HaiBunda

PARENTING

Anak Mulai Punya Teman AI? Ini yang Perlu Dibicarakan Orang Tua

Elia Amaliana   |   HaiBunda

Senin, 02 Nov 2026 21:05 WIB
Anak curhat ke AI/ Foto: Getty Images/Antonio_Diaz

Di era digital ini, anak bisa dengan mudah mengakses berbagai informasi dan memanfaatkan teknologi untuk membantu aktivitas sehari-hari, termasuk mengerjakan PR melalui bantuan kecerdasan buatan atau Artifical Intelligence (AI). Dikutip dari Amazon, Artifical Intelligence (AI) adalah sebuah teknologi transformatif yang memungkinkan mesin melakukan tugas pemecahan masalah seperti manusia. 

Namun, meskipun banyak menawarkan kemudahan, AI memiliki keterbatasan dan tidak bisa diandalkan seperti manusia. Teknologi ini berpotensi memberikan saran yang tidak aman atau menyalahgunakan informasi pribadi. Selain itu para ahli kesehatan mental juga semakin memperhatikan implikasinya bagi anak dan remaja. Terutama ketika teknologi digunakan untuk memenuhi kebutuhan emosional.

Dikutip dari Parents, sebuah laporan terbaru dari Common Sense Media menemukan bahwa 72 persen remaja yang menggunakan AI, dan 33 persen memiliki hubungan atau persahabatan dengan mereka. Para remaja yang disurvei memiliki tujuan yang berbeda dalam menggunakan AI, mulai dari mencari tahu sesuatu atau mencari hiburan untuk mengisi rasa sepi dan bosan.


Menurut direktur senior program AI untuk Common Sense Media, Robbie Torney, penggunaan AI bisa mengatasi rasa kesepian yang dialami oleh 21 persen remaja berusia 13 hingga 17 tahun. Bahkan, banyak yang memilih untuk berinteraksi dengan mesin dibanding manusia. Mereka merasa bisa berbagi rahasia tanpa harus dihakimi. Semua ini terjadi karena orang tua yang belum sepenuhnya memahami bahaya dari AI.

Apa itu pendamping AI?

Menurut psikiater di UTHealth Houston dan kepala petugas medis di Kampus Ilmu Perilaku di UTHealth Houston, Lokesh Shahani, pendamping AI atau chatbot sering digunakan untuk memudahkan manusia dalam segala hal, mulai dari tugas umum hingga pertanyaan pribadi.

Selain itu, pendamping AI juga bisa membangun hubungan, menawarkan dukungan emosional, dan terlibat dalam percakapan yang berkelanjutan. Menurutnya, sistem ini dirancang lebih personal dan empatik.

Mengapa anak menggunakan AI?

Menurut laporan dari Common Sense Media, satu dari tiga remaja menggunakan AI untuk interaksi sosial dan hubungan, bahkan tidak jarang mereka mencari dukungan emosional, persahabatan, dan interaksi romantis.

Para ahli mengatakan meskipun banyak remaja memandang AI sebagai alat, namun sebagian besar lainnya memperlakukan AI seperti hubungan nyata. Yang lebih mengecewakan adalah menerima fakta bahwa hampir sepertiga remaja menganggap percakapan dengan AI sama atau lebih memuaskannya dibanding percakapan dengan manusia.

Mereka sering kali berbagi hal-hal yang tidak diceritakan pada teman atau keluarga mereka. Kabar baiknya, sebanyak 80 persen remaja pengguna AI menghabiskan waktu dengan teman daripada AI.

Dr. Shahani menjelaskan bahwa remaja yang menggunakan AI untuk mengisi kondisi emosional dan sosial cenderung memiliki koneksi sosial yang kurang sehingga mereka beralih ke AI untuk mengisi kekosongan atau kebutuhan.

Rasa penasaran

Hiburan atau rasa ingin tahu adalah faktor yang paling memengaruhi anak menggunakan AI. Beberapa anak yang lain mencoba menggunakannya sebagai tempat untuk mengekspresikan diri secara bebas. Daya tarik dari platform ini adalah tidak pernah berselisih dan selalu tersedia.

Perasaan kesepian

Banyak anak yang merasa kesepian dan terasing di tengah kehidupan yang semakin bergantung pada dunia digital. Dalam situasi ini, pendamping AI hadir sebagai solusi instan. Menurut seorang psikiater dan wakil kepala petugas medis di Hackensack Meridian Carrier Clinic, James Sheree, MD, jika alat ini dapat ‘mengenal’ seorang remaja dengan cepat hanya berdasarkan beberapa perintah. Dari situ, anak akan merasa sedang berbicara dengan teman dekat yang sudah kenal sejak lama.

Menginginkan kenyamanan dan pengakuan

Menurut Dr. Shahani, AI bisa menjadi tempat bercerita yang menarik bagi remaja yang membutuhkan respons yang terasa empatik tanpa menghakimi. Hal ini membuat remaja merasa didengarkan, terutama ketika menghadapi emosi yang intens dan hubungan sosial yang rumit. 

Dr. Sherer juga menjelaskan bahwa sebagian besar remaja lebih mencurahkan isi hati pada AI karena dianggap dapat memberikan perhatian penuh. Namun, kondisi ini bisa membuat anak ketergantungan, sehingga sulit untuk membedakan mana hubungan yang nyata dan buatan. Selain itu, akan ada peluang terpapar konten yang tidak pantas atau menyesatkan.

Potensi Bahaya AI

  • Risiko kesehatan mental
  • Masalah privasi
  • Keterikatan
  • Masalah pada keterampilan sosial

Tips untuk orang tua

  • Jelaskan tentang privasi, bahwa AI dapat menyimpan dan membagikan apa yang diceritakan remaja pada mereka.
  • Bangun hubungan yang kuat dengan Si Kecil, hal ini akan membuat mereka berpaling sekaligus meningkatkan kepercayaan diri.
  • Bertanyalah tanpa menggurui. Tetaplah memperhatikan bagaimana anak berinteraksi dengan AI.
  • Dampingi anak saat menggunakan AI dan coba untuk mendiskusikan hal yang menarik perhatian kalian.
  • Ciptakan batasan teknologi bersama.
  • Bunda perlu mewaspadai tanda-tanda bahaya. Jika AI mulai menggantikan teman, tidur, atau kehidupan nyata, orang tua perlu segera mengambil tindakan.
  • Pupuk hubungan yang tulus seperti memprioritaskan waktu bersama keluarga, aktivitas bersama, dan momen tanpa perangkat elektronik.
  • Ketahui kapan harus meminta bantuan. Jika Bunda melihat adanya perubahan perilaku atau kondisi emosional Si Kecil yang mengkhawatirkan, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan tenaga profesional.

Itulah informasi mengenai anak yang kini mulai menjadikan AI sebagai teman. Jika penggunaan AI memengaruhi kehidupan sehari-hari, Bunda bisa mengajak Si Kecil berdiskusi dan mengingatkannya untuk tetap menjaga hubungan dengan orang-orang di sekitarnya. Semoga membantu, Bunda.

 

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

 

(rap/rap)

Simak video di bawah ini, Bun:

Ciri Kepribadian Anak yang Sering Dimarahi Orang Tua

TOPIK TERKAIT

ARTIKEL TERKAIT

TERPOPULER

30 Th Bersama, Intip Momen Mona Ratuliu dan Indra Brasco Liburan Romantis Tanpa Anak-Anak

Mom's Life Amira Salsabila

Anak Mulai Punya Teman AI? Ini yang Perlu Dibicarakan Orang Tua

Parenting Elia Amaliana

Bius Total saat Operasi Caesar, Kenali Risiko dan Kondisi yang Membutuhkannya

Kehamilan Dwi Indah Nurcahyani

Ciri Kepribadian Orang yang Lebih Suka Beraktivitas di Malam Hari atau Night Owl

Mom's Life Amira Salsabila

Haru, Enno Lerian Ungkap Terima Kasih untuk Sang Putra yang Bantu Wujudkan Warung Impian

Mom's Life Amira Salsabila

REKOMENDASI
PRODUK

TERBARU DARI HAIBUNDA

30 Th Bersama, Intip Momen Mona Ratuliu dan Indra Brasco Liburan Romantis Tanpa Anak-Anak

Anak Mulai Punya Teman AI? Ini yang Perlu Dibicarakan Orang Tua

Bius Total saat Operasi Caesar, Kenali Risiko dan Kondisi yang Membutuhkannya

Ciri Kepribadian Orang yang Lebih Suka Beraktivitas di Malam Hari atau Night Owl

7 Rekomendasi Spatula Silikon yang Bagus Tahan Lama & Aman

FOTO

VIDEO

DETIK NETWORK