cerita-bunda

Aku Tak Menyerah Lawan Kanker Payudara, Obatku Dukungan Suami & Anak

Annisa Karnesyia Senin, 28 Oct 2019 20:00 WIB
Aku Tak Menyerah Lawan Kanker Payudara, Obatku Dukungan Suami & Anak
Jakarta - Bunda, perkenalkan namaku Ning Kadaarwati, saat ini berusia 50 tahun. Aku adalah pejuang kanker payudara yang terdiagnosis tiga tahun lalu.

Ceritaku bermula pada hari Senin sore, 19 September 2016. Saat mandi setelah pulang kerja, tiba-tiba aku merasa ada benjolan saat sedang membasuh sabun ke daerah dada kiri. Tak ada gejala ataupun keluhan apapun.

Begitu ada benjolan aku syok dan langsung memberi tahu suami. Namun, karena suami sedang ke luar kota, aku hanya bisa menghubunginya via telepon. Itu pun aku menunggu kedua anakku Wuri yang berusia 15 dan Pras yang berusia 11 tahun tidur.


Aku menangis dan suami berusaha menenangkan. Ia memintaku mencari dokter dan rumah sakit yang bagus untuk berobat dan tak usah mengikuti anjuran siapa pun untuk berobat alternatif. Tanggal 4 November 2016 aku melakukan pemeriksaan MRI ditemani suami.

Anak-anak aku beri tahu saat suami pulang ke Jakarta. Mereka terkejut, namun kita coba tenangkan.

"Teknologi dan dokter sudah maju, banyak pengobatan medis yang terus berkembang, mudah-mudahan ibu ditangani dengan benar. Ibu minta doa, support, jangan nakal, dan belajar pintar. Itu juga obat untuk ibu," kataku.

Alhamdulillah di tengah pengobatan, anakku yang kedua sedang menghadapi Ujian Nasional tingkat SD. Ia lulus dengan nilai yang sangat memuaskan dan bisa diterima di SMP Negeri 41 Ragunan, salah satu SMP favorit di Jakarta.

Meski begitu, banyak kekhawatiran muncul saat akan menjalani pengobatan. Terutama soal efek samping obat, karena banyak yang sampai lumpuh dan badan gosong-gosong. Aku juga takut sakit ini bisa menurun ke anak perempuanku.

Ning KadaarwatiNing Kadaarwati/ Foto: Dokumentasi Pribadi

Pengobatan kanker payudaraku

Dua bulan setelah muncul benjolan, aku intensif berobat ke bagian onkologi, setelah sebelumnya hanya ke dokter internis dan umum. Aku sempat pindah rumah sakit dan berganti dokter karena dokter sebelumnya kurang nyaman untuk diajak diskusi.

Tanggal 22 Desember 2016 dilakukan operasi lumpektomi. Alhamdulillah dari hasil pemeriksaan awal belum ada penyebaran, jadi hanya diambil benjolannya saja. Tetapi, aku belum tahu apakah payudaraku diambil semua atau tidak. Aku sudah pasrah.

Barulah malamnya saat dokter visit, aku diberi tahu, "Ibu bersyukur masih dini sekali ketahuan, jadi bisa selamat payudaranya," kata dokter.

Dua minggu setelah operasi evaluasi untuk pengobatan, aku dinyatakan kanker payudara stadium 2A her2+. Pengobatan pun mulai dijalani, dari radioterapi hingga kemoterapi.

Tanggal 19 Januari 2017 dimulai radioterapi untuk 21 kali penyinaran. Tanggal 22 Feb 2017 selesai terapi radiasi dan dua minggu evaluasi terapi radiasi. Pertengahan Maret 2017 sampai 22 Juni 2017, aku menjalani kemoterapi, satu siklus untuk 6x plus herceptin. Kemoterapi berjalan lancar dengan efek minim karena dokter yang merawat aku selalu memonitor keluhan-keluhan yang muncul setelah kemo.

Pada 1 Juli 2017, evaluasi kemo sudah bagus dan lanjut terapi hormon, yaitu suntik zoladex selama dua tahun dan tamofen 2 tablet per hari. Tanggal 26 Agustus 2019 berakhir terapi hormon zoladex lanjut terapi hormon Letraz selama 5 tahun dan ini baru berjalan 1,5 bulan.

Dukungan keluarga selama aku berjuang melawan kanker payudara

Selama kemoterapi, suami, keluarga, anak-anak selalu mendukungku. Suami selalu mendampingi saat kemo walaupun dengan membawa pekerjaan. Selain keluarga, asisten rumah tangga di rumah, Mbak Yati, juga banyak membantu. Ia telah bekerja denganku selama 15 tahun.

Meski dukungan kerap kuterima tanpa henti, tetap saja aku tidak bisa menyembunyikan kesedihan. Misalnya, saat rambut mulai rontok dan disaksikan anak-anak dan membuat mereka menangis.

"Justru ini reaksi obat kemo ke ibu bagus sayang, obatnya efektif, kalau enggak rontok obatnya justru enggak cocok dan harus cari obat lain. Kalau masalah meninggal, semuanya rahasia Allah. Doakan ibu kuat menjalani pengobatannya," ujarku.

Dukungan, semangat, dan perhatian yang tidak terbatas ini membuat mereka semangat dan lebih banyak belajar. Mereka telah melihat perjuangan antara hidup dan mati ibunya melawan kanker.

Mereka sangat kagum dengan perjuanganku. Jalan sunyi selama pengobatan, tidak ada kata mengeluh dan manja. Belum lagi rumah sakit yang tenang, suster-suster yang sabar menemaniku, menunggu dokter sambil bercengkrama. Kemudian dokter yang selalu memberi solusi apapun yang aku keluhkan.

Alhamdulillah selama pengobatan diberi kemudahan, kelancaran dan banyak sekali dukungan yang membantu sampai sekarang. Aku diberikan the best people di sekelilingku.

(Cerita Bunda Ning di Jakarta)

Bunda yang ingin berbagi kisah dalam Cerita Bunda, bisa kirimkan langsung ke email redaksi kami di redaksi@haibunda.com. Cerita paling menarik akan mendapat voucher belanja dari kami. Ssst, Bunda yang tidak mau nama aslinya ditampilkan, sampaikan juga di email ya. Cerita yang sudah dikirim menjadi milik redaksi kami sepenuhnya.

Simak juga penjelasan ahli tentang deteksi dini kanker payudara dengan USG di video berikut:

[Gambas:Video Haibunda]

(ank/rdn)
Share yuk, Bun!
Artikel Terkait

Rekomendasi