cerita-bunda

Ipar Drama Queen, Bagaikan Duri dalam Daging di Keluargaku

Radian Nyi Sukmasari Jumat, 11 Oct 2019 20:45 WIB
Ipar Drama Queen, Bagaikan Duri dalam Daging di Keluargaku Ilustrasi ipar dan mertua/ Foto: Dok. iStock
Jakarta - Aku adalah anak pertama dari dua bersaudara. Adikku laki-laki dan usianya lebih muda 5 tahun dariku. Kata orang, hati-hati bila adikku nanti menikah. Bisa-bisa, istrinya jadi duri dalam daging bagiku atau bahkan keluarga kamu. Eh, benar juga.

Sejak pertama adikku, sebut saja namanya Rio mengenalkan istrinya yang kala itu masih jadi pacarnya, sebut saja Rena, ibuku sebetulnya enggak setuju. Sebagai kakak pun aku enggak sreg dengan si Rena. Tapi apa daya, karena Rio sudah kepalang cinta dengan Rena, pernikahan mereka pun dilangsungkan.

Seperti wanita yang sedang pendekatan pada keluarga pacarnya, Rena bersikap baik pada keluargaku. Kebetulan, saat itu aku sudah menikah dan punya anak berumur 2 tahun. Saat jadi pengantin baru, Rena masih menunjukkan sikap baik. Lumayanlah jadi menantu perempuan, pikirku.


Tapi, setahun setelah menikah, barulah belangnya kelihatan. Oh iya, Rio dan Rena sebelumnya berpacaran selama 1 tahun. Di pernikahan kedua mereka, Rio dan Rena sudah dikaruniai anak. Di situlah muncul sikap yang tak pernah ku suka dari Rena.

Dia bermulut besar, senang mengadu domba aku dan adikku. Pada adikku, dia bilang aku membicarakannya di keluarga besarku. Padahal, ngobrol dengan keluarga besarku saja jarang. Akhirnya, aku lagi-lagi harus menjelaskan ke Rio sebelum terjadi salah paham.

Lalu, Rena adalah anak yang menurutku tak sopan pada orang tuaku. Pernah sekali waktu dia dan Rio membelikan ibuku jilbab. Ibuku senang sekali dan bilang jilbabnya bagus. Tapi apa jawaban Rena? "Sudah jelas baguslah, Bu. Harganya pun mahal."

Idih! Tak sudi aku mendengar kalimat itu. Masalah jilbab yang lebih mahal pun bisa aku belikan buat ibuku. Kalau enggak ikhlas memberi sesuatu ke ibu mertuanya, tak usahlah menurutku. Setelah Rena pergi, ibuku cuma bisa geleng-geleng kepala.

Dia enggak menyangka menantu perempuannya bisa berbicara seperti itu. Belum lagi kepada ayahku. Rena sering berbicara seenaknya, sama sekali tak menghargai ayahku. Dan yang paling parah, kalau dia sedang ribut dengan Rio, semua keluarga Rena terkena imbas. Rena jadi enggak menegur kami atau mengucapkan kata-kata yang tak mengenakkan hati ketika kami berkumpul bersama.

Ilustrasi konflik dengan iparIlustrasi konflik dengan ipar/ Foto: Dok. iStock
Kadang mereka mengacuhkan kami yang sedang main ke rumahnya. Atau, Rena sibuk sendiri main HP ketika dia dan Rio serta anaknya berkunjung ke rumah orang tuaku atau berkunjung ke rumahku. Setelah punya anak, Rena dan Rio memang tinggal terpisah dari keluarga kami. Sedangkan aku, sebagai anak perempuan diminta orang tua untuk menemani mereka yang hanya berdua di rumah.

Rena juga sering melebih-lebihkan fakta yang terjadi dalam rumah tangganya. Ketika berkelahi dengan Rio. Misalnya, Rio hanya membentaknya tapi dia mengaku pada keluarganya juga ke keluargaku bahwa dia dipukul atau mendapat kekerasan. Lalu dia suka membual.

Misalnya, ketika ingin mengajak orang tuaku makan bersama di sebuah restoran, dia menjadikan aku kambing hitam. Ya, dia bilang akulah yang sedang ingin makan di restoran itu. Masalah sepele sih, tapi aku merasa kesal saja dijadikan kambing hitam untuk hal-hal remeh temeh ini.

Rupanya, perilaku Rena yang kurang sopan, tak bisa menyaring ucapan, dan seenaknya bahkan mengabaikan tata krama tak disukai juga anggota keluargaku yang lain. Mulai dari om, tante, bude, serta sepupuku tak suka pada iparku ini.



Sampai sekarang Rena dan Rio masih menjalankan bahtera rumah tangganya. Tapi ya itu, hubungan keluargaku dengan Rena dibilang baik juga tidak. Tapi dibilang tidak baik pun tidak. Sebab, selama ini kami berhubungan ala kadarnya. Senyum ala kadarnya, bicara ala kadarnya.

Jika tak ada keperluan, aku tak akan menghubungi iparku. Meskipun, aku masih menjaga komunikasi dengan adikku. Jika diundang ke rumahnya, aku dan keluarga datang bila sempat. Jika tak sempat dan dia nyinyir, aku dan keluargaku masa bodo saja.

(Kisah Bunda Tata di Jakarta)

Bunda punya cerita terkait hubungan dengan ipar atau ibu mertua? Kirimkan kisah Bunda ke redaksi@haibunda.com dengan subjek email Cerita Bunda. Ada hadiah menarik buat cerita terpilih. 

Simak juga pijat lidah untuk bayi dengan tongue tie di video ini.

[Gambas:Video Haibunda]

(rdn/rdn)
Share yuk, Bun!
Artikel Terkait

Rekomendasi