Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

parenting

Ciri Orang Tua Pemilik EQ Tinggi dari Kebiasaan Sehari-hari

Annisa Karnesyia   |   HaiBunda

Jumat, 18 Sep 2026 09:20 WIB

Ilustrasi Ibu dan Anak
Ciri Orang Tua Pemilik EQ Tinggi dari Kebiasaan Sehari-hari/ Foto: Getty Images/iStockphoto/Tran Van Quyet
Daftar Isi
Jakarta -

Kecerdasan emosional atau emotional intelligence (EQ) sangat dibutuhkan oleh orang tua dalam mengasuh anak-anaknya, Bunda. Kecerdasan emosional berkaitan dengan kemampuan mengenali emosi, mengelola reaksi, dan memahami perasaan anak.

Menurut psikolog klinis Meghna Singhal, Ph.D., tidak semua tantangan dalam pengasuhan anak dimenangkan hanya dengan penalaran dan logika. Banyak di antaranya membutuhkan kesadaran dan empati.

"Kesadaran emosional dan kemampuan mengelola emosi adalah landasan dari pola pengasuhan yang cerdas secara emosional. Membina perkembangan emosional yang sehat bagi anak-anak akan menentukan seberapa sukses dan bahagia mereka sepanjang hidupnya," kata Singhal, dilansir laman Psychology Today.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Kecerdasan emosional orang tua tidak selalu terlihat dari cara mereka menghadapi situasi besar. Kemampuan ini justru bisa terlihat dari kebiasaan sederhana yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Orang tua dengan kecerdasan emosional yang tinggi bisanya dapat dikenali dari ciri yang khas. Simak penjelasan lengkapnya berikut ini!

Ciri orang tua pemilik EQ tinggi

Melansir dari beberapa sumber, berikut ciri orang tua yang memiliki EQ tinggi dari kebiasaan sehari-hari:

1. Mereka terdiam sejenak sebelum bereaksi

Ledakan emosi anak bisa memicu frustrasi orang dewasa. Tetapi, orang tua yang cerdas secara emosional tahu bahwa reaksi pertama tidak selalu yang terbaik. Saat melihat anak frustrasi, mereka akan berhenti sejenak, menarik napas, dan menjauh.

Dikutip dari Times of India, jeda singkat itu memiliki dampak yang besar, Bunda. Jeda dapat mengajarkan anak-anak bahwa emosi tidak harus berubah menjadi kekacauan. Jeda juga menunjukkan kepada mereka bahwa bahkan di saat-saat tegang, pengendalian diri itu bisa dilakukan dengan baik.

Di situasi tersebut, orang tua tidak perlu bertindak emosi. Mereka hanya perlu cukup tenang untuk mencegah perasaan menjadi sesuatu yang merusak.

2. Mau mendengarkan perasaan di balik kata-kata anak

Anak-anak sering kali sulit mengungkapkan perasaan mereka. Orang tua yang cerdas secara emosional bisa mendengarkan perasaan di balik kata-kata anak.

Alih-alih terburu-buru mengoreksi atau mengabaikan, mereka bertanya apa yang sebenarnya terjadi. Mendengarkan seperti itu membantu anak-anak merasa dipahami daripada dihakimi.

Seiring waktu, hal itu juga membantu anak menyebutkan emosi mereka sendiri dengan lebih jelas. Anak yang merasa didengarkan lebih cenderung berbicara jujur, Bunda.

3. Menetapkan batasan tanpa rasa malu

Pola asuh yang cerdas secara emosional bukanlah pola asuh permisif. Ini bukan tentang membiarkan semua berjalan begitu saja atas nama kebaikan. Orang tua dengan EQ tinggi tahu bahwa anak-anak membutuhkan batasan, tetapi mereka juga tahu bahwa batasan dapat diberikan tanpa harus membuat anak malu.

Melalui batasan ini, anak-anak dapat mentolerir kekecewaan dengan sangat baik ketika karena mereka merasa dihormati dan aman secara emosional. Orang tua yang sadar secara emosional memahami bahwa disiplin paling baik ketika sistem saraf anak cukup tenang untuk benar-benar menyerap pelajaran. Teriakan, ancaman, atau sarkasme yang terus-menerus mungkin menciptakan kepatuhan jangka pendek, tetapi sering kali merusak kepercayaan seiring waktu.

Anak yang merasa tidak aman secara emosional mungkin patuh karena takut sementara diam-diam menjadi lebih cemas, menarik diri, atau menyimpan dendam di hatinya.

4. Tahu cara melakukan perbaikan setelah konflik

Tidak ada orang tua yang selalu benar setiap kali muncul masalah. Perbedaannya adalah orang tua yang cerdas secara emosional tidak berpura-pura bahwa kesalahan tidak pernah terjadi. Jika mereka bereaksi berlebihan, berbicara kasar, atau salah menilai suatu situasi, mereka akan kembali dan memperbaikinya.

Perbaikan itu mungkin berupa permintaan maaf sederhana, percakapan yang lebih tenang, atau pengakuan jujur. Dalam hal ini, anak-anak sangat diuntungkan.

Orang tua yang mau memperbaiki diri setelah konflik bisa menunjukkan kepada anak-anaknya bahwa hubungan dapat bertahan dari kesalahan, dan  akuntabilitas bukanlah kelemahan. Perbaikan adalah salah satu cara paling jelas yang digunakan orang tua untuk mengajarkan kematangan emosional.

5. Memberi ruang bagi perasaan tanpa membiarkan perasaan mengendalikan segalanya

Orang tua yang cerdas secara emosional tidak memperlakukan emosi sebagai masalah yang harus dihilangkan. Mereka memberi ruang bagi kesedihan, kemarahan, kekecewaan, dan kekhawatiran. Pada saat yang sama, mereka tidak membiarkan setiap perasaan menjadi penguasa.

Perbedaan ini penting karena anak-anak membutuhkan validasi dan struktur. Ketika setiap emosi diabaikan, anak-anak mungkin merasa diabaikan secara emosional.

Pola pengasuhan yang sehat mengajarkan bahwa emosi layak diakui tanpa memberikan otoritas tak terbatas kepada mereka. Seorang anak belajar bahwa perasaan dapat diungkapkan secara jujur sambil tetap terhubung dengan tanggung jawab, rasa hormat, dan harapan sehari-hari.

6. Suka merawat diri sendiri dengan baik

Menjadi orang tua adalah salah satu peran tersulit di dunia. Orang tua yang cerdas secara emosional berbelas kasih terhadap diri mereka sendiri.

Mereka memahami bahwa perlunya menjaga agar energi tetap penuh, dan bahwa menekankan kesejahteraan diri sendiri akan membuat mereka lebih sabar, gembira, dan bersemangat. Mereka mengakui bahwa kebutuhan mereka valid dan menginvestasikan sumber daya untuk mempraktikkan perawatan diri.

"Ketika mereka merasa lelah atau kewalahan, mereka mengambil langkah untuk memperbaiki keadaan dan memprioritaskan diri mereka sendiri," ungkap Singhal.

7. Suka mendisiplinkan untuk mengajar, bukan untuk menghukum

Mendisiplinkan berarti mengajarkan anak apa yang Bunda harapkan dari mereka. Orang tua yang cerdas secara emosional fokus pada penetapan batasan dan konsekuensi dari pelanggaran batasan tersebut, dengan penuh hormat.

Mereka tidak mendisiplinkan untuk menghukum. Mereka memahami bahwa konsistensi dan dukungan sangat membantu anak-anak untuk mematuhi aturan dan batasan.

"Mereka juga memahami bahwa berteriak, mengabaikan, atau menghukum mungkin menghasilkan hasil yang diinginkan dalam jangka pendek. Namun dalam jangka panjang, hal itu tidak memungkinkan anak-anak untuk mempelajari keterampilan mengelola perilaku mereka," ujar Singhal.

Demikian tujuh ciri orang tua pemilik EQ tinggi dari kebiasaan sehari-hari. Semoga informasi ini bermanfaat ya, Bunda.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(ank/rap)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda