cerita-bunda

Kanker Payudara Stadium 4 Bukan Penghalangku Membantu Sesama

Annisa Karnesyia Jumat, 08 Nov 2019 14:08 WIB
Kanker Payudara Stadium 4 Bukan Penghalangku Membantu Sesama Yesaya Fermindi Hohu/ Foto: Annisa Karnesyia
Jakarta - Bunda, perkenalkan namaku Yesaya Fermindi Hohu, saat ini usiaku 39 tahun, bekerja sebagai pedagang kacamata di pinggir jalan, daerah BSD Tangerang. Lima tahun lalu, tepatnya bulan April 2014, aku didiagnosis kanker payudara.

Cerita ini bermula saat aku mendapati benjolan di payudara kanan. Tak pikir panjang, aku langsung periksakan ini ke dokter di Puskesmas.

Aku ingat, saat itu dokter hanya bertanya apakah benjolan ini terasa sakit atau tidak. Aku jawab tidak sakit, karena memang kenyataannya benjolan itu sama sekali tidak sakit. Dokter pun meyakinkanku bahwa tidak ada yang salah, semua baik-baik saja.


Sebulan kemudian, benjolan bertambah besar, seperti ada bola keras di dalam payudaraku. Aku kembali lagi ke Puskesmas dan ditangani dokter yang sama, kali ini bersama dengan beberapa dokter KOAS.

Lagi-lagi yang ditanyakan sama. Apakah benjolannya sakit atau tidak. Karena tidak sakit, dokter kembali meyakinkan itu bukan kanker, katanya kalau kanker, benjolan akan terasa sakit.

Dua minggu berselang, saat bangun tidur, aku tidak bisa bergerak, badan sakit, dan payudara memerah. Berkaca dari pemeriksaan di Puskesmas, aku putuskan memeriksakannya ke rumah sakit, tepatnya ke dokter saraf.

Di sana keadaanku diperiksa semua, termasuk tulang, dilakukan pemeriksaan bone scan. Dokter bilang terlihat ada tulang mencengkeram di tulang belakang, namun itu bukan jenis kanker.

Dokter pun bertanya apakah di payudaraku ada benjolan? Aku jawab 'iya'. Ia pun kaget ketika melihat benjolan di payudaraku

Dokter langsung memintaku melakukan biopsi untuk diambil jaringan di payudara. Barulah ketahuan, ini adalah kanker payudara stadium 4 yang sudah menyebar di tulang, kelenjar getah bening, hepar, dan otakku.

Yesaya Fermindi HohuYesaya Fermindi Hohu/ Foto: Annisa Karnesyia

Pengobatan

Awal pertama, dokter tidak fokus ke payudaraku, tapi bagaimana aku bisa kembali berjalan dulu. Aku diradiasi untuk tulang sebanyak 10 kali. Selama 10 bulan aku juga ditangani di rehabilitasi medik untuk berlatih berjalan.

Kurang lebih tujuh bulan, mukjizat itu datang. Aku akhirnya bisa berjalan.

Seketika harapanku muncul. Walaupun orang bilang stadium 4 itu sulit, dokter bilang hidupku seperti gambling, aku tidak takut melawannya.

Sampai detik ini aku telah menjalani 9 operasi. Payudara dua kali operasi, tulang, kelenjar getah bening dua kali operasi, rahim termasuk indung telur diambil, usus sedikit dipotong, dan terakhir di ketiak.

Aku melawan dan berjuang. Tapi, aku juga tidak pernah bisa melupakan kata dokter.

"Kamu tidak bisa sembuh, tapi kamu bisa survive," kata dokter padaku.

Aku rencananya akan kembali menjalani pemeriksaan pet scan di bulan April 2020 nanti. Pemeriksaan ini untuk mengetahui apakah kanker itu masih berkembang dalam tubuhku atau tidak. Harga pemeriksaan ini sangat mahal, Rp12 juta dan tidak dicover asuransi pemerintah.

Memikirkannya biayanya saja mungkin pusing bagi beberapa orang. Namun, tidak bagiku.

"Tak masalah bagiku, karena aku sendiri pun masih produktif. Bekerja seperti ini produktif. Alhamdulillah, bahkan selama ini aku masih bisa membantu teman-teman, bisa membelikan mereka 23 kursi roda."

Dukungan keluarga

Pertama kali divonis kanker payudara, keluarga sempat kaget. Tapi, aku dan mereka tahu, ini semua takdir.

Waktu aku lumpuh itu titik terberat dalam hidupku. Untunglah, mereka selalu mendukungku.

Saat ini aku tinggal dengan adikku. Aku memiliki anak angkat yang tinggal bersama kakakku.

Yesaya saat melayani pelangganYesaya saat melayani pelanggan/ Foto: Annisa Karnesyia

Kunci selalu bahagia

Dari luar banyak orang bilang, aku selalu terlihat bahagia. Semuanya karena aku suka bergaul, dan berusaha berpikir positif.

Kalau dibilang selalu terlihat happy, sudahlah kita yang ada masalah, kita tinggalkan saja. Aku yakin ada jalannya. Daripada pusing, aku lebih baik mendengarkan musik, membaca buku, menulis, dan cari kegiatan lain yang bermanfaat.

Meski begitu, kadang kala aku pun merasa frustasi. Bukan karena sakitku, tapi karena tidak bisa menolong orang yang membutuhkan bantuanku.

"Saat ada teman yang ingin kemoterapi, tiba-tiba memilih untuk berobat alternatif, dan pergi. Aku frustasi dan menangis sendiri."

Harapanku

Mengidap kanker payudara membuatku lebih peka terhadap kesusahan orang. Mungkin dulu aku egois, kalau sekarang aku lebih bisa peka dan memberikan kekuatanku untuk membantu orang yang kesusahan.

Aku selalu merasa kematian itu di depan mata, tapi bukan berarti ku ratapi. Aku tahu setiap orang pada akhirnya akan mati.

Aku bersyukur masih diberikan kekuatan untuk produktif, berjualan kacamata, menolong teman yang membutuhkan, dan hidup mandiri.

Bila pun ada harapan, aku hanya ingin terus seperti ini. Doaku, "Ya Allah, kalau memang kesembuhan bukan milik aku, kasih aku yang terbaik. Tapi aku minta, meski aku stadium 4, tolong jangan membuatku merepotkan orang, tapi justru bisa membantu orang."

Rencana ke depan

Tidak muluk-muluk, ke depannya aku hanya ingin menjadi orang yang berguna untuk orang lain. Aku ingin memberi gambaran pada teman-teman, terutama pengidap kanker kalau penyakit ini bukanlah akhir dari segalanya. Kita bisa produktif, berkarya, dan melakukan segalanya yang kita inginkan tanpa harus memikirkan banyak hal tentang kanker.

Aku setuju, kanker ini tetap kita pikirkan, tapi kita juga harus memikirkan yang lain. Bagaimana kita bisa berguna dan bukannya terpuruk dan mundur.

(Kisah Bunda Yesa di Tangerang)

*Bunda yang ingin berbagi kisah dalam Cerita Bunda, bisa kirimkan langsung ke email redaksi kami di redaksi@haibunda.com. Cerita paling menarik akan mendapat voucher belanja dari kami. Ssst, Bunda yang tidak mau nama aslinya ditampilkan, sampaikan juga di email ya. Cerita yang sudah dikirim menjadi milik redaksi kami sepenuhnya. (ank/rdn)
Share yuk, Bun!
Artikel Terkait

Rekomendasi