aktivitas

Hati-hati, Bun, Jangan Sampai si Kecil Ikut-ikutan 'Hot Water Challenge'

Amelia Sewaka 07 Sep 2017
Ilustrasi Hot Water Challenge/ Foto: thinkstock Ilustrasi 'Hot Water Challenge'/ Foto: thinkstock
Jakarta - Pernah dengar 'hot water challenge', Bun? Ini adalah tantangan yang sedang banyak beredar di internet. Hati-hati ya, Bun, jangan biarkan si kecil ikut-ikutan tantangan ini, soalnya bahaya banget.

Beberapa anak dilaporkan melakukan 'hot water challenge' lantaran terinspirasi dari video yang muncul di YouTube. Jadi dalam tantangan ini, seorang anak menuangkan air mendidih ke temannya yang tidak tahu bahwa air itu adalah air mendidih. Kasus lainnya, anak menantang temannya untuk minum air mendidih melalui sedotan.

Nickolas Conrad menjadi korban terbaru dari 'hot water challenge' ini. Anak berusia 15 tahun dari Arkansas ini mendapat luka bakar tingkat dua setelah teman-temannya menyiram Nickolas dengan air panas, demikian dikutip dari metro.co.uk.

Kala itu Nickolas sedang menginap di rumah temannya bersama enam orang lainnya. Teman-teman Nikolas telah bangun pukul 3 pagi dan memutuskan untuk 'mengejutkan' Nickolas dengan memanaskan air di microwave dan menuangkannya ke leher Nickolas.

Tentu saja, Nickolas terbangun dengan kaget saat lehernya terkena air mendidih dan saat itu pun dia langsung menjerit dan menangis. "Saya merasakan luka bakar yang benar-benar buruk di leher saya dan saat saya terbangun, saya mulai berteriak dan menangis," kata Nickolas kepada THV11.

Baca juga: Langkah-langkah Amankan si Kecil dari Video yang Tak Sesuai

'Hot water challenge' merupakan kegemaran baru yang mengkhawatirkan dan telah melukai beberapa anak. Tantangan ini bahkan ditengarai bisa mengakibatkan kematian karena tren ini telah menyebar melalui banyak video di media sosial.

Sersan Keith Wilson bersama para polisi dari Departemen Kepolisian Sherwood mengatakan para petugas telah berusaha melakukan apa yang mereka bisa untuk memastikan anak-anak diberi tahu tentang konsekuensi dari tantangan ini. "Kami sekarang bekerja dengan administrator sekolah untuk mendidik semua siswa agar tidak melakukan ini dan hal ini bukan lelucon sama sekali. Anak-anak ini bisa mencederai seseorang dengan serius dan orang yang melakukan bisa menghadapi tuduhan kejahatan berat," terang Sersan Keith.

Bulan lalu, seorang gadis Florida berusia delapan tahun bernama Ki'ari Pope, meninggal saat minum air mendidih melalui sedotan. Hal itu dilakukannya lantaran ditantang oleh sepupunya setelah mereka melihat beberapa kali video di YouTube tentang orang-orang yang melakukan 'hot water challenge'.

Bibi anak tersebut, Diane Johnson, pun mewanti-wanti agar para orang tua berbicara dengan anak-anaknya terkait bahaya tantangan ini. "Jangan hanya memberi mereka telepon selular kalian dan membiarkan mereka menonton apapun yang berada di internet. Pastikan memperhatikan apa yang mereka lakukan," ujar Diane, seperti dilansir thesun.co.uk.

Menurut psikolog anak dan remaja, Ratih Zulhaqqi, orang tua itu wajib menemani anaknya ketika nonton dan jelaskan dengan baik dan jelas jika anak bertanya ditengah-tengah tontonan. Ini penting agar anak tidak mudah mencontoh atau miskonsepsi dengan apa yang mereka tonton.

Baca juga: Ketika Anak Nonton Film Animasi yang Menuai Pro-Kontra

Sebenarnya 'hot water challenge' ini berawal dari tantangan seorang YouTuber di tahun 2014. Kala itu lagi eksis-eksisnya 'ice bucket challenge'. Saat itu ia mengunggah video tentang dirinya yang menyiramkan air panas ke kepalanya sebelum terjun ke dalam kolam renang. YouTuber tersebut juga sudah mengatakan bahwa hal yang ia lakukan tersebut adalah kebohongan belaka. Ia tidak menyiramkan air panas melainkan air yang disiramkan hanyalah air biasa, suara air panas tersebut dalam video hanya editan. Jadi bisa nge-bayangin kan Bun kalau anak kita nonton banyak hal termasuk seperti ini dari internet?

"Sayangnya, ini adalah bagian dari era digital yang kita jalani," kata Julie Romanowski, pakar parenting yang berbasis di Vancouver. "Ini tidak akan berhenti dalam waktu dekat, dan orang tua perlu melakukan pendekatan proaktif untuk mengajar anak-anak bagaimana mengelola tontonannya," imbuhnya.

Julie menyarankan untuk melakukan pendekatan tiga langkah untuk menangani perilaku yang sesuai seputar teknologi yang berkaitan dengan anak-anak. Ketiga langkah itu adalah:

1. Memilih apa yang ingin orang tua capai, apakah membatasi waktu menonton atau membatasi apa yang dapat dilihat oleh anak atau membatasi apa yang ditonton anak.
2. Buat keputusan ini secara visual, seperti kalender dengan layar yang dilukis dengan pensil atau papan tulis dengan instruksi tertulis dengan jelas.
3. Duduklah dan diskusikan batas-batas tontonan ini dengan anak-anak secara eksplisit, karena pasti anak akan bertanya 'kenapa'.

Menurut Julie anak-anak perlu divalidasi melalui kesukaan dan apa yang dilihat. Sayangnya, tidak ada kode moral dengan teknologi. "Orangtua perlu melakukan lebih dari sekadar mengelola konten yang dilihat anak-anak mereka. Mereka juga perlu tahu bagaimana anak mereka menggunakan teknologi dan apakah ada bentuk kecanduan," terangnya.

Baca juga: Tips Internet Aman untuk Si Kecil

Sekali lagi, yuk perhatikan apa tontonan anak. Beri tahu mereka juga apa saja bahaya dan konsekuensi dari aneka tantangan yang sedang nge-hits. (vit/vit)
Share yuk, Bun!
Rekomendasi