PARENTING
10 Ciri Anak Perfeksionis yang Diam-diam Merasa Tertekan Menurut Psikolog
Annisa Karnesyia | HaiBunda
Kamis, 08 Oct 2026 13:40 WIBBunda pernah melihat anak yang menangis hanya karena nilainya tidak sempurna? Atau merasa bersalah ketika hasil pekerjaannya tidak sesuai harapan?
Perilaku tersebut sekilas mungkin terlihat sebagai tanda bahwa anak adalah pekerja keras. Padahal, menurut psikolog, itu bisa menjadi ciri anak perfeksionis yang diam-diam merasa tertekan, Bunda.
Ada perbedaan besar antara seorang anak yang berusaha sebaik mungkin dan anak yang berupaya mencapai kesempurnaan. Meskipun keduanya tampak serupa, motivasinya berbeda.
Seorang anak yang ambisius dan pekerja keras memahami bahwa kesalahan adalah bagian dari proses. Tetapi seorang anak yang merasa tertekan untuk menjadi sempurna sering kali didorong oleh rasa takut akan kegagalan dan kebutuhan mendalam akan pengakuan dari luar.
"Kita semua ingin anak-anak kita berusaha keras, peduli dengan pekerjaan mereka, dan merasa bangga dengan pencapaian mereka," kata penulis buku Never Enough: When Achievement Culture Becomes Toxic-And What We Can Do About It, Jennifer Breheny Wallace.
"Tetapi dalam budaya yang terobsesi dengan prestasi saat ini, banyak anak yang menginternalisasi pesan bahwa siapa diri mereka saja tidak cukup, yang penting adalah apa yang mereka hasilkan, bagaimana mereka berprestasi, atau bagaimana mereka dipandang," sambungnya, dilansir laman Parents.
Menurut psikiater anak, remaja, dan dewasa, Evita Limon-Rocha, MD, kebutuhan untuk menjadi sempurna sering kali berasal dari campuran stresor eksternal dan temperamen internal. Jika mencurigai anak merasakan tekanan tersebut, maka orang tua perlu mengenali tandanya lebih dini.
Ciri anak perfeksionis menurut pakar
Nah, berikut 10 ciri anak perfeksionis yang diam-diam merasa tertekan menurut pakar:
1. Anak menghabiskan waktu lebih lama dari yang diperkirakan untuk menyelesaikan tugas
Limon-Rocha mengatakan salah satu ciri anak perfeksionis dapat terlihat saat dia menghabiskan waktu berjam-jam untuk melakukan pekerjaan karena ingin hasilnya sempurna. Mereka mungkin menolak untuk beralih ke tugas lain, seperti makan atau mandi, sampai tugas yang sedang mereka kerjakan 'sempurna'.
2. Anak cenderung mengkritik diri sendiri secara berlebihan
Menurut Wallace, anak-anak yang berjuang dengan perfeksionisme mungkin mengabaikan pujian, dan malah terpaku pada kesalahan kecil. Mereka bahkan mungkin mengatakan hal-hal seperti 'Aku bodoh sekali' karena melakukan kesalahan yang sepele.
3. Anak mengungkapkan kebutuhan agar tugas-tugas menjadi sempurna
Anak-anak yang perfeksionis suka mengungkapkan keinginannya untuk mengerjakan tugas dengan sempurna. Mereka bahkan tak ragu untuk bicara tegas tentang hal ini ke banyak orang di sekitarnya.
4. Anak menghindari tantangan
Meski anak yang perfeksionis selalu ingin menjadi sempurna, mereka cenderung menghindari tantangan. Menurut Wallace, jika anak menolak untuk mencoba sesuatu yang baru atau menyerah ketika keadaan menjadi sulit, ini mungkin karena mereka takut gagal, atau merasa perlu untuk menjadi sempurna.
5. Anak mengalami episode kemarahan atau tangisan
Limon-Rocha mengungkap, anak yang perfeksionis mungkin menunjukkan emosi yang kuat jika aktivitas atau tugas tidak diselesaikan dengan sempurna. Episode ini dapat menjadi lebih sering dan terjadi setiap hari, Bunda.
6. Anak suka menunda-nunda pekerjaan sekolah atau tugas lainnya
Ironisnya, para perfeksionis sering menunda-nunda pekerjaan. Hal ini dilakukan bukan karena mereka tidak peduli, tetapi karena rasa takut tidak melakukannya dengan 'benar'.
7. Anak menunjukkan ketergantungan yang berlebihan pada pujian
Menurut Wallace, jika anak-anak membutuhkan jaminan terus-menerus dan merasa hancur jika mendapat nilai kurang dari A, mereka mungkin mengaitkan harga diri dengan persetujuan eksternal. Mereka selalu haus dengan pujian ketika melakukan setiap hal.
8. Anak mengalami kesulitan tidur
Limon-Rocha menjelaskan bahwa anak-anak yang berjuang dengan perfeksionisme sering merenung sebelum tidur. Mereka suka mengkhawatirkan apa yang tidak mereka lakukan dengan sempurna atau bagaimana mereka mungkin akan membuat kesalahan di hari berikutnya.
9. Anak menunjukkan perubahan kebiasaan makan
Beberapa anak mungkin makan lebih banyak atau lebih sedikit sebagai cara untuk mengatasi stres yang terkait dengan perfeksionisme. Perubahan nafsu makan bisa menjadi salah satu dari beberapa tanda fisik bahwa Si Kecil merasa tertekan untuk menjadi sempurna.
10. Anak memiliki ekspektasi yang sangat tinggi
Ekspektasi ini tidak hanya sulit dicapai, tetapi dalam beberapa kasus mungkin sama sekali tidak realistis. Anak yang perfeksionis sering memiliki ciri ini dalam kepribadiannya, Bunda.
Cara mengelola sifat perfeksionis anak
Menjadi perfeksionis tidak selalu berakhir buruk. Sebagai orang tua, Bunda bisa membantu anak mengelola sifatnya ini agar tidak berdampak negatif pada kehidupan.
Kunci keseimbangan ini adalah memastikan anak memiliki rasa aman yang mendalam bahwa mereka dihargai apa adanya. Anak-anak perlu merasa diperhatikan, dihargai, dan dibutuhkan oleh keluarga dan komunitas mereka.
Ada beberapa cara yang dapat dilakukan Bunda untuk membantu anak mengelola sifat perfeksionisnya, yakni:
- Pisahkan nilai anak dari prestasinya
- Tunjukkan ketidaksempurnaan sebagai contoh
- Berikan empati terlebih dahulu ketika mereka kecewa karena gagal mencapai tujuan
- Ciptakan ruang untuk istirahat dan bermain
- Perkuat rasa penting yang mereka rasakan
- Dukung ketekunan dan semangat untuk mencapai tujuan jangka panjang.
Demikian 10 ciri anak perfeksionis yang perlu Bunda ketahui. Semoga informasi ini bermanfaat ya.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(ank/rap)Simak video di bawah ini, Bun:
Ayah Terlihat Cuek? Ini Dampaknya ke Mental dan Kepribadian Anak
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
5 Tips Mengembangkan Keterampilan Anak di Masa Pandemi Menurut Psikolog
10 Tips Ajarkan Anak Anger Management Biar Mudah Tenang & Enggak Gampang Marah
Perbedaan Usia Anak Terpaut Jauh, Ini Cara Mona Ratuliu Lakukan Bonding Time
Masih Banding-bandingkan Anak? Coba Simak Pesan Kak Seto Soal Inner Strength
TERPOPULER
5 Potret Rumah Baru Luna Maya & Maxime Bouttier di Bali, Nyaman dan Estetik
10 Ciri Anak Perfeksionis yang Diam-diam Merasa Tertekan Menurut Psikolog
Harga Emas Hari Ini Jatuh Lagi, Segini Angkanya
Potret Memesona Tika Bravani dan Ayushita Hadiri Busan International Film Festival di Korea Selatan
5 Kebiasaan Istri Saat Belanja Berdasarkan Zodiak
REKOMENDASI PRODUK
7 Rekomendasi Kipas Portable dengan Angin Kencang, Praktis Dibawa ke Mana Saja
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
5 Rekomendasi Eye Patch untuk Mata Lelah dan Panda, Bikin Tampilan Lebih Fresh
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
Deretan Harga Kulkas Termahal dan Fitur di Baliknya
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
7 Rekomendasi Sofa Bayi yang Bagus & Nyaman untuk Belajar Duduk
Annisa KarnesyiaREKOMENDASI PRODUK
9 Rekomendasi Loose Powder untuk Ibu Hamil
Annisa KarnesyiaTERBARU DARI HAIBUNDA
Frisian Flag Ajak Ibu Luangkan Waktu untuk Diri Sendiri agar Kembali Lebih Segar dan Produktif
5 Potret Rumah Baru Luna Maya & Maxime Bouttier di Bali, Nyaman dan Estetik
10 Ciri Anak Perfeksionis yang Diam-diam Merasa Tertekan Menurut Psikolog
Harga Emas Hari Ini Jatuh Lagi, Segini Angkanya
5 Kebiasaan Istri Saat Belanja Berdasarkan Zodiak
FOTO
VIDEO
DETIK NETWORK
-
Rekomendit
Cari Batik untuk Acara Formal? Ini Pilihannya yang Bisa Kamu Lirik
-
Beautynesia
4 Alasan Persahabatan Sesama Anak Bungsu Unik dan Nyambung
-
Female Daily
Bukan Sekadar Ikuti Tren, “The Nine Cuts by Lie Kuang” Jadi Referensi Baru untuk Hairdresser Indonesia
-
CXO
Turnamen Voli SBY Cup 2026 di Magelang 13-17 Mei, Ada LavAni-Samator
-
Wolipop
Berawal dari Jalanan, Viral Wanita Nigeria Tampil di Fashion Show Chanel 2027
-
Mommies Daily
Mau Daftar SD 2027? Ini Kisaran Biaya Masuk SD Swasta di Depok, Bekasi, dan Bogor