sign up SIGN UP search


trending

Guru di Padang Curhat ke Jokowi: Nangis karena Siswa Tak Punya Kuota Internet

Annisa Karnesyia Senin, 14 Sep 2020 11:35 WIB
Presiden Jokowi berbincang dengan guru di Padang, Sumbar, Rika Susi Waty, Jumat (11/9/2020). caption
Jakarta -

Rika Susi Waty, seorang guru SMP di Kota Padang, Sumatera Barat, curhat ke Presiden Joko Widodo (Jokowi) tentang perasaannya saat mengajar online. Ia bahkan terkadang menangis saat melihat kondisi beberapa murid yang tak mampu, Bunda.

Curhat Rika ini dibagikan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) RI Nadiem Makarim dalam akun Instagram miliknya, @nadiemmakarim. Dalam diskusi singkat itu, Rika juga memberi masukan pada Jokowi dan Nadiem.

"Pembelajarannya sejauh ini kita tetap mengajar, tetapi kita ndak bisa memantau anak itu mampu atau tidak ya, karena kita enggak bisa langsung," kata Rika, dikutip Minggu (13/9/2020).


Rika juga mengungkapkan bahwa tidak semua muridnya punya smartphone untuk melakukan pembelajaran jarak jauh. Untuk mengatasi ini, siswa diberikan kelonggaran untuk datang ke sekolah.

"Untuk urusan belajar online, semua murid Ibu memiliki HP?" tanya Jokowi.

"Tidak semua Pak. Nah, yang ndak memiliki HP, kita data betul anaknya, kita cek anaknya ke rumah, memang tidak mampu, kita fasilitasi ke sekolah Pak. Pakai komputer sekolah, ada beberapa orang tidak banyak. Di sekolah kita ada hanya dua orang," jawab Rika.

Rika juga menjelaskan bahwa dia tetap berkomunikasi dengan orang tua atau wali murid melalui grup WhatsApp. Bila ada siswa bermasalah, guru akan melakukan kunjungan setiap hari Jumat. Sementara, untuk memotivasi siswa, Rika melakukan video call atau mengirim pesan suara.

"Kalau saya pribadi, video call atau saya kirim pakai voice (voice note, pesan suara). Cuma anak-anak ngomongnya gini, kangen sekolah semuanya," ujar Rika.

Unggahan Nadiem MakarimUnggahan Nadiem Makarim/ Foto: Instagram @nadiemmakarim

Di akhir diskusinya, Rika mengaku terkadang menangis jika memikirkan kondisi muridnya yang tidak mampu menjalani pembelajaran online atau daring. Jika memungkinkan, Rika berharap agar pembelajaran bisa dilakukan dengan tatap muka.

"Kita inginnya bisa tatap muka langsung, seandainya memungkinkan. Mungkin kita bagi per shift masuknya enggak banyak-banyak, kalau itu memungkinkan, karena kasihan sekali anak-anak banyak ndak tahu, itu yang paling utama," kata Rika.

"Saya kadang menangis Pak. Apalagi anak-anak yang orang tuanya tidak mampu, kadang mereka punya android tapi mereka enggak punya paket kuota. Ada bantuan sih dari bank, kita belikan, 'Kita beli handphone ya, walaupun murah', bagi yang tidak punya handphone, begitu Pak," sambungnya.

Jokowi kemudian menjelaskan bahwa pembelajaran tatap muka memang yang terbaik. Namun, masih ada risiko yang harus dipikirkan agar siswa tidak terpapar COVID-19.

"Ya memang alangkah baiknya tatap muka, tapi masa pandemi ini, risikonya kalau anak terpapar covid, semuanya jadi salah," ujar Jokowi pada Rika.

Hal yang sama juga diungkapkan Nadiem Makarim dalam unggahan ini, Bunda. Ia menjelaskan bahwa Kemendikbud hingga kini masih terus melakukan berbagai upaya untuk membuat pembelajaran tetap efektif.

"Sesuai dengan arahan Pak Presiden, kami sepakat bahwa belajar tatap muka adalah bentuk pembelajaran yang terbaik. Kemendikbud pun terus melakukan berbagai penyesuaian dan inovasi agar pembelajaran tetap berlangsung efektif di masa pandemi ini, dengan prinsip keselamatan siswa, guru & tenaga kependidikan sebagai hal yang utama," tulis Nadiem.

Simak juga cara menumbuhkan minat baca pada anak di masa pandemi, dalam video berikut:

[Gambas:Video Haibunda]

(ank/muf)
Share yuk, Bun!

Rekomendasi