psikologi

Menyikapi Pertanyaan Anak 'Kenapa Orang Itu Ngebom?'

Radian Nyi Sukmasari 15 Mei 2018
Menyikapi Pertanyaan Anak Kenapa Orang Itu Ngebom?/ Foto: thinkstock Menyikapi Pertanyaan Anak 'Kenapa Orang Itu Ngebom?'/ Foto: thinkstock
Jakarta - Peristiwa ledakan bom di Surabaya dan Sidoarjo bisa juga jadi perhatian anak-anak. Bahkan, bukan nggak mungkin pertanyaan terkait ledakan bom ini terlontar dari mulut mereka, Bun.

Saya mengalami sendiri ketika keponakan yang berumur 7 tahun memastikan pada bundanya apa benar ada ledakan bom di Surabaya. Kakak saya pun menjawab singkat 'iya'. Tapi setelah itu, ternyata ada pertanyaan lanjutan karena si kecil penasaran.

"Kenapa sih orang itu ngebom?" pertanyaan itu terlontar dari mulut keponakan saya. Skak mat! Kakak saya dan saya langsung diam karena nggak tahu mau jawab apa nih. Hu-hu-hu. Alhasil, kami pun mengalihkan perhatian bocah ini dengan ngajak dia ngomongin hal lain. Hmm, saya jadi berpikir, Bun, kalau anak-anak mengajukan pertanyaan kayak gitu, orang tua atau orang dewasa di sekitarnya baiknya jawab apa ya?

Saya pun menanyakan hal ini ke psikolog anak dari Tiga Generasi Anastasia Satriyo yang akrab disapa Anas. Kalau kata Anas, ketika anak bertanya kenapa ada orang ngebom pertama lihat usia anak dulu, Bun. Kalau umur anak di bawah 5 tahun jangan menjelaskan pakai jargon-jargon. Baiknya, tanya ke anak menurut dia kayak gimana.

"Kalau anak nggak tahu jawabannya kita bisa bilang, 'Iya karena menurut orang yang ngelakuin itu dia pikir dia bisa mendapat apa yang dia pengen dengan cara seperti itu. Misalnya kayak kamu pengen es krim terus kamu nangis'. Jadi kita bisa jelasin ke aktivitas sederhana dan perilaku anak," kata Anas.



Anas berpesan saat bicara teroris baiknya dihindari karena di usia balita terorisme adalah konsep yang abstrak dan susah dipahami. Bahkan menurut Anas untuk anak umur 8-9 tahun aja konsep teror ini agak susah dipahami. Nah, kalau anak nanya emangnya apa yang diinginkan si pelaku ledakan bom, kita jawab apa ya?

"Kalau kita nggak tahu kita bilang kita lihat aja perkembangannya di berita. Jangan ditambah-tambahin info yang nggak benar sebelum ada berita lengkap. Dan sebenarnya intinya pastikan ke anak dia aman kok sama orang tuanya. Anak juga aman saat di rumah dan kalau keluar rumah anak ditemani, termasuk saat dia di sekolah, aman," tambah Anas.

Menyikapi Pertanyaan Anak 'Kenapa Orang Itu Ngebom?'Menyikapi Pertanyaan Anak 'Kenapa Orang Itu Ngebom?'/ Foto: dok.HaiBunda


Misalkan anak udah cukup ngeh dengan tujuan pengebom tersebut karena dengar dari pembicaraan orang dewasa di sekitarnya, kita bisa menanggapi lagi dengan bilang, 'Ya mereka pikir dengan cara itu mereka bisa mendapat apa yang mereka inginkan atau protes. Padahal jadi lebih banyak orang terluka dan menderita. Atau ada anak kehilangan ayah dan orang tua kehilangan anak,'.

Penjelasan untuk Anak di Bawah Umur 5 Tahun

Sementara itu, psikolog klinis Christina Tedja mengatakan pertanyaan untuk anak di bawah umur 5 tahun nggak akan senjelimet itu. Kata wanita yang akrab disapa Tina ini, mereka mungkin akan ngeh orang dewasa di sekitar mereka ngobrolin masalah bom. Nah, anak bisa aja berpikir bom itu apa sih?

"Tapi saya rasa belum sampai teliti ke bom hanya di gereja, kenapa orang di gereja aja yang dibom, apa itu teroris. Oleh karena itu orang tua hanya perlu menjelaskan dengan bahasa sesimpel mungkin bahwa di luar sana ada beberapa orang jahat yang suka berperilaku tidak baik," ucap Tina.

"Pada dasarnya nggak ada anak yang rasis, semua hanya belajar dan input informasi dari sekitar."Christina Tedja









Beda lagi, Bun, ceritanya kalau memang anak udah banyak dengar pembicaraan orang dewasa yang membahas etnis. Kalau kayak gini, perlu ada penjelasan bahwa peledakan atau kejadian berbahaya bisa terjadi di mana aja, nggak melulu di gereja dan pelaku peledakan bom misalnya bisa dilakukan nggak hanya dari satu kelompok agama aja.

Makanya, Tina berpesan hal yang perlu dihindari saat bicara dengan anak adalah ketidaksengajaan menggiring anak pada opini publik bahwa permasalahannya pada beda agama. Bisa dibilang, Bun, cara tersimpel mengajarkan anak untuk menerima perbedaan antar agama, suku, dan etnis dimulai dari si orang tua sendiri.

"Termasuk penilaian sehari-hari terhadap orang yang beda etnis dan agama. Dengan merespons baik segala perbedaan yang ada, anak akan meniru. Sebaliknya apabila kita melihat perbedaan saja, lalu ngomel terkait kejadian itu atau protes, anak akan membentuk pola pikir yang sama," tutur Tina.

(rdn/vit)
Share yuk, Bun!
Rekomendasi