psikologi

Kisah Sedih Kakak-Adik yang Dikucilkan karena Fisiknya Berbeda

Amelia Sewaka 16 Mei 2018
Kisah Sedih Kakak-Adik yang Dikucilkan karena Fisiknya Berbeda/ Foto: Thinkstock Kisah Sedih Kakak-Adik yang Dikucilkan karena Fisiknya Berbeda/ Foto: Thinkstock
Vidisha, India - Gimana rasanya jika dikucilkan karena berbeda? Pasti menyakitkan ya, Bun. Inilah yang dialami kakak adik laki-laki dari India bernama Ashfaq dan Mushtaq Khan.

Ashfaq (11) dan Mushtaq (8) dijauhi teman dan warga sekitar karena fisik mereka berbeda. Ya, Ashfaq dan Mushtaq memiliki gigi runcing dan rambut yang sangat tipis. Sehingga untuk menghindari ejekan dan tatapan mengerikan dari orang lain, mereka jadi lebih sering bersembunyi di rumah. Hiks, kasihan ya, Bun.

Diketahui bocah yang berasal dari desa Ramnagar distrik Vidisha ini mengalami kelainan yang disebut Hypohidrotic Ectodermal Displasia. Ini adalah penyakit genetik yang membuat perubahan fisik seseorang seperti gigi runcing di bagian atas, rambut tipis agak keabu-abuan, hidung pesek, kulit gelap dan pecah-pecah serta suara yang tipis dan cempreng.

Nggak berhenti di situ, Bun, Ashfaq dan Musthaq juga terpaksa berhenti sekolah karena sering dibully sama teman-temannya. Bahkan nggak jarang mereka diejek dengan disebut 'setan'.

"Aku dan kakakku dianggap setan di sekolah, teman-teman juga tidak ingin bermain dengan kami. Kami tidak ingin melanjutkan sekolah karena merasa hina," kata Ashfaq dilansir Daily Mail.

Kedua bocah ini sekarang dirawat di Lucknow's Sanjay Gandhi Postgraduate Institute of Medical Sciences (SGPGI). Dari sinilah diskriminasi yang mereka hadapi dari orang-orang desa mulai menipis karena pada awalnya orang-orang desa ini menjuluki mereka 'anak setan'.



"Saya seorang buruh. Sulit rasanya menanggung biaya perjalanan ke Bhopal untuk pengobatan anak saya, padahal hanya berjarak 100 km dari desa kami. Tapi orang-orang ini membantu kami, sekarang setidaknya saya tahu anak saya sakit apa dan perawatan mereka juga sudah dimulai," papar sang ayah, Ajeet Khan.

Sang ibu, Abila, menambahkan bahwa mereka sangat miskin sehingga nggak punya kasur dan kulkas. Alhasil, suhu badan Ashfaq dan Mushtaq meninggi karena panas sehingga mereka harus disiram air di kepalanya tiap setengah jam. Apalagi keluarga mereka tidak punya biaya untuk berobat pribadi, ditambah hidup di desa terpencil dengan fasilitas medis dan dokter khusus tidak ada.

"Saya adalah dokter umum di sini dan saya tidak dapat mendiagnosis anak-anak ini dengan cara tepat sehingga saya menyarankan keluarga ini untuk berkunjung ke dokter spesialis jika penyakit mereka memburuk," kata Mukesh, salah satu dokter desa tersebut.

Namun keajaiban pun tiba, seorang relawan bernama Ravi Goyal, direktur LSM Shaktishali Mahila Sangathan Samiti (SMSS), badan amal yang membantu mereka yang terpinggirkan di masyarakat India, mengorganisir kampanye untuk menjelaskan ke penduduk bahwa kedua bocah itu tidak terkena penyakit menular.

"Kami menyelenggarakan dua seminar untuk warga desa dengan bantuan guru sekolah. Kami menjelaskan kepada mereka tentang penyakit itu dan juga mengatakan pada penduduk desa untuk membantu anak-anak ini dapat hidup normal," kata Ravi seperti dikutip dari Hindustan Times.

Kisah Sedih Kakak-Adik yang Dikucilkan karena Fisiknya BerbedaAshfaq (11) dan Mushtaq (8). Foto: Rare Shot News via Daily Mail
LSM tersebut juga membuat grup WhatsApp yang telah membantu memberi sumbangan untuk kedua bocah ini, termasuk uang sekitar Rp 400 juta. Para donatur juga membelikan kipas dan ice box untuk dua bocah ini. Abila bercerita sekarang anak-anaknya menghabiskan waktu di depan kipas jika kepanasan atau menyemprotkan air dingin dan es batu ke badannya. Dulunya mereka dicemooh, diejek dan bahkan dilempari batu hingga dua bulan lalu. Syukurnya sekarang mereka udah punya teman, Bun.

"Ashfaq dan Mushtaq sebelumnya tidak berani bermain tapi sekarang mereka mulai menghabiskan hari dengan anak lainnya dan perubahan drastis juga terjadi pada penduduk desa," kata guru Ashfaq dan Mushtaq.



Permasalahan bully atau penindasan emang nggak pernah lepas dari anak-anak, ada perbedaan sedikit aja dari anak lain, langsung gampang tuh jadi 'bahan' bully atau cemoohan. American Academy of Child and Adolescent Psychiatry dalam situsnya di aacap.org menyebutkan bullying bisa terjadi secara verbal maupun nonverbal. Pada anak laki-laki, bullying kerap dilakukan dengan intimidasi secara fisik maupun dalam bentuk ancaman.

Sedangkan bullying pada anak perempuan kerap terjadi secara verbal, dan korban yang dipilih gender yang sama. Selain verbal, bullying juga bisa berbentuk fisik, emosional, dan seksual.

"Kekerasan verbal itu sangat subjektif. Jadi, sebaiknya lihat juga kultur yang mendasari. Sebuah pernyataan bisa tergolong keras menurut suatu kultur, tapi bisa jadi pernyataan tersebut justru menjadi hal yang biasa pada kultur lain," kata dr Lukas Mangindaan, Staf Pengajar Departemen Psikiatri FKUI/RSUPCM.

Sebenarnya, dampak bullying nggak hanya dirasakan si korban, Bun. Pelakunya sendiri juga akan merasakan akibatnya. Kata Psikolog anak dan remaja Anna Surti Ariani, ketika seseorang sering melakukan tindakan bullying tetapi tidak mendapatkan konsekuensi yang jelas, maka yang bersangkutan berisiko tinggi menjadi anak agresif.

"Selain agresif, mereka tidak bisa menghargai orang lain, sering memaksakan kehendak, bahkan ke depannya bisa jadi pembangkang kepada negara misalkan," ungkapnya saat berbincang dengan detikHealth. (rdn/vit)
Share yuk, Bun!
Rekomendasi