psikologi

Nilai Kemandirian yang Bisa Dipelajari Anak dari Putri Tanjung

Amelia Sewaka Kamis, 07 Feb 2019 - 16.26 WIB
Nilai Kemandirian yang Bisa Dipelajari Anak dari Putri Tanjung/ Foto: Dikhy Sasra Nilai Kemandirian yang Bisa Dipelajari Anak dari Putri Tanjung/ Foto: Dikhy Sasra
Jakarta - Punya ayah pengusaha sukses, tak lantas membuat anak pertama Chairul Tanjung atau CT, Putri Tanjung hanya berdiam diri dan menikmati nama besar orang tuanya. Justru, hal ini dijadikan tantangan oleh dirinya.

Di usianya yang masih 22 tahun, Putri sudah memimpin perusahaan yang mendorong anak-anak muda Indonesia menjadi pengusaha. Berbekal pengalamannya sebagai event organizer, dia kemudian membuat Creativepreneur Corner 2014.

"Bapak seorang pengusaha hebat. Pressure untuk saya sangat besar. Putri bisanya apa sih ?, Karena ada pressure itu, saya menemukan tujuan saya," kata pemilik nama lengkap Putri Indahsari Tanjung ini seperti dikutip dari detikcom.

Putri bercerita, bagaimana awal dirinya membangun Event Organizer (EO). Ketika usianya baru 15 tahun, ia sudah menggagas event acara di sekolah. Alhasil, Putri sukses menjawab tantangan tersebut.

"Saya memang ingin serius dengan hal yang saya senangi. Event, di situlah saya temukan. Awal dulu ketika sekolah dipercaya buat event dan sukses, masih usia 15 tahun. Untungnya saat itu Rp 50 ribu, keuntungan pertama bagi saya tanpa melibatkan orang tua," cerita Putri.


Nilai Kemandirian yang Bisa Dipelajari Anak dari Putri TanjungFoto: instagram
Sejak langkah pertamanya tersebut, Putri pun mulai mendirikan event organizer pesta. Lalu berlanjut membuat acara talk show yang dihadiri ribuan peserta dengan narasumber ternama.

"Awal-awal mulai bikin event, mau pinjam uang ke bapak. Beliau tidak mau kasih, malah disuruh cari sendiri. Padahal kalau pinjem juga pasti dikembalikan," tutur sulung dari dua bersaudara ini.

Namun Putri bersyukur, kala itu ayahnya tidak memberikan pinjaman modal kepadanya. Karena dia dapat belajar bagaimana memutar otak mencari uang. Lambat laun Putri terus menggeluti bisnisnya itu. Sampai di tahun 2014, mendirikan perusahaan bernama Creativepreneur Event Creator dan dia sebagai CEO-nya.

"Bukan hal mudah, tanpa modal orang tua, tanpa ada support dari perusahaannya juga. Ketika dulu cari sponsor tak mudah, banyak brand malah mengatakan, kenapa saya harus susah payah cari sponsor, padahal bapak punya banyak perusahaan. Itu justru membawa tantangan bagi saya untuk terus menjalankan bisnis ini sampai sukses digelar," beber Putri.

Saat merintis Creativepreneur Corner beberapa tahun lalu, Putri katakan hal itu tidak semudah dibayangkan orang. Tak banyak yang tahu dia harus berjuang sendiri untuk mewujudkan cita-citanya itu.

"Banyak yang nggak tahu kalau saya nggak didukung secara finansial dari ibu dan bapak. Dari umur 15 tahun, saya nggak pernah dapet modal sepeserpun. Semuanya saya sendiri," kenang Putri Tanjung.


Nilai Kemandirian yang Bisa Dipelajari Anak dari Putri TanjungFoto: Grandyos Zafna
Nama besar sang ayah pun tidak pula membantu Uti, begitu ia disapa, saat mencari narasumber dan sponsor. Uti bahkan harus kehujanan menunggu di pos satpam demi menemui orang yang diharapkan menjadi pendukung finansial kegiatannya.

"Inget banget saya sampai ditolak 30 sponsor," ungkap mahasiswi Academy of Arts San Francisco, Amerika Serikat itu.

Mandiri banget ya Putri, Bun. Bahkan sejak kecil, ia sudah dilatih dan dididik keras oleh sang ayah yang merupakan pengusaha hebat. Bicara soal anak yang mandiri, psikolog Anastasia Satrio menuturkan ada tahapan-tahapan perkembangan yang harus dilewati oleh anak.

Kemandirian sebenarnya bisa dimulai oleh anak sejak usia dini, Bun. Misalnya saat mereka menyuap makanan sendiri, pakai baju sendiri, toilet training, hingga belajar untuk memilih hal yang ingin dimakan atau dibeli.

Psikolog yang akrab disapa Anas ini menambahkan tipe pengasuhan atau parenting style orang tua juga memengaruhi kemandirian anak. Kata dia, yang ideal adalah cara pengasuhan orang tua disesuaikan dengan kebutuhan dan tipe temperamen anak. Soalnya, anak ada yang mudah diberi tahu, ada yang pemahamannya lambat dan ada anak yang susah diatur.

"Karena tidak ada cara pengasuhan yang instan dan langsung tertanam pada anak, tidak seperti resep masakan yang bisa kita ikuti langkah-langkahnya dan mudah untuk kita lakukan. Tapi benar-benar disesuaikan dengan kondisi dan tipe anak maupun orang tuanya, harus sensitif dan responsif terkait kebutuhan anak, tapi kita juga bisa beri batasan atau boundaries untuk anak dalam melakukan sesuatu," papar Anas.


(aml/rdn)
Share yuk, Bun!
Rekomendasi