parenting
Ini yang Bisa Membekas dalam Ingatan Anak, Ternyata Bukan Liburan
HaiBunda
Jumat, 23 Oct 2026 13:30 WIB
Pengalaman masa kecil memiliki peran penting dalam membentuk ingatan hingga perkembangan anak ke depannya. Tak heran bila banyak orang tua berusaha menciptakan momen menyenangkan bersama anak melalui berbagai kegiatan, termasuk mengajak mereka berlibur ke tempat-tempat baru.
Namun, kenangan yang sebenarnya paling membekas dalam ingatan anak ternyata tidak selalu berhubungan dengan liburan atau perjalanan yang menyenangkan dengan keluarga. Menurut pakar, pengalaman sederhana yang berhubungan dengan emosional tidak selalu diingat oleh Si Kecil, Bunda.
"Konsep bahwa hanya ada satu ingatan inti cenderung dilebih-lebihkan," kata psikolog klinis, profesor, dan dekan Sekolah Psikologi di Notre Dame de Namur University, Helen Marlo, Ph.D.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tetapi yang diakui oleh bidang ini adalah bahwa pengalaman yang signifikan secara emosional, ketika diulang, menjadi mudah diakses sebagai apa yang kita sebut ingatan autobiografis. Ingatan-ingatan ini membantu mendefinisikan diri kita sendiri, dan membantu menjelaskan orang-orang dalam hidup kita," sambungnya.
Ketika orang berbicara tentang 'kenangan inti', banyak yang merujuk pada kenangan yang akan diingat anak-anak dengan penuh kasih sayang hingga dewasa, terlepas dari apakah kenangan tersebut membentuk kepribadian atau tidak. Namun, bila memberi label sesuatu sebagai 'ingatan inti', hal ini bisa bisa menjadi rumit.
"Peristiwa yang kita anggap penting sebenarnya berubah seiring waktu. Itulah mengapa orang tidak menulis otobiografi atau memoar mereka sampai usia tua. Saat itulah ingatan-ingatan itu menjadi stabil," ujar profesor perkembangan manusia, psikologi, dan ilmu kognitif di Cornell University, Qi Wang, Ph.D., dikutip dari Good Housekeeping.
Rutinitas berulang lebih membekas di ingatan anak
Sangat wajar bila orang tua ingin memberikan pengalaman yang baik kepada anak-anak mereka agar dapat dikenang ketika tumbuh dewasa. Tetapi pada kenyataannya, anak-anak tidak selalu mengingat peristiwa besar dan tunggal, Bunda.
"Ketika kita memikirkan masa lalu, kita cenderung mengingat hal-hal yang kita lakukan secara teratur," kata Wang.
"Misalnya, seseorang mungkin berkata, 'Saya ingat setiap Sabtu malam, saya dan ibu saya mewarnai'. Itu adalah momen-momen bahagia. Kita mungkin tidak menyebutkan satu malam tertentu, tetapi kita memiliki ingatan umum tentang hal itu, dan peristiwa-peristiwa itu bisa sama pentingnya bagi rasa diri kita, atau bagi hubungan kita," lanjutnya.
Jadi, apa yang paling membekas di ingatan anak adalah pengalaman berulang yang dijalaninya waktu kecil. Interaksi berulang ini memberi otak anak jalan pintas, Bunda.
"Ini mungkin disebut model kerja internal atau kompleks. Semua kata-kata itu berasal dari berbagai tradisi psikologi yang mencoba menggambarkan bagaimana interaksi berulang dan teratur menyatu, masuk ke dalam diri kita, dan kemudian kita memiliki template dalam pikiran untuk interaksi berulang," kata Marlo.
Di sisi lain, otak juga akan menyimpan sesuatu jika hal itu menandai pengalaman yang berulang, terutama jika peristiwa tersebut termasuk dalam kategori tertentu. Misalnya, sesuatu ini berkaitan dengan hal-hal traumatis.
"Kita akan lebih mengingat sesuatu jika itu sangat emosional atau jika itu sangat baru. Otak kita juga memiliki cara yang menyedihkan untuk mengingat hal-hal negatif, traumatis, somatik, dan sensorik," ungkap Marlo.
Perlu diingat, tidak ada jaminan bahwa pengalaman apa pun yang orang tua sebut sebagai 'kenangan inti' sudah pasti akan diingat oleh anak-anaknya. Apalagi, anak-anak dan orang dewasa memprioritaskan hal-hal yang berbeda dan memiliki cara pandang yang sangat berbeda terhadap peristiwa yang sama.
"Bayangkan perjalanan berkemah pertama. Berkemah pertama kali, itu adalah momen yang sangat menyenangkan bagi orang tua. Tetapi ketika kita bertanya kepada anak kecil, 'Oh, apa yang kalian lakukan saat berkemah?' Mereka akan menjawab, 'Oh, kami makan, lalu tidur, lalu bangun dan makan lagi'," kata Wang.
Perjalanan berkemah mungkin akhirnya menjadi kenangan berharga bagi anak. Tetapi tidak ada cara untuk menjamin atau memprediksinya, dan detail yang paling penting bagi anak mungkin berbeda dari yang dianggap paling penting oleh orang tua.
Meski liburan atau aktivitas berkemah belum tentu diingat anak, tak ada salahnya untuk mencobanya bersama anak. Tetapi, Bunda tetap harus sedikit lebih jujur bahwa kita tidak mencoba menciptakan 'kenangan inti' untuk anak- anak, tapi kita menciptakannya untuk diri kita sendiri.
Demikian pengalaman atau jenis rutinitas yang bisa membekas dalam ingatan anak sampai dewasa. Semoga informasi ini bermanfaat ya, Bunda.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(ank/rap)TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
Parenting
Viral Tren 'Reparenting Parents', Ketika Ortu Sembuhkan Luka Masa Kecil Lewat Pola Asuh ke Anak
Parenting
4 Tanda Bunda Termasuk Orang Tua Menyenangkan
Parenting
Kenali Core Memory Anak, Cara Menciptakan, dan Fakta Menarik Lainnya
Parenting
Akui 'Keluar Naga' Setiap Hari, Nikita Willy Pilih Tinggalkan Kerjaan 10 Hari Demi Anak
Parenting
Asah Kreativitas Anak dengan 10 Kreasi Origami Bentuk Hewan Yuk Bunda
7 Foto
Parenting
7 Potret Yuni Shara Saat Kunjungi Anak-anak di PAUD yang Dia Dirikan
HIGHLIGHT
REKOMENDASI PRODUK
INFOGRAFIS
KOMIK BUNDA
FOTO
Fase Bunda
8 Momen Bareng Anak yang Bisa Jadi Kenangan Indah Orang Tua
Usia Berapa Anak Mulai Ingat Kenangan Manis saat Liburan?
Manfaat Rutin Memotret Anak Sejak Bayi di Tempat Sama, Bantu Lacak Pertumbuhannya