psikologi

2 Faktor yang Turut Menentukan Bahagia Tidaknya Seorang Anak

Amelia Sewaka Jumat, 31 Agu 2018 - 07.14 WIB
2 Faktor yang Turut Menentukan Bahagia Tidaknya Seorang Anak/Foto: thinkstock 2 Faktor yang Turut Menentukan Bahagia Tidaknya Seorang Anak/Foto: thinkstock
Jakarta - Diri ini pasti happy ketika melihat anak bahagia. Ya nggak, Bun? Bicara soal kebahagiaan pada anak, ada dua faktor yang turut menentukan bahagia atau nggaknya seorang anak lho.

Menurut psikolog Elizabeth Santosa, ada dua faktor yang bisa bikin anak bahagia. Pertama, dukungan lingkungan. Kata wanita yang akrab disapa Lizzie ini dukungan lingkungan agar anak bisa merasa bahagia penting banget, Bun. Kalau anak terus-terusan nggak mendapat pengalaman bahagia misal tak punya orang tua yang benar-benar sayang pada dirinya maka anak pun sulit untuk bahagia.

"Ketika beberapa hal tersebut terjadi padanya maka pupus harapan si anak untuk bisa bahagia dari lingkungan. Tapi beda cerita kalau misal si anak dari kecil udah sulit, orang tua bercerai namun setelah itu orang tuanya nikah lagi dan lebih bahagia, maka si anak bisa bahagia," papar Lizzie saat ditemui di acara di bilangan Jakarta Selatan, beberapa waktu lalu.


Lizzie menambahkan, trauma saat kecil memang bisa bikin seorang anak nggak happy. Tapi, kalau support system-nya mendukung dan berkelanjutan maka si anak bisa bahagia, Bun. Kedua, faktor yang turut menentukan bahagia nggaknya seorang anak adalah karakteristik mereka.

"Key message-nya, support system yang bahagia dan karakteristiknya sendiri atau dari dalamnya harus bisa bahagia," kata Lizzie.

Karena menurut Lizzie, ada lho beberapa orang yang memang dari karakteristiknya susah bahagia. Lizzie bilang, sekalipun si anak lahir dari orang tua yang bercerai misalnya, itu bukan masalah.

"Saya selalu bilang, kalau perpisahan bukanlah hal yang membuat anak trauma. Yang membuat anak trauma adalah kualitas hubungan buruk ayah ibunya. Contoh ayah ibunya memang masih hidup bersama tapi berantem terus. Kemudian, cerai yang bikin trauma anak saat orang tua rebut hak asuh anak sampai kata-kataan," papar Lizzie.

Namun, akan beda ceritanya ketika orang tua masih menjaga komunikasi, menjadi sahabat dan menerapkan co-parenting meski sudah bercerai. Dengan begitu, anak bisa bahagia tanpa ada drama perceraian dari ayah ibunya. Selain itu, perceraian yang tanpa drama juga bisa mengajarkan anak tentang cinta yang universal.

"Intinya anak itu nggak trauma dengan status ayah ibunya, karena dia nggak ngerti itu. Tapi lebih ke kehadiran orang tuanya, dapat kasih sayang nggak si anak. Itu yang bisa nentuin anak bahagia atau nggak," ungkap Lizzie.

(rdn/vit)
Share yuk, Bun!
Rekomendasi