HaiBunda

TRENDING

Psikiater Ungkap Burnout Bisa Bikin Dokter-Nakes Kehilangan Empati

Tim HaiBunda   |   HaiBunda

Kamis, 06 Aug 2026 15:35 WIB
Ilustrasi / Foto: Getty Images/Pornpak Khunatorn
Jakarta -

Baru-baru ini, ramai kasus pasien BPJS Kesehatan yang mengeluhkan harus menunggu delapan jam untuk mendapat ruang rawat inap. Kasus tersebut menjadi sorotan setelah sejumlah dokter dan tenaga kesehatan melontarkan komentar bernada merendahkan terhadapnya di media sosial.

Psikiater dr Lahargo Kembaren, SpKJ, mengatakan kasus tersebut perlu dilihat dari berbagai sisi. Di satu sisi, pasien memang mengalami penderitaan karena harus menunggu pelayanan dalam waktu lama. Namun di sisi lain, pada saat yang sama tenaga kesehatan juga dapat menghadapi tekanan besar dalam menjalankan tugasnya.

"Rumah sakit menghadapi keterbatasan tempat tidur, tingginya jumlah pasien, beban administrasi, serta sistem pembiayaan yang sering kali menimbulkan frustrasi bagi para petugas di lapangan," ucapnya saat dihubungi detikcom, Rabu (5/8/2026).


"Artinya, kedua belah pihak sama-sama dapat menjadi korban dari sistem pelayanan kesehatan yang belum ideal," lanjutnya.

Lahargo mengatakan tekanan pekerjaan yang terus-menerus juga dapat memengaruhi kondisi mental tenaga kesehatan. Mereka dapat mengalami burnout, compassion fatigue, hingga moral injury.

Menurutnya, kondisi tersebut dapat menurunkan kapasitas seseorang untuk berempati apabila tidak dikenali dan ditangani dengan baik. Oleh karena itu, menjaga kesehatan mental tenaga kesehatan juga menjadi bagian penting dalam meningkatkan kualitas pelayanan kepada pasien.

Meski demikian, Lahargo menegaskan bahwa tekanan yang dialami tenaga kesehatan tidak dapat menjadi pembenaran untuk melontarkan komentar yang merendahkan martabat pasien, termasuk mendorong seseorang untuk melakukan bunuh diri.

Ia mengingatkan bahwa ucapan yang disampaikan kepada orang lain dapat memberikan pengaruh besar, terutama ketika ditujukan kepada seseorang yang sedang menghadapi situasi sulit.

"Namun, seberat apa pun tekanan yang dihadapi, tidak ada situasi yang dapat membenarkan komentar yang merendahkan martabat seseorang atau mendorong orang lain untuk bunuh diri. Kata-kata bukan sekadar rangkaian huruf. Kata-kata dapat menjadi obat, tetapi juga dapat menjadi luka yang memperdalam penderitaan seseorang," ucapnya.

TERUSKAN MEMBACA KLIK DI SINI.

(som/som)

Simak video di bawah ini, Bun:

7 Cara Menghadapi Suami NPD

TOPIK TERKAIT

ARTIKEL TERKAIT

TERPOPULER

Bosan Bilang 'Terima Kasih'? Ini 10 Kata Pengganti yang Lebih Berkesan

Mom's Life Amira Salsabila

Stop Bilang "Kamu Bisa Melakukannya", Ini Kalimat Penggantinya untuk Membesarkan Anak Sukses

Parenting Elia Amaliana

Berhubungan Intim 4 Kali Seminggu Disebut Perbesar Potensi Hamil hingga 16 Persen

Kehamilan Dwi Indah Nurcahyani

Potret Nada Tarina Putri Percaya Diri Tunjukkan Bekas Jahitan Operasi Skoliosis di Punggungnya

Mom's Life Amira Salsabila

Jangan Bilang "Bukan Masalah Saya", Ganti dengan 11 Kalimat Sopan Ini

Mom's Life Amira Salsabila

REKOMENDASI
PRODUK

TERBARU DARI HAIBUNDA

Bosan Bilang 'Terima Kasih'? Ini 10 Kata Pengganti yang Lebih Berkesan

Stop Bilang "Kamu Bisa Melakukannya", Ini Kalimat Penggantinya untuk Membesarkan Anak Sukses

Berhubungan Intim 4 Kali Seminggu Disebut Perbesar Potensi Hamil hingga 16 Persen

Potret Nada Tarina Putri Percaya Diri Tunjukkan Bekas Jahitan Operasi Skoliosis di Punggungnya

Jangan Bilang "Bukan Masalah Saya", Ganti dengan 11 Kalimat Sopan Ini

FOTO

VIDEO

DETIK NETWORK