemu orang-orang yang berpikiran sama dari seluruh dunia, dan terhubung dengan teman-teman seperti yang kita lakukan sebelum era munculnya ponsel.

Media sosial akan menyediakan akses ke informasi yang menarik, membantu mendorong hobi dan kreativitas, dan bahkan berfungsi sebagai sumber daya untuk advokasi, sehingga memudahkan pengorganisasian dan keterlibatan sipil. Sayangnya, meskipun semua ini mungkin bermanfaat bagi remaja, manfaatnya sebagian besar tertutupi oleh kerugian.

Dilansir laman Forbes, penelitian secara konsisten menunjukkan bahwa penggunaan media sosial dan layar yang lebih besar dapat dikaitkan dengan rendahnya harga diri, pelecehan daring, kualitas tidur yang buruk, dan peningkatan tingkat kecemasan dan depresi. Penggunaan smartphone yang berlebihan juga dapat berdampak negatif pada prestasi akademik.

Sebuah studi tahun 2020 di jurnal Cyberpsychology, Behavior, and Social Networking terhadap lebih dari 11.000 remaja menemukan bahwa siswa yang melaporkan penggunaan telepon setidaknya dua jam pada hari kerja lebih cenderung melaporkan prestasi akademik yang buruk dan memiliki nilai ujian yang lebih rendah dalam bahasa Inggris dan matematika.

Meski temuan studi cukup menjanjikan, pakar menemukan keterbatasan pada penelitian. Sebuah tinjauan tahun 2025 di The Lancet Regional Health-Europe memperingatkan bahwa sebagian besar bukti dalam literatur yang menghubungkan penggunaan ponsel pintar dengan kesehatan mental remaja bersifat korelasional. Artinya, bukti tersebut tidak dapat membuktikan bahwa peningkatan penggunaan ponsel menyebabkan efek buruk pada kesehatan mental.

Studi yang dikenal sebagai studi SMART Schools, meneliti lebih dari 1.200 remaja berusia 12 hingga 15 tahun di 30 sekolah menengah yang berbeda.

Dalam studi ini, siswa di sekolah dengan kebijakan yang ketat menghabiskan waktu sekitar 40 menit lebih sedikit di ponsel mereka dan sekitar 32 menit lebih sedikit di media sosial selama jam sekolah. Meskipun demikian, para peneliti menyimpulkan bahwa tidak ada perbedaan signifikan dalam kesejahteraan mental secara keseluruhan antara siswa di sekolah yang menerapkan kebijakan ketat, dan sekolah yang menerapkan kebijakan longgar.

Studi ini juga tidak menemukan perbedaan yang berarti dalam total penggunaan telepon pada hari kerja atau akhir pekan.

Keuntungan dan kerugian larangan penggunaan HP di sekolah

Menyingkirkan HP memang dapat menghilangkan gangguan di lingkungan kelas. Namun, ada manfaat yang jelas dari ponsel di tangan siswa.

Penelitian menunjukkan bahwa media sosial dan ponsel dapat membuat anak-anak dan remaja tetap terhubung, menumbuhkan rasa kebersamaan, memungkinkan remaja untuk mengekspresikan diri, dan juga meningkatkan keterampilan sebagai pemecahan masalah.

Jadi, larangan penggunaan telepon di sekolah bukanlah solusi untuk menjaga fokus atau kesehatan mental anak-anak dan remaja. Larangan ini merupakan salah satu intervensi lingkungan yang dampaknya sangat bergantung pada apa yang terjadi di tempat-tempat di mana larangan tersebut tidak berlaku, seperti di rumah.

Strategi yang layak untuk sekolah ke depannya dapat mencakup menggabungkan pembatasan penggunaan telepon dengan pendidikan literasi digital. Selain itu, anak juga diberikan kesempatan untuk bersosialisasi tatap muka untuk mengembangkan persahabatan dan hubungan.

Terakhir, orang tua juga harus berperan aktif di rumah dalam mengatur waktu anak-anak mereka menggunakan media sosial dan ponsel. Tujuannya adalah untuk mengajarkan siswa kapan teknologi bermanfaat, dan kapan teknologi dapat menimbulkan risiko bagi kesehatan.

Demikian penjelasan tentang kelebihan dan kekurangan larangan penggunaan HP di sekolah bagi anak. Semoga informasi ini bermanfaat ya.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(ank/rap)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda