aktivitas

Keren! Bocah dengan Autisme Ini Bikin Replika Kapal Titanic dari Lego

Amelia Sewaka 17 Apr 2018
Keren! Bocah dengan Autisme Ini Bikin Replika Kapal Titanic dari Lego/ Foto: CNN Keren! Bocah dengan Autisme Ini Bikin Replika Kapal Titanic dari Lego/ Foto: CNN
Reykjavik, Islandia - Replika Lego kapal Titanic terbesar telah dibangun dengan waktu lebih dari 700 jam dan dalam 11 bulan. Nah, yang lebih mengejutkan replika tersebut dibuat oleh anak laki-laki berusia 10 tahun yang memiliki autisme dari Reykjavik, Iceland, Bun. Keren!

Debut Lego dari bocah ini rencananya bakal ditampilkan di Titanic Museum Attraction di Pigeon Forge, Tennessee. Brynjar Karl Bigisson adalah nama bocah itu. Dia berumur 15 tahun dan bikin replika kapal Titanic dari 56 ribu balok Lego dengan panjang 7,9 meter dan tinggi 1,5 meter. Brynjar ingat sekali bermain dengan Lego selama berjam-jam ketika dia berusia 5 taun.

"Kadang-kadang saya membangun lego dari instruksi tapi kadang juga hanya pakai imajinasi saya," kata Brynjar seperti dilansir CNN.

Kala itu Brynjar sangat terobsesi dengan bentuk kereta api, namun imajinasi itu berubah ketika sang kakek Ludvik Ogmundsson membawanya memancing di atas kapal. Saat Brynjar umur 10 tahun dia tahu segalanya tentang kapal Titanic lho.

"Ketika saya bepergian dengan ibu saya ke Legoland di Denmark dan melihat untuk pertama kalinya semua model besar yang menakjubkan dari mulai rumah dan pesawat juga lokasi dan kapal yang terkenal," tutur Brynjar.

Ini adalah proyek keluarga karena Brynjar bikin Lego kapal Titanic bareng sang kakek, Ogmundsson yang merupakan seorang insinyur dan ibu Brynjar, Bjarney Ludviksdottir juga nggak kalah membantu lho. Pertama-tama Ogmundsson menurunkan cetak biru asli ukuran Titanic ke ukuran Lego dan membantu mencari tahu berapa banyak balok Lego yang diperlukan untuk membuat model kapal tersebut.

"Saya pikir, ini mengajarkan kita sebagai keluarga bahwa kita dapat melatih anak-anak kita untuk menjadi lebih kuat dan lebih baik dalam apa yang mereka lakukan. Itu adalah hal yang paling indah tentang proyek ini," kata Bjarney dikutip dari ABC8.



Bjarney mengatakan anaknya tersebut tidak banyak bicara namun proyek itu memberi putranya berlatih berkomunikasi dan sebenarnya itu membuatnya bahagia dan tidak kesepian. Untuk menangani tugas besar seperti itu, Brynjar harus belajar berkomunikasi untuk menentukan di mana dan bagaimana dia akan membangun kapal serta bagaimana dia akan membayar ribuan Lego yang dia butuhkan.

Sumbangan dari beberapa keluarga dan temanlah yang memungkinkan ia untuk membeli semua lego, Brynjar berkata bahwa ia mampu menerima keadaan autisnya ketika membangun replika Titanic ini.

"Ketika saya memulai proses pembangunan, saya memiliki seseorang yang membantu saya di sekolah dalam setiap langkah yang saya ambil. Dan hari ini, saya belajar tanpa dukungan. Nilai saya meningkat, dan teman sekelas saya menganggap saya sebagai rekan mereka. Saya punya kesempatan untuk bepergian dan menjelajah dan bertemu orang-orang hebat, "katanya Brynjar.

Bjarney mengatakan ketika dia mulai membesarkan putranya, dia merasa benar-benar buta seperti apa masa depannya akan terlihat karena kondisinya yang autis. Bjarney juga khawatir tentang hambatan yang banyak anak-anak dengan spektrum autisme alami . Namun tentunya sekarang ia bangga berbagi dengan orang tua anak-anak autis lain karena meski si kecil punya keterbatasan mereka masih bisa berprestasi.

Keren! Bocah dengan Autisme Ini Bikin Replika Kapal Titanic dari LegoKeren! Bocah dengan Autisme Ini Bikin Replika Kapal Titanic dari Lego/ Foto: CNN


"Ketika anak mendatangi kita dengan mimpi, misi, atau tujuan gila yang menarik. Mereka ingin menjangkau dan membutuhkan bantuan kita. Dengarkan baik-baik dan cobalah mencari cara untuk mendukung si anak mencapai tujuan itu. Mungkin itu bisa menjadi investasi terbaik yang pernah dibuat untuk anak kita," kata Bjarney.

Bjarney melanjutkan, bisa sangat sulit bagi anak-anak untuk meraih mimpi mereka baik mereka yang autis maupun bukan. Mereka mungkin akan menghadapi rintangan keuangan atau kurangnya dukungan tapi yang terpenting adalah semangat menggapai mimpinya.

"Mimpi membuat kita terus berjalan. Itu adalah sesuatu yang tidak bisa diambil oleh siapa pun dari kita. Ini sesuatu yang baik untuk dimiliki ketika kamu merasa sedikit terjebak atau sedih maka, kamu selalu bisa bermimpi," kata Bjarney.

Replika Lego dikirim dari Islandia dalam tiga potongan besar dan kemudian secara hati-hati direkonstruksi sebelum debutnya di Amerika yang akan berlabuh di Titanic Museum Attraction hingga Desember 2019.

Kakek Brynjar mengatakan dia yakin ada pelajaran yang bisa dipetik dari apa yang cucunya telah capai.

"Autisme tidak harus menakutkan. Banyak ilmuwan hebat dan pemimpin nasional memiliki autisme, yang penting adalah bahwa orang-orang tersebut mendapatkan pemahaman dan dukungan, karena semua orang dapat belajar dari orang-orang ini jika mereka mendengarkan apa yang mereka katakan," imbuh Ogmundsson.

Ketika Brynjar tumbuh dewasa, sang kakek sering membantunya dengan proyek-proyek yang membutuhkan pemikiran dan kerja keras yang di pikir akan baik untuk cucunya itu. Kemudian dia mendapat ide membangun kapal 6 meter dari balok Lego.

Memiliki anak berkebutuhan khusus atau anak autis memang menambah besar tanggung jawab orangtua, seperti memberikan perhatian yang khusus serta biaya yang juga ekstra. Orangtua tak perlu malu bila mempunyai anak autis.

Banyak orang tua yang merasa ketakutan anaknya akan terlahir autis. Bahkan banyak pula yang merasa malu dan akhirnya menelantarkan anaknya begitu saja atau bahkan ada yang dipasung.

"Autis itu bukan penyakit yang menular, tapi banyak orangtua yang malu kalau punya anak autis, hingga akhirnya dititipkan di panti, keluarga yang lain atau bahkan ada yang dipasung," jelas dr Suzy Yusnadewi, SpKJ (K), psikiater anak dari RSJ Grogol dikutip dari detikHealth.

Menurut dr Suzy, stigma 'malu punya anak autis' itu ada dari masyarakat sendiri. Sebetulnya stigma anak autis sangat berbeda dengan gangguan jiwa yang lain.

Orangtua tak perlu malu punya anak autis, justru anak autis itu juga butuh bersosialisasi dengan orang lain, perlu juga diajak bertemu dengan orang banyak. Mereka juga harus bergaul," jelas dr Suzy.

(rdn/vit)
Share yuk, Bun!
Rekomendasi