aktivitas

Tips Mengatasi Anak yang Nggak Mau Ditinggal Saat di Sekolah

Amelia Sewaka Senin, 12 Feb 2018 - 11.06 WIB
Tips Mengatasi Anak yang Nggak Mau Ditinggal Saat di Sekolah/ Foto: ilustrasi/thinkstock Tips Mengatasi Anak yang Nggak Mau Ditinggal Saat di Sekolah/ Foto: ilustrasi/thinkstock
Jakarta - Saat anak masuk sekolah baru atau setelah libur cukup lama, kadang saat masuk sekolah lagi, jadi agak rewel. Iya, anak nangis-nangis dan sama sekali nggak mau kita tinggal. Duh, kalau kayak gini harus gimana ya?

Menurut psikolog pendidikan dari Rumah Dandelion, Orissa Anggita Rinjani, hal ini sangat wajar, Bun. Ini karena anak masih belum terlalu bisa bedain mana yang nyata dan mana yang tidak. Anak-anak, khususnya usia batita dan balita juga belum terlalu paham cara kerja benda-benda di sekelilingnya, termasuk lingkungan barunya. Jadi wajar banget ya hal-hal itu bikin si kecil cemas.

Psikolog yang akrab disapa Ori ini, yang hampir pasti dialami semua anak adalah kecemasan akan perpisahan (separation anxiety) terutama di saat anak saat harus kita tinggalkan di sekolahnya.



Ori lantas memberikan beberapa tips yang bisa dilakukan oran tua untuk 'melepas' anaknya di sekolah, yuk kita simak bersama, Bun.

1. Libatkan Anak untuk Siapkan Barangnya ke Sekolah

"Ini bisa kasih antisipasi positif buat anak, dan kasih kesan kalau anak sudah cukup besar untuk dikasih tanggung jawab siap-siap, dan berarti cukup besar juga untuk belajar sendiri di kelas," kata Ori saat ngobrol dengan HaiBunda.

Sesekali kasih kebebasan buat anak nentuin mau pakai baju yang mana ke sekolah (untuk sekolah yang nggak pakai seragam), atau nentuin mau bawa makanan apa.

2. Foto Guru dan Teman-teman

"Untuk anak yang bener-bener mau masuk sekolah baru, kita bisa bantu dia buat adjust ke lingkungan baru dengan ajak lihat-lihat sekolah dari beberapa hari sebelumnya," ungkap Ori.

Cara lainnya, siapin foto guru dan teman-teman sekelasnya dan sering-sering kasih lihat ke anak supaya ia lebih familiar.

3. Bawakan Benda Kesayangan

Benda kesayangan bisa jadi penenang buat anak, kayak boneka, mainan, atau selimut favoritnya, bisa juga anak dibawain foto keluarga yang dapat ia lihat-lihat kalau kangen.

"Pas udah waktunya masuk kelas, bilang ke anak, 'Coba kasih lihat foto-foto kita ke bu guru dan teman-teman'. Bisa jadi anak malah excited dan perhatiannya teralih dari perpisahan yang drama," tutur Ori.

Ori menambahkan kita sebagi orang tua tetap harus tenang. Karena gimana pun apa yang kita lakukan dan rasakan pasti ngaruh banget ke anak. Kalau kita tenang dan nggak terlalu besar-besarin hal saat berpisah, maka anak juga bisa lebih santai.

"Kerasa deh bedanya anak yang orang tuanya santai sama orang tuanya yang cemas atau malah jangan-jangan yang nggak siap melepas itu kitanya lho alias orang tuanya," papar Ori.

Ori meyakinkan kita untuk percaya aja sama anak, Bun. Mereka punya resiliansi kok buat ngatasin 'masalah' hidupnya. Jangan khawatir juga anak bakal trauma. Jadi pertama kali pisah, orang tua harus antisipasi adanya rengekan dan jejeritan. Kita harus ingat juga, Bun, perpisahan ini sementara, selama waktu sekolah saja.

"Itu normal banget kok. Jangan terus gara-gara anak nangis, jadi balik lagi atau nurutin anak kalau dia nggak mau sekolah besoknya. Kalau kayak gitu terus malah jadi makin lama proses adaptasinya," imbuh Ori.


Menurut Ori, dari pertama kali pisah sampai anak bisa benar-benar tenang ngadepin perpisahan, bisa makan waktu harian, mingguan, atau bulanan, tergantung temperamen anak dan proses yang dilakuin orang tua dan pihak sekolah untuk nyiapin anak. Satu hal yang pasti, fase ini bakal terlewati kok. Percaya sama anak dan percaya sama diri sendiri ya, Bun.

"Kalau semua cara di atas udah dicoba dan ternyata masih belum berhasil juga, ikutin kata temen saya yaitu 10S! Alias sabar sabar sabar sabar sabar sabar sabar sabar sabar dan sabar," tutup Ori.

Semangat ya Bunda! (vit/vit)
Share yuk, Bun!
Rekomendasi