HaiBunda

PARENTING

Cara Mengajarkan Bahasa Inggris kepada Bayi sejak Dini

Asri Ediyati   |   HaiBunda

Minggu, 20 Sep 2026 15:35 WIB
Belajar Bahasa Inggris sejak dini/ Foto: Getty Images/O2O Creative

Bahasa Inggris adalah bahasa yang digunakan internasional untuk berkomunikasi. Saat membesarkan anak, orang tua yang menguasai lebih dari satu bahasa atau memiliki bahasa yang berbeda mungkin menghadapi dilema mengenai bahasa apa yang sebaiknya digunakan saat berbicara dengan anak mereka.

Banyak orang tua mungkin bertanya-tanya apakah ‘aman’ untuk berbicara kepada anak menggunakan dua bahasa, misalnya Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris.

Hal ini dikarenakan adanya cukup banyak informasi keliru yang beredar mengenai ‘bahaya’ berbicara dengan anak menggunakan lebih dari satu bahasa. Terdapat anggapan umum bahwa upaya membesarkan anak agar menguasai dua bahasa dapat menyebabkan keterlambatan kemampuan berbahasa pada anak.


Padahal, bayi sangat cepat menyerap bahasa, dan anak kecil mana pun yang terpapar dua bahasa atau lebih sejak usia dini dapat menjadi fasih.

Dalam artikel kali ini, kita akan mengetahui kapan waktu tepat mengajarkan anak dua bahasa, keuntungan mereka belajar bahasa lebih dari satu, risiko menjadi bilingual, hingga mitos dan fakta seputar mengajarkan anak dua bahasa.

Simak selengkapnya berikut ini!

Amankah mengajarkan bayi dua bahasa sekaligus?

Jawabannya aman, Bunda. Sebagian orang mungkin keliru menganggap bahwa membesarkan anak dalam keluarga bilingual dapat membuat anak berisiko mengalami keterlambatan berbahasa atau melewati "masa diam" di mana mereka mungkin sama sekali tidak berbicara.

Padahal, masa diam atau silent period yaitu ketika mereka mengamati, mendengarkan, dan berkomunikasi melalui ekspresi wajah atau gerakan tubuh sebelum mulai berbicara.

Ketika anak-anak usia dini belajar Bahasa Inggris, mungkin juga terjadi 'masa diam' serupa, di mana komunikasi dan pemahaman dapat berlangsung bahkan sebelum mereka benar-benar mengucapkan kata-kata dalam Bahasa Inggris.

Kondisi ini biasanya terjadi ketika anak tiba-tiba dihadapkan pada bahasa kedua (seperti dalam proses pemerolehan dua bahasa secara bertahap). Contohnya adalah saat mereka pertama kali masuk sekolah di mana semua orang berbicara menggunakan bahasa yang berbeda dari bahasa yang digunakan di rumah.

Selama periode ini, anak tidak akan berbicara atau hanya berbicara sangat sedikit menggunakan bahasa tersebut. Fase ini bisa berlangsung mulai dari beberapa minggu hingga beberapa bulan, di mana anak sedang membangun pemahaman mereka terhadap bahasa baru tersebut.

Selama masa ini, orang tua sebaiknya tidak memaksakan anak untuk terlibat dalam percakapan lisan dengan cara menyuruh mereka mengulang-ulang kata. Percakapan lisan sebaiknya bersifat satu arah, di mana tuturan orang dewasa memberikan kesempatan bagi anak untuk menyerap bahasa.

Kapan bayi diperbolehkan diajarkan 2 bahasa sekaligus?

Menurut National Childbirth Trust, bahkan sejak bayi pun Bunda bisa mengajarkan anak dua bahasa sekaligus. Tidak ada alasan mengapa orang tua dan anggota keluarga lainnya tidak bisa berbicara dua bahasa kepada anak sejak lahir. Jadi, jangan ragu untuk memulainya.

Anak-anak menyerap bahasa dengan paling baik pada rentang usia sejak lahir hingga tiga tahun, dan kemampuan dwibahasa merupakan keterampilan hidup yang sangat berharga. Jadi, jika Bunda ingin anak tumbuh dengan kemampuan dwibahasa, mulailah berbicara kepada mereka menggunakan kedua bahasa tersebut segera setelah mereka lahir.

Tidak perlu merasa ketinggalan juga jika anak-anak sudah melewati usia balita namun belum fasih berbicara dalam Bahasa Inggris, atau Prancis, Spanyol, Mandarin, atau bahasa kedua pilihan lainnya. Sama sekali belum terlambat untuk mengajarkannya kepada mereka.

Keuntungan anak belajar Bahasa Inggris dari bayi

Ada beberapa keuntungan anak belajar Bahasa Inggris atau menjadi biliungal sejak bayi. Berikut keuntungannya seperti dikutip dari laman Learning English Kids British Council:

  • Anak-anak usia dini masih menggunakan strategi belajar bahasa bawaan mereka sendiri untuk menguasai bahasa ibu, dan mereka segera menyadari bahwa mereka juga dapat menggunakan strategi tersebut untuk mempelajari Bahasa Inggris.
  • Anak-anak usia dini memiliki waktu untuk belajar melalui kegiatan yang menyerupai permainan. Mereka menyerap bahasa dengan berpartisipasi dalam kegiatan bersama orang dewasa; pertama-tama mereka memahami konteks kegiatan tersebut, lalu menangkap makna dari bahasa yang digunakan oleh orang dewasa yang mendampingi mereka.
  • Anak-anak usia dini memiliki lebih banyak kelonggaran waktu untuk memasukkan Bahasa Inggris ke dalam kegiatan sehari-hari mereka. Program sekolah cenderung bersifat informal, dan pikiran anak-anak belum dipenuhi oleh tumpukan fakta yang harus dihafal dan diujikan. Mereka mungkin hanya mendapat sedikit atau bahkan tidak ada pekerjaan rumah sama sekali, serta tidak terlalu tertekan oleh tuntutan untuk mencapai standar tertentu.
  • Anak-anak yang berkesempatan mempelajari bahasa kedua sejak usia dini tampaknya terus menggunakan strategi belajar bahasa bawaan yang sama sepanjang hidup mereka saat mempelajari bahasa-bahasa lain. Mempelajari bahasa ketiga, keempat, atau bahkan lebih banyak bahasa lagi terasa lebih mudah dibandingkan saat mempelajari bahasa kedua.
  • Anak-anak usia dini yang menyerap bahasa secara alami, berbeda dengan anak-anak yang lebih besar atau orang dewasa yang harus mempelajarinya secara sadar, cenderung memiliki pelafalan yang lebih baik serta pemahaman yang lebih mendalam mengenai bahasa dan budaya tersebut.
  • Ketika anak-anak yang sebelumnya hanya menguasai satu bahasa (monolingual) memasuki masa pubertas dan menjadi lebih sadar diri, kemampuan mereka untuk menyerap bahasa secara alami akan berkurang; mereka kemudian merasa perlu mempelajari Bahasa Inggris secara sadar melalui program-program yang berbasis tata bahasa. Usia saat perubahan ini terjadi sangat bergantung pada tingkat perkembangan masing-masing anak serta harapan dari lingkungan sosial mereka.

Risiko jika anak belajar dua bahasa sekaligus saat bayi

Mengajarkan dua bahasa sekaligus saat bayi memang ada beberapa risiko, tapi hal tersebut umumnya bersifat sementara. Berikut beberapa risiko yang mungkin dihadapi ketika mengajarkan bilingualisme ke anak:

Dilansir Gen Physio Australia, anak-anak bilingual mungkin mengucapkan kata pertama mereka sedikit lebih lambat dibandingkan anak-anak monolingual, namun hal ini masih berada dalam rentang usia rata-rata, yaitu antara 8 hingga 15 bulan.

Anak-anak bilingual biasanya memiliki bahasa dominan (yaitu bahasa yang lebih mereka kuasai), karena umumnya terdapat paparan yang lebih besar terhadap salah satu bahasa tersebut. Selain itu, wajar jika bahasa dominan ini berubah seiring dengan perubahan situasi.

Selain itu, perkembangan bahasa dan bicara seharusnya berlangsung secara normal, terlepas dari potensi perbedaan yang telah disebutkan di atas!

Mitos dan fakta seputar membesarkan anak bilingual

Hingga kini masih banyak mitos yang masih diyakini sebagian orang tua seputar membesarkan anak bilingual. Beberapa mitosnya adalah sebagai berikut:

Tumbuh dengan lebih dari satu bahasa membuat anak bingung

Mengutip Baby Center, ini adalah kesalahpahaman yang paling umum terjadi. Sebagian orang tua beranggapan bahwa jika anak terpapar dua bahasa secara bersamaan, mereka mungkin akan bingung dan tidak dapat membedakan keduanya. Padahal, di negara kita saja, banyak orang tua dengan sadar mengajarkan bahasa daerah mereka pada anaknya.

Mitos mengenai kebingungan ini kemungkinan besar berasal dari penelitian terdahulu yang menggunakan metode kurang tepat dan menyimpulkan bahwa paparan dini terhadap dua bahasa dapat merugikan anak.

Membesarkan anak secara bilingual menyebabkan keterlambatan bicara

No, ini keliru, Bunda. Beberapa anak yang dibesarkan secara bilingual memang membutuhkan waktu sedikit lebih lama untuk mulai berbicara dibandingkan anak-anak dari keluarga monolingual. Namun, keterlambatan ini bersifat sementara dan, menurut para ahli, bukanlah suatu hal yang pasti terjadi pada semua anak.

Sayangnya, orang tua yang khawatir mengenai perkembangan bicara anak bilingual mereka sering kali disarankan untuk menggunakan satu bahasa saja. Hal ini terjadi karena di masa lalu, bilingualisme dianggap sebagai penyebab masalah perkembangan bahasa.

Anak bilingual cenderung mencampuradukkan kedua bahasa

Mencampuradukkan bahasa adalah hal yang wajar dan tidak berbahaya. Namun, bagi mereka yang tidak terbiasa dengan bilingualisme, hal ini dianggap sebagai bukti bahwa anak tidak benar-benar bisa membedakan kedua bahasa tersebut.

Sebagian besar anak yang dibesarkan secara bilingual memang akan mencampuradukkan bahasa saat mereka sedang mempelajari dan memilah kedua bahasa tersebut. Selain itu, salah satu bahasa sering kali memiliki pengaruh yang lebih kuat terhadap anak dibandingkan bahasa lainnya. Anak-anak yang memiliki kosakata lebih sedikit dalam bahasa minoritas mungkin akan menggunakan kata-kata dari bahasa mayoritas saat dibutuhkan.

Para ahli sepakat bahwa kebiasaan mencampuradukkan bahasa ini bersifat sementara. Seiring berkembangnya kosakata anak dalam kedua bahasa dan meningkatnya paparan terhadap masing-masing bahasa, kebiasaan ini perlahan akan hilang.

Jika tidak diajarkan bilingual sejak dini maka terlambat

Tidak pernah ada kata terlambat atau terlalu dini untuk memperkenalkan bahasa kedua kepada anak. Jika anak berusia lebih dari tujuh tahun dan Bunda mempertimbangkan untuk membesarkan mereka sebagai anak bilingual, hal itu masih belum terlambat.

Waktu terbaik ketiga untuk mempelajari bahasa kedua adalah mulai usia sekitar 8 tahun hingga masa pubertas. Penelitian menunjukkan bahwa setelah masa pubertas, bahasa baru disimpan di area otak yang berbeda, sehingga anak harus menerjemahkan atau melalui bahasa ibu mereka sebagai perantara untuk memahami bahasa baru tersebut.

Demikian cara mengajarkan Bahasa Inggris pada anak sejak bayi dan cara yang efektif. Semoga informasinya membantu ya!

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(rap/rap)

Simak video di bawah ini, Bun:

5 Tontonan agar Si Kecil Cepat Pintar Bahasa Inggris, Ada Finding Nemo

TOPIK TERKAIT

ARTIKEL TERKAIT

TERPOPULER

Sosok Orang Terkaya Baru di Asia, Hartanya Tembus Rp1.600 Triliun

Mom's Life Azhar Hanifah

Pesan KD untuk Aurel Harus Selalu Tampil Cantik di Depan Suami hingga Dilarang Terlalu Cerewet

Mom's Life Amira Salsabila

Cara Mengajarkan Bahasa Inggris kepada Bayi sejak Dini

Parenting Asri Ediyati

60 Kata-Kata untuk Kartu Ucapan Kelahiran Bayi Laki-Laki dan Perempuan

Kehamilan Amrikh Palupi

7 Hal dari Orang Tua yang Tak Akan Pernah Dilupakan Anak Seumur Hidup

Parenting Annisa Karnesyia

REKOMENDASI
PRODUK

TERBARU DARI HAIBUNDA

Sosok Orang Terkaya Baru di Asia, Hartanya Tembus Rp1.600 Triliun

60 Kata-Kata untuk Kartu Ucapan Kelahiran Bayi Laki-Laki dan Perempuan

Cara Mengajarkan Bahasa Inggris kepada Bayi sejak Dini

Pesan KD untuk Aurel Harus Selalu Tampil Cantik di Depan Suami hingga Dilarang Terlalu Cerewet

Kapan Alat Gerak Janin Mulai Terbentuk? Ini Tahapan Perkembangannya

FOTO

VIDEO

DETIK NETWORK