PARENTING
10 Cara Orang Tua Jepang Mendidik Anak agar Sopan, Mindful, dan Kreatif
Annisa Karnesyia | HaiBunda
Rabu, 30 Sep 2026 18:20 WIBBanyak orang mengenal Jepang sebagai negara dengan sistem pendidikan terbaik di Asia. Di Jepang, anak tidak hanya dibimbing untuk pintar atau berprestasi secara akademis, tetapi juga tentang bagaimana mereka bersikap sopan ke orang lain.
Dilansir dari laman South China Morning Post (SCMP), pola pengasuhan ala Jepang menekankan cinta tanpa syarat, kebersamaan, dan harmoni dengan alam sebagai cara untuk menumbuhkan perilaku baik, mindful, dan kreatif. Melalui pola asuh ini, anak tubuh menjadi pribadi yang sopan tanpa harus mendapatkan nasihat panjang atau aturan kaku dari orang tuanya, Bunda.
Penulis Lisa Katayama dalam bukunya The Japanese Way of Parenting membagikan prinsip-prinsip inti yang terkait dengan pola pengasuhan anak ala Jepang. Simak penjelasan lengkapnya berikut ini ya!
10 cara orang tua Jepang mendidik anak
Berikut 10 cara orang tua Jepang mendidik anak menurut penulis Lisa Katayama:
1. Sapa orang lain dengan ramah dan sopan
Katayama mengatakan bahwa di Jepang, bahkan anak-anak kecil pun disambut dan disapa dengan hangat oleh orang dewasa. Salah satu contoh paling nyata adalah saat guru-guru menyapa murid dengan kalimat 'Ohayo gozaimasu' atau 'selamat pagi' setiap kali anak datang ke sekolah.
"Orang tua saling menyapa dengan cara yang sama. Ketika semua orang di sekitar berperilaku seperti ini, kita akan segera menyadari bahwa menyapa orang lain dengan sopan adalah hal yang biasa dilakukan orang," ungkap Katayama, dikutip dari The Independent.
"Ini mengajarkan anak-anak bahwa dunia di sekitar mereka layak untuk diakui. Ini tidak membutuhkan biaya, dan hanya satu sapaan hangat dapat membuat hari seseorang menjadi lebih baik."
2. Ajarkan anak-anak untuk membersihkan setelah mereka selesai menggunakan sesuatu
Sebagian besar orang tua Jepang tahu bahwa membersihkan setelah selesai menggunakan sesuatu adalah hal yang baik bila dilakukan sejak masa kanak-kanak. Pola asuh ini seperti mengajarkan anak tentang tanggung jawab, Bunda.
"Mengajari anak-anak bahwa mereka bertanggung jawab atas kesejahteraan lingkungan mereka adalah pelajaran hidup yang sepadan dengan usaha jangka pendek. Tujuannya bukan rumah yang bersih tanpa noda, tetapi anak-anak yang memahami bahwa mereka adalah peserta aktif yang membuat rumah tangga berfungsi," ujar Katayama.
3. Percayalah bahwa segala sesuatu memiliki roh
Orang Jepang menganut animisme, percaya bahwa segala sesuatu memiliki roh, bahkan laptop dan pisau dapur. Kepercayaan ini ternyata bisa diterapkan dalam pola pengasuhan.
"Ketika anak-anak didorong untuk berpikir seperti ini, mereka mulai memperlakukan dengan baik barang-barang mereka, dan akhirnya bisa memperhatikan orang lain serta alam dengan lebih hati-hati dan penuh pertimbangan," kata Katayama.
4. Pikirkan perasaan semua orang, bukan hanya perasaanmu sendiri
Salah satu nilai yang paling tertanam dalam budaya Jepang adalah kesadaran kolektif, yakni mempertimbangkan bagaimana tindakan kita dapat memengaruhi orang-orang di sekitar. Menurut Katayama, sekolah-sekolah di Jepang secara rutin mengadakan sesi di mana siswa mendiskusikan bagaimana pilihan mereka memengaruhi perasaan orang lain.
"Sebenarnya, menerapkan praktik ini di rumah tidak memerlukan kurikulum formal. Ini bisa sesederhana berhenti sejenak setelah konflik dan bertanya kepada anak, 'Menurutmu, bagaimana perasaan mereka?' Seiring waktu, kebiasaan memahami sudut pandang orang lain ini membangun empati yang tulus, bukan hanya kemampuan untuk meminta maaf, tetapi untuk benar-benar memahami apa yang sedang dialami orang lain," ungkapnya.
5. Pelajari seni mengucapkan 'Douzo!'
Kata Jepang 'douzo' kurang lebih memiliki arti 'ini dia'. Kata itu memiliki makna yang lebih dalam, yang ternyata bisa membentuk kepribadian anak. Katayama menyarankan untuk menggunakan kata-kata ini ketika dua anak berebut mainan yang sama.
"Ini adalah kata kecil yang mengandung ide besar, bahwa menawarkan sesuatu kepada orang lain terasa menyenangkan, dan melepaskan sesuatu yang kamu inginkan dapat menjadi imbalan tersendiri," ujar Katayama
6. Diajarkan untuk mengetahui perbedaan antara sepatu dalam ruangan dan sepatu luar ruangan.
Melepas sepatu di pintu adalah aspek yang dikenal luas dalam kehidupan rumah tangga Jepang. Katayama menyarankan untuk meletakkan keset atau rak di dekat pintu masuk sehingga semua orang dapat meninggalkan sepatu mereka di sana.
"Kebiasaan ini bisa membuat rumah lebih bersih, dan menciptakan ritual kecil namun bermakna, momen transisi antara dunia luar dan ketenangan di dalam rumah," katanya.
7. Lakukan satu hal dalam satu waktu, dengan penuh kesadaran
Katayama mengatakan banyak orang tua mengasuh anak dengan terburu-buru. Kecepatan ini bukan hanya melelahkan bagi orang dewasa, tetapi juga menciptakan lingkungan yang teralihkan dan terpecah-pecah bagi anak-anak yang masih belajar bagaimana fokus dan mengatur diri mereka sendiri.
Nah, konsep melakukan satu hal dalam satu waktu dengan penuh perhatian adalah dasar dari Buddhisme Zen dan sangat terintegrasi dalam kehidupan sehari-hari di Jepang. Fokus penuh kesadaran seperti ini, jika dicontohkan secara konsisten, memberi anak-anak kesempatan untuk memperlambat tempo dan melakukan hal yang sama, serta akan membantu mereka untuk lebih mudah fokus.
8. Membiasakan anak untuk menyapa makanan yang akan dikonsumsi
Sebelum makan, anak-anak Jepang mengucapkan 'Itadakimasu', sebuah ungkapan yang menurut Katayama tidak memiliki padanan bahasa lain yang sempurna, tetapi dapat mengungkapkan rasa terima kasih atas makanan tersebut, dan kepada semua orang yang membantu menyajikannya di meja makan.
"Ritual kecil saat makan ini memiliki nilai tersendiri, seperti dapat memperlambat segalanya, membangun apresiasi terhadap sesuatu yang mudah dianggap remeh, dan memberi anak-anak sinyal bahwa makanan, dan orang-orang di sekitar meja, layak mendapatkan perhatian penuh mereka," kata Katayama.
9. Mengajarkan konsep pengendalian diri
Ada konsep bernama Enryo di Jepang, yakni konsep pengendalian diri sebagai bentuk pertimbangan terhadap orang lain. Katayama mengatakan bahwa dalam acara makan bersama, orang Jepang sering kali membiarkan potongan terakhir di piring tidak tersentuh, sebagai bentuk penghormatan kepada semua orang di meja makan.
"Ini tindakan kecil, tetapi ini menandakan sesuatu yang lebih besar, bahwa keinginan kita sendiri tidak secara otomatis lebih diutamakan daripada kenyamanan orang lain," ujarnya.
Menurut Katayama, konsep ini cukup ampuh untuk diperkenalkan kepada anak-anak, yang secara alami cenderung mengambil apa yang mereka inginkan. "Seiring waktu, ini mengajarkan anak-anak bahwa pengendalian diri bisa menjadi kekuatan tersendiri," katanya.
10. Mengajarkan cara menemukan kedamaian
Setelah Perang Dunia II, Jepang mengadopsi pasifisme sebagai nilai nasional inti. Selama beberapa generasi, komitmen itu meresap ke dalam budaya Jepang.
Konsep ini mengajarkan kita untuk menemukan kedamaian batin sendiri. Ini bukan tentang bersikap tenang, tetapi tentang secara sadar memilih cara yang tenang dan mantap. Semakin sering kita berlatih, semakin kedamaian itu menular ke anak dan semua anggota keluarga.
Demikian 10 cara orang tua Jepang mendidik anak menurut penulis Lisa Katayama. Semoga informasi ini bermanfaat ya, Bunda.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(ank/rap)Simak video di bawah ini, Bun:
Gen Alpha vs Gen Beta, Begini Perbedaan Pola Asuhnya
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
20 Perbuatan Orang Tua yang Tanpa Disadari Menyakiti Hati Anak, Hindari ya Bun
Kini Jadi Psikolog, Caca Tengker Tak Ingin Andalkan Teori dalam Mengasuh Anak
Pola Asuh Orang Tua Sangat Memengaruhi Sisi Kekanakan Anak saat Dewasa
5 Dampak Buruk Karakteristik Sindrom Anak Emas, Berprestasi tapi Takut Gagal
TERPOPULER
Julie Estelle Melahirkan Anak Kedua, Nama Bayi Laki-lakinya Curi Perhatian
10 Cara Orang Tua Jepang Mendidik Anak agar Sopan, Mindful, dan Kreatif
Resep Udang Saus Padang yang Gurih dan Pedas, Praktis Dibuat di Rumah
Harga Rumah Melonjak, Ribuan Warga Bangun Tenda & Tinggal di Alun-alun Kota
Kenali Ciri Kepribadian Orang dengan Nama Awalan Huruf A
REKOMENDASI PRODUK
5 Rekomendasi Blush On Stick Terbaik untuk Bikin Pipi Merona Natural dan Fresh
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
7 Smart Door Lock Terbaik untuk Rumah Lebih Aman Anti Maling
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
Deretan Mesin Cuci Termahal, Fitur Canggih dan Harganya Bikin Melongo
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
5 Rekomendasi Merk Baju Bayi Perempuan Baru Lahir yang Lucu dan Unik
Annisa KarnesyiaREKOMENDASI PRODUK
7 Produk Wardah yang Aman untuk Ibu Hamil, Lengkap dari Sabun Cuci Wajah-Suncreen
Annisa KarnesyiaTERBARU DARI HAIBUNDA
Momen Arie Kriting dan Orang Tua Saling Menguatkan Selepas Adik Meninggal, Intip Potret Harunya
Resep Udang Saus Padang yang Gurih dan Pedas, Praktis Dibuat di Rumah
10 Cara Orang Tua Jepang Mendidik Anak agar Sopan, Mindful, dan Kreatif
Julie Estelle Melahirkan Anak Kedua, Nama Bayi Laki-lakinya Curi Perhatian
Harga Rumah Melonjak, Ribuan Warga Bangun Tenda & Tinggal di Alun-alun Kota
FOTO
VIDEO
DETIK NETWORK
-
Rekomendit
Camping dalam Waktu Dekat? Ini Cara Tetap Bersih dengan Bidet Elektrik Portable
-
Beautynesia
Jangan Asal Jepret! Ini 3 Tempat yang Melarang Pengunjung Ambil Foto
-
Female Daily
Kim Ji-won Comeback Drama Sebagai Dokter Lewat Doctor X, Intip 8 K-Drama yang Pernah Dibintanginya
-
CXO
Turnamen Voli SBY Cup 2026 di Magelang 13-17 Mei, Ada LavAni-Samator
-
Wolipop
Jonathan Anderson Dedikasikan Koleksi Dior untuk Mathilde Favier, Jisoo Terharu
-
Mommies Daily
Perlengkapan Mandi Remaja: 8 Barang yang Sebaiknya Mulai Disiapkan