parenting
4 Kalimat Teguran Orang Tua yang Bisa Membekas di Hati Anak Menurut Pakar
HaiBunda
Rabu, 28 Oct 2026 18:20 WIB
Daftar Isi
Menegur merupakan hal yang wajar dilakukan orang tua untuk membantu anak belajar bertanggung jawab. Namun, cara menyampaikan teguran juga perlu diperhatikan karena kata-kata yang terdengar sederhana bagi orang tua bisa terasa menyakitkan bagi anak, Bunda.
Ya, beberapa ungkapan disiplin yang dianggap umum dapat menimbulkan kerusakan nyata seiring berjalannya waktu. Tak hanya itu, apa yang orang tua ucapkan saat menegur juga bisa berpotensi memengaruhi cara anak memandang dirinya sendiri.
Psikolog klinis berlisensi dan direktur Washington Psychological Wellness, Dr. Leda Kaveh, mengatakan bahwa orang tua sering mendisiplinkan anak dengan cara yang sama seperti mereka didisiplinkan, bahkan tanpa menyadarinya. Pola pengasuhan ini dapat dipengaruhi oleh norma budaya, stres kronis, serta tekanan finansial.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Perilaku pengasuhan sangat dipengaruhi oleh pengalaman keterikatan di masa kanak-kanak," katanya kepada Huffington Post, dilansir Net Mums.
Setidaknya ada beberapa kalimat teguran orang tua yang tanpa disadari bisa menyakiti perasaan anak. Simak penjelasannya berikut ini ya, Bunda.
Kalimat teguran yang bisa menyakiti anak
Berikut empat kalimat teguran orang tua yang dapat membekas di hati anak menurut pakar:
1. 'Mengapa kamu tidak bisa lebih seperti saudaramu?'
Membandingkan anak dengan saudara kandung, sepupu, atau teman sekelas mungkin terasa seperti motivasi. Namun, hal tersebut tanpa disadari justru bisa menyakiti perasaan anak.
Konselor profesional berlisensi dan pemilik Melanated Women's Health, Nicola Pierre-Smith, menyebutnya sebagai 'serangan terhadap karakter'. Kalimat membandingkan sama saja memberi tahu anak bahwa mereka tidak cukup baik apa adanya, dan pesan itu akan terus melekat sampai mereka beranjak dewasa.
2. 'Kamu bertingkah persis seperti ayahmu'
Kalimat ini biasanya terlontar saat terjadi konflik, terutama dalam keluarga di mana orang tua berpisah atau tidak bahagia selama hidup bersama. Menurut Pierre-Smith, ungkapan tersebut hampir tidak pernah digunakan untuk menyoroti sesuatu yang positif.
"Itu sebenarnya dimaksudkan sebagai serangan terhadap karakter anak tersebut," ungkap Pierre-Smith.
Sekalipun merasa frustrasi dengan suami atau mantan suami, melibatkan anak dalam masalah yang berkaitan dengan hal ini hanya akan menimbulkan kerugian. Jadi, hindari kalimat ini saat menegur Si Kecil ya, Bunda.
3. 'Kamu sungguh mengecewakan'
Mempermalukan anak, baik disengaja maupun tidak, dapat membawa risiko nyata. Penelitian menunjukkan bahwa anak-anak yang sering mengalami rasa malu lebih cenderung mengembangkan kecemasan dan depresi, dan dapat tumbuh dewasa yang kesulitan dalam hal harga diri.
Menyebut seorang anak bodoh atau mengecewakan ketika mereka berperilaku buruk sama saja kita berfokus pada siapa mereka sebenarnya, bukan apa yang mereka lakukan.
4. 'Kamu tidak punya alasan untuk menangis'
Menahan air mata atau kesedihan mungkin terasa seperti Bunda sedang mengajarkan ketahanan pada anak. Namun, tak banyak yang tahu dampak buruknya melakukan hal tersebut.
Pierre-Smith mengatakan bahwa melarang anak-anak menangis justru mengajarkan mereka bahwa emosi mereka tidak valid. Seiring berjalannya waktu, anak-anak yang berulang kali mendengar hal ini tidak dapat menyebutkan apa yang mereka rasakan.
"Mereka hanya mengategorikannya menjadi 'Aku merasa baik' atau 'Aku merasa buruk'," katanya.
Mengapa orang tua perlu memilih kalimat yang tepat saat menegur anak?
Apa yang dikatakan orang tua dapat membekas di hati anak sampai ia tumbuh dewasa. Maka dari itu, menegur anak dengan kalimat yang buruk secara berulang hanya akan menyebabkan kerusakan, bukan ledakan emosi sesekali.
"Ketika seorang anak mendengar bahasa yang meremehkan perasaan atau memberikan label perilaku mereka sebagai kekurangan pribadi, otak sering kali beralih ke respons stres," kata Kaveh.
Seiring waktu, hal itu dikaitkan dengan kadar kortisol yang lebih tinggi, peningkatan kecemasan, penekanan emosi, dan harga diri yang lebih rendah.
Tapi, Bunda tidak perlu khawatir ya. Pola asuh dapat diubah dengan merenungkan bagaimana kita dibesarkan di rumah. Pasalnya, pola asuh dapat membentuk lebih banyak hal daripada yang kita sadari, tetapi itu tidak harus menentukan bagaimana kita mengasuh anak.
"Kabar baiknya adalah penelitian menunjukkan bahwa gaya pengasuhan sangat mudah beradaptasi. Peningkatan kesadaran, pendidikan, terapi, dan momen perbaikan dapat secara signifikan meningkatkan hubungan orang tua dan anak di setiap tahap," ujar Kaveh.
Demikian beberapa kalimat teguran orang tua yang dapat membekas di hati anak menurut pakar. Semoga informasi ini bermanfaat ya, Bunda.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(ank/rap)TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
Parenting
Kunci Sukses Pola Asuh Ideal, Ini Saran Ahli
Parenting
20 Perbuatan Orang Tua yang Tanpa Disadari Menyakiti Hati Anak, Hindari ya Bun
Parenting
Pentingnya Mengatasi Inner Child agar Tak Pengaruhi Pola Asuh Bunda pada Si Kecil
Parenting
Kini Jadi Psikolog, Caca Tengker Tak Ingin Andalkan Teori dalam Mengasuh Anak
Parenting
5 Dampak Buruk Karakteristik Sindrom Anak Emas, Berprestasi tapi Takut Gagal
8 Foto
Parenting
Kocak! Ini Perbedaan antara Bunda dan Ayah Saat Mengasuh Anak
HIGHLIGHT
REKOMENDASI PRODUK
INFOGRAFIS
KOMIK BUNDA
FOTO
Fase Bunda
7 Kalimat yang Diucapkan Orang Tua Bikin Anak Merasa Didengar
Jangan Ucapkan 5 Kalimat Toxic Ini pada Anak, Bunda Perlu Tahu
10 Kalimat Perlu Didengar Anak dari Orang Tua dan Keluarga Menurut Psikolog