parenting
2 Ciri Anak Punya Sensitivitas Tinggi Menurut Psikolog
HaiBunda
Rabu, 07 Oct 2026 18:20 WIB
Daftar Isi
Setiap anak memiliki cara yang berbeda dalam merespons lingkungan di sekitarnya. Ada anak-anak yang punya sensitivitas tinggi, sehingga cenderung lebih peka terhadap suara hingga suasana hati orang lain.
Sensitivitas yang tinggi bukan berarti anak memiliki kemampuan yang aneh ya, Bunda. Sensitivitas justru dapat menjadi bagian dari karakter dan cara anak memproses pengalamannya.
"Sebagian anak menangis karena kekecewaan sekecil apa pun, sementara yang lain mungkin mundur ketika pintu kelas dibanting keras. Beberapa bahkan mungkin membawa beban emosional yang terasa tidak proporsional dengan situasi yang mereka hadapi," kata psikolog Amerika, Mark Travers, Ph.D., dilansir Psychology Today.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Anak-anak yang sering dituduh 'bereaksi berlebihan untuk menarik perhatian' ini sebenarnya adalah mereka yang menjalani hidup dengan kepekaan emosional yang lebih tinggi daripada teman-teman sebayanya."
Memahami ciri anak yang memiliki sensitivitas tinggi ini menjadi penting untuk mencegah hambatan perkembangan. Lantas, seperti apa ciri anak yang memiliki sensitivitas tinggi menurut psikolog? Simak penjelasannya berikut ini ya!
Ciri anak punya sensitivitas tinggi
Berikut 2 ciri anak yang memiliki sensitivitas tinggi menurut Travers:
1. Memiliki respons emosional yang tidak proporsional
Anak-anak yang sensitif secara emosional sering mengalami perasaan dengan intensitas yang jauh lebih tinggi daripada teman sebaya mereka. Pengamatan ini berakar pada sifat temperamen yang telah dipelajari dengan baik atau dikenal sebagai Sensory Processing Sensitivity (SPS).
Ciri ini melibatkan pemrosesan mendalam terhadap informasi emosional dan sensorik, yang dapat membuat anak-anak lebih reaktif terhadap rangsangan positif maupun negatif. Penelitian menunjukkan bahwa tingkat sensitivitas emosional yang tinggi terkait dengan masalah internalisasi seperti kecemasan dan depresi, terutama di lingkungan di mana dukungan atau sensitivitas orang tua rendah.
Sebuah studi psikopatologi perkembangan tahun 2025 yang diterbitkan oleh Cambridge University Press menemukan bahwa anak-anak dengan sensitivitas lingkungan yang lebih tinggi mengembangkan lebih banyak masalah internalisasi ketika mereka menerima pengasuhan yang kurang mendukung. Pola emosional tersebut dapat meliputi:
- Kesedihan yang hebat dan berkepanjangan setelah mengalami kemunduran yang relatif kecil
- Kesedihan atau kecemasan yang luar biasa terkait konflik
- Menganggap kritik konstruktif sebagai penolakan pribadi
- Kekhawatiran mendalam tentang situasi sosial
"Anak yang sensitif secara emosional merasakan lebih banyak hal, dan mereka sering menafsirkan umpan balik sebagai kegagalan pribadi daripada bimbingan. Meskipun sebagian orang mungkin menganggap anak ini 'terlalu dramatis' atau 'terlalu manja', pada kenyataannya, ini adalah cerminan dari kedalaman pengalaman batin mereka," ungkap Travers.
2. Normal' bisa membuat anak yang sensitif menjadi kewalahan
Bunda mungkin pernah bertemu setidaknya satu anak yang menganggap pesta ulang tahun lebih menjengkelkan alih-alih menyenangkan. Bagi anak-anak yang sensitif, sesuatu yang dianggap normal justru sering kali membuat mereka kewalahan.
"Responsivitas sensorik yang tinggi merupakan ciri khas anak-anak dengan sensitivitas emosional dan sensorik yang kuat," ujar Travers.
Dalam studi yang sama disebutkan bahwa anak-anak ini bereaksi lebih kuat terhadap input sensorik seperti suara, cahaya, sentuhan, dan bau. Ini berarti bahwa apa yang orang lain sebut sebagai 'berisik' atau 'hanya ramai' benar-benar bisa membuat anak yang sensitif jadi kewalahan.
"Anak-anak ini tidak hanya memperhatikan lebih banyak detail. Sistem saraf mereka dirancang untuk merespons detail tersebut secara lebih mendalam. Ini berarti bahwa lingkungan dengan masukan sensorik yang tidak terduga atau intens dapat memicu respons stres yang tampak seperti tantrum atau penarikan diri," kata Travers.
Pola asuh untuk anak dengan sensitivitas tinggi
Orang tua yang memiliki anak dengan sensitivitas ini perlu menjelaskan dengan baik bahwa hal itu bukanlah hal yang buruk. Anak perlu memahami bahwa ini bukan gangguan. Namun, pola ini dapat berlanjut hingga dewasa, terutama jika anak tidak mendapatkan dukungan dari lingkungannya.
"Anak-anak dengan sensitivitas tinggi sangat diuntungkan dari struktur, pengasuhan yang hangat, dan harapan yang jelas, terutama ketika terjadi transisi atau stres," ujar Travers.
"Hormati ambang batas sensorik anak. Ini bukan berarti memanjakan perilaku 'pemilih', tapi menghargai sistem saraf yang secara harfiah menyerap lebih banyak. Pahami lingkungan seperti apa yang menguras energi dan lingkungan seperti apa yang memberi energi pada anak. Lalu, gunakan empati, bukan penolakan," sambungnya.
Demikian ciri anak yang punya sensitivitas tinggi menurut psikolog. Semoga informasi ini bermanfaat ya.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(ank/rap)TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
Parenting
Cara Mengenali Anak yang Terlalu Sensitif, Ada 2 Tanda yang Perlu Diketahui Orang Tua
Parenting
12 Tanda Anak Punya Otak Sangat Sensitif Menurut Pakar
Parenting
7 Cara Mengenali dan Mengasuh Anak Sensitif untuk Bantu Mengelola Emosinya
Parenting
Cara Efektif Menghadapi Anak Super Sensitif
Parenting
Anak Terlalu Sensitif dan Mudah Menangis, Bunda Harus Bagaimana?
5 Foto
Parenting
Bagikan Foto Lebaran, Deretan Artis Ini Masih Rahasiakan Wajah Anak
HIGHLIGHT
REKOMENDASI PRODUK
INFOGRAFIS
KOMIK BUNDA
FOTO
Fase Bunda
7 Cara Mengenali dan Mengasuh Anak Sensitif untuk Bantu Mengelola Emosinya
Kenali Ciri-Ciri Kepribadian Anak yang Sangat Perasa, Bunda Perlu Tahu
Cara Mengenali Anak yang Terlalu Sensitif, Ada 2 Tanda yang Perlu Diketahui Orang Tua