cerita-bunda

Tepat di Hari Aku Melahirkan, Suamiku Tega Menikah Lagi

Radian Nyi Sukmasari Kamis, 03 Oct 2019 13:29 WIB
Tepat di Hari Aku Melahirkan, Suamiku Tega Menikah Lagi
Jakarta - Kisahku ini mungkin hanya satu dari sekian banyak cerita poligami di Indonesia. Namaku Neni, aku ibu dari dua orang anak. Suamiku, yang kini sudah jadi mantan suami usianya 16 tahun lebih muda dariku. Awal kisah cinta kami berawal dari suamiku yang kala itu bekerja sebagai operator di tempatku bekerja. Kebetulan, kala itu aku bekerja sebagai ahli gizi.

Perkenalan dimulai dan kami makin dekat. Hingga akhirnya, dia melamarku meski saat itu pernikahan kami agak ditentang oleh ibu mertuaku. Bahkan, saat pernikahan kami ibu mertua tak datang. Sampai akhirnya kami memiliki anak pertama berjenis kelamin laki-laki.

Rumah tanggaku kala itu masih baik-baik saja. Barulah saat si sulung berumur 2 tahun, suamiku lebih sering pulang ke rumah mertua. Sepulangnya dari rumah mertua, selalu saja ada masalah yang membuatku dan dia cekcok bahkan bertengkar hebat.


Pernah suatu ketika, HP suamiku kubanting karena saat itu dengan jelas aku melihat ada SMS dari perempuan lain. "Kalau kamu berani, bawa perempuan itu ke sini," kataku menantang suamiku. Dia tak bereaksi. Di tengah rumah tangga yang bermasalah, aku baru sadar sedang mengandung anak kedua.

Setelah ribut besar, suamiku enggak pernah lagi pulang ke rumah. Bahkan, aku berjuang seorang diri saat melahirkan anak keduaku yang alhamdulillah berjenis kelamin perempuan. Ya, Allah sudah memberi anugerah sepasang buah hati untukku.

Aku sudah merasa cintaku pada suami hambar. Terlebih, saat aku tahu di hari H aku melahirkan gadis kecilku, di hari itu pula suamiku melakukan akad nikah dengan istri keduanya secara siri. Ya Tuhan, suamiku sudah poligami.

Sebagai perempuan dan istri, hatiku terkoyak. Tak tahan dengan perlakuan tega suamiku dan aku ogah dimadu, kuajukan gugatan cerai ke pengadilan. Alhamdulillah prosesnya berjalan lancar dan kini aku resmi jadi mantan istrinya. Sementara itu, hak asuh kedua anak jatuh ke tanganku.

Sebagai ibu, aku tetap berusaha agar anak-anak dekat dengan ayahnya. Sebab, aku berprinsip yang ada masalah dengan ayahnya adalah aku, bukan mereka. Ada mantan suami, mantan istri, tapi tak ada mantan ayah atau mantan anak. Namun apa yang terjadi?

Anak lelakiku sudah kadung benci pada ayahnya. Tiap hari raya Idul Fitri kuajak ke rumah keluarga ayahnya, dia selalu menolak. Bisa jadi anakku punya pandangan tersendiri pada ayahnya. Sebab, setelah bercerai memang akulah yang jadi tulang punggung bagi kedua anakku.

Apapun kulakukan. Mulai dari ngojek sambi menerima langganan antar jemput sekolah, sampai jadi pengasuh, hingga saat ini. Aku juga menyambi berkualan buku-buku anak. Sedangkan, anak keduaku takut pada ayahnya karena dia jarang bertemu sang ayah.

Tepat di Hari Aku Melahirkan, Suamiku Tega Menikah LagiTepat di Hari Aku Melahirkan, Suamiku Tega Menikah Lagi/ Foto: iStock
Pernah suatu saat, dalam kondisi sudah bercerai, kami berempat pergi makan ke sebuah restoran fast food. Karena takut pada ayahnya, anak keduaku bersembunyi di kolong meja. Aku memesan makanan dan rupanya mantan suamiku malah asyik main HP.

Saat kembali ke meja, si kecil sudah enggak ada. Untung ada pengunjung resto yang bilang anakku lari ke restoran sebelah. Mendengar putrinya kabur, mantan suamiku biasa-biasa saja. Seakan enggak ada masalah yang perlu dikhawatirkan.

Setelah menemukan anak keduaku di restoran sebelah, aku mengajak anak keduaku ke restoran tempat kami hendak makan. Nafsu makanku sudah buyar seketika. Langsung kuajak pergi anak pertamaku dan tidak memedulikan mantan suami. Sampai saat ini, aku masih berkomunikasi dengannya hanya untuk urusan biaya sekolah anak-anak.

(Bunda Neni - Jakarta Timur) (rdn/rdn)
Share yuk, Bun!
Artikel Terkait

Rekomendasi