aktivitas

Siapa Sangka, Jurnalis Ini Dulunya Adalah Anak Hiperaktif

Melly Febrida 16 Agu 2018
Baz Macdonald, jurnalis yang dulunya anak hiperaktif (Foto: Baz Macdonald/ The Spin Off) Baz Macdonald, jurnalis yang dulunya anak hiperaktif (Foto: Baz Macdonald/ The Spin Off)
Wellington - Ketika melihat anak yang hiperaktif, dalam hati saya berujar orang tua si anak benar-benar luar biasa. Mereka harus stand by karena anak-anaknya sangat lincah melebihi anak-anak pada umumnya. Terbayang betapa lelahnya si orang tua. Walaupun, ketika dewasa kita nggak tahu si anak yang saat kecilnya ini hiperaktif justru jadi seseorang yang sukses.

Seperti jurnalis Baz Macdonald yang bercerita ketika kecil dia adalah anak yang hiperaktif. Baz menyadari energinya yang berlebih menimbulkan banyak ancaman, entah di rumah atau tempat yang ramai. Tapi orang tuanya berhasil menemukan cara untuk mengatur energinya ke hal yang berguna. Hasilnya, Baz kini menjadi seorang jurnalis dan kritikus di Wellington.

Ada satu insiden yang sampai sekarang begitu menempel di ingatan Baz, Bun. Jadi, Baz pernah menggigit anak lain. Bahkan, Baz ingat alasannya menggigit anak tersebut yakni si anak punya nama yang sama dengannya. Saking lincahnya, Baz Kecil bikin orang tuanya kewalahan. Tapi, orang tua Baz bisa menghadapinya dengan sabar meski ada rasa lelah, frustrasi, dan marah.

"Bukti kesabaran orang tua saya adalah saat saya menyerang gendang telinga ibu saya dengan jarum rajut. Suatu sore ketika dia sedang menonton Coronation Street, saya mengambil salah satu jarum rajutnya dan mulai melompat ke sofa di sampingnya. Saat saya memukul-mukul, saya sengaja menusuk jarum itu di telinganya. Maafkan saya ya, Bu. Untungnya, ibu saya sembuh dan dia masih bisa mendengar dengan baik," kata Baz seperti dikutip dari The Spin Off.

ilustrasi anak hiperaktifilustrasi anak hiperaktif/ Foto: thinkstock




Baz bilang dia dan kakaknya sangat berbeda. Kakak pertamanya anak yang bijaksana dan cerdas sedangkan Baz seperti terlahir dengan energi yang nggak pernah habis. Suatu kali Baz pernah muntah setelah lompat-lompat di sofa. Ketika di ruang publik, Baz kecil yang sangat lincah itu benar-benar nggak menanggapi kata-kata lembut orang tuanya yang memintanya tenang.

Kalau orang tuanya sudah jengkel, terkadang ibunya menggenggam lengan bagian belakang Buz sebagai isyarat nonverbal untuk menenangkan diri. Tapi, Baz bukannya diam malah berteriak dirinya dicubit sang bunda. Duh, ada-ada aja sih kelakukan Baz kecil.

Kini, di usia Baz yang sudah mendekati pertengahan 20 tahun, ketika melihat anak-anak yang hiperaktif alias tingkat energinya sama dengan dia ketika kecil, Baz merasa terdorong untuk berpesan kepada orang tua si anak bahwa buah hatinya akan baik-baik saja. Baz mencontohkan dirinya. Kesabaran orang tuanya dan langkah mereka yang mengarahkannya berhasil membuat Baz seperti saat ini.

ilustrasi anak hiperaktifilustrasi anak hiperaktif/ Foto: thinkstock


"Saya berterima kasih tanpa henti untuk langkah proaktif yang diambil orang tua saya dalam menghadapi saya. Langkah-langkah yang tidak hanya melampiaskan sebagian tenaga saya tetapi itu membekali saya dengan keterampilan dan keyakinan yang telah meningkatkan hidup saya sejak saat itu," tambah Baz.



Cara Baz Salurkan Energi yang Bikin Dirinya Hiperaktif

Supaya Baz bisa menyalurkan energinya, orang tuanya mengajari dia main rugby. Tapi rupanya Baz kecil lebih tertarik menarik cacing dari tanah ketimbang main rugby. Saat usia Baz 3 tahun, orang tuanya juga sempat mendaftarkannya ikut les balet.

"Menoleh ke belakang, saya sangat bangga dan bersyukur orang tua saya melihat ini sebagai pilihan bagi saya, dan mereka cukup tegas untuk mengabaikan pandangan yang pasti timbul dari beberapa anggota komunitas," ujar Baz.

Berlatih balet ampuh menyalurkan energinya. Namun di awal Baz sempat dianggap teror karena tingkahnya yang hiperaktif. Baz sering disuruh menatap diri sendiri di cermin alih-alih ambil posisi latihan. Kata Baz, ikut kelas balet membuatnya merasa terlibat dan fokus. Yang jelas, balet juga menguras tenaganya. Setelah lima tahun ikut balet, ia akhirnya menemukan tarian yang disukai yakni tarian tap yang memberi dia jalan bereksplorasi.

ilustrasi anak hiperaktifilustrasi anak hiperaktif/ Foto: thinkstock


"Saya belajar menari tap selama hampir sepuluh tahun dan melaluinya dengan mengembangkan keterampilan saya dalam bentuk lain seperti musik dan akting. Selama masa remaja, saya menghabiskan hampir setiap momen luang dengan beberapa cara termasuk ikut paduan suara, band, drama, atau musikal. Akhirnya, saya belajar teater di universitas," tutur Baz.

Kini, di usianya yang sudah dewasa Baz tak tahu apa sudah benar-benar berhenti menjadi anak yang hiperaktif. Tapi, buah manis dari kesabaran dan upaya orang tua, kakek-nenek, dan teman-teman juga keluarganyalah yang memungkinkan dirinya mengembangkan keterampilan.

"Pada ulang tahun saya yang ke-21, banyak anggota keluarga dan teman-teman mengakui mereka tidak yakin ketika saya masih kecil mereka akan menghadiri ultah ke-21 saya. Mereka sempat berpikir saya mungkin saat ini dipenjara karena terlalu aktif. Saya yakin jika orang tua saya tidak begitu proaktif menegur perilaku buruk saya dan memberi hadiah untuk kebaikan, saya bukan nggak mungkin ada di penjara saat ini," tutur Baz.

Seperti dikutip dari detikHealth, anak hiperaktif biasanya memang susah memusatkan perhatian, bereaksi cepat tanpa pikir panjang dan beraktivitas fisik yang berlebihan. Anak hiperaktif menunjuk pada ketidakmampuan untuk mengontrol perilaku, sehingga aktivitas melebihi rata-rata anak pada umumnya. Perilaku hiperaktif ini dapat merugikan diri sendiri maupun orang lain sebab kadangkala anak tidak bisa memperkirakan dampak akibat dari perilakunya. Tapi jangan khawatir Bun, anak hiperaktif juga bisa dikendalikan dan tak kalah pintar dari anak normal.

"Anak yang hiperaktif tidak selalu identik dengan bodoh atau kurang pintar. Anak tersebut hanya tidak bisa memusatkan perhatiannya dengan baik," kata Dr. M.G. Adiyanti, M.S., psikolog anak dari Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada.

ilustrasi anak hiperaktifilustrasi anak hiperaktif /Foto: thinkstock
(rdn/vit)
Share yuk, Bun!
Rekomendasi