cerita-bunda

Bikin Nangis, Reaksi Anak Lihat Aku Botak karena Kemoterapi

Sahabat HaiBunda Rabu, 06 Nov 2019 19:18 WIB
Bikin Nangis, Reaksi Anak Lihat Aku Botak karena Kemoterapi
Jakarta - Sekitar 3 tahun lalu, aku didiagnosis kanker payudara. Pengobatan mulai dari kemoterapi, mastektomi (pengangkatan semua payudara), dan radiasi pun aku alami. Efek terapi juga kualami, dari mual muntah sampai rambut rontok hingga aku botak.

Sampai sekarang, aku masih minum obat hormon karena kanker payudaraku, mudahnya jenis hormonal deh. Pertama-tama kali tahu kena kanker pastinya aku kaget. Namun, aku berusaha menenangkan diri.

Setelah itu, aku kasih tahu ke anak kalau aku sakit kanker. Tapi memang, aku coba pakai bahasa yang dia ngerti. Misal, aku kasih tahu kalau sakitku ini butuh waktu lama untuk sembuh, enggak kayak flu yang satu dua hari selesai.


Aku memang memberi tahu si kecil biar dia enggak dapat pemahaman salah. Soalnya, kebanyakan orang kan tahunya kalau divonis sakit kanker, endingnya meninggal. Nah, aku mau anakku dengar penjelasan dari mamanya kalau kanker enggak seseram itu.

Beberapa waktu setelah terdiagnosis, aku menjalani operasi mastektomi di payudara kiri. Saat itu, aku mengaku ada training di luar kota. Sengaja memang, karena supaya anak enggak ribet ke rumah sakit. Kurang lebih, 5 hari aku dirawat di RS.

Ilustrasi ibu kena kanker payudaraIlustrasi ibu kena kanker payudara/ Foto: iStock
Namanya anak, tahu ibunya pulang anakku melepas kangennya. Dia mau peluk aku, aku tahan. Pelan-pelan aku kasih tahu, aku liatin di dada diriku ada perban besar tebal gitu. Aku kasih tahu ke anakku sementara kita enggak bisa pelukan, deketan kayak dulu.

Termasuk waktu tidur karena takut ketendang atau gimana. Pelan-pelan aku juga menunjukkan bagian dada yang sudah diangkat setelah perban dan jahitan dilepas. Aku kan enggak bisa menutupi kondisi ini ya.

"Dokter sudah ambil penyakit mama yang nempel di payudara kiri mama. Mau enggak mau ya memang diangkat supaya mama sehat lagi," begitu kataku ketika memberi penjelasan padanya.

Setelah operasi, aku menjalani kemoterapi 6 kali. Lagi-lagi, aku menjelaskan ke anak bahwa karena pengobatan kemo akan bikin rambutku rontok sampai botak. Jujur, aku mengarang cerita tentang efek samping kemo. Intinya, supaya si kecil ngerti kalau rambut ibunya akan habis, rontok, tapi setelah tak ada lagi obat yang masuk ke tubuh ibunya, rambut ibu akan tumbuh lagi.

Aku mengemas itu dalam bentuk bedtime story. Bahkan cerita itu sampai aku ketik, supaya enggak lupa gimana alur ceritanya. Alhamdulillah anakku bisa menerima kondisi ibunya yang botak.

Ilustrasi ibu kena kanker payudaraIlustrasi ibu kena kanker payudara/ Foto: iStock
Jadi, suatu sore aku minta suami mengajak anakku jajanĀ es krim di warung yang agak jauh dengan rumah. Saat itu pula, aku memotong rambut sebisaku. Alhasil, rambutku jadi gundul. Suami dan anakku pulang, aku pakai pashmina, kujadikan turban.

Pas anakku sampai rumah, dia lihat aku botak. Jujur aku takut banget dia tiba-tiba nangis atau gimana gitu. Pas lihat aku pakai turban ala-ala itu, dia buka turbannya.

Dia tanya kenapa mama pakai turban begitu. Aku jawab supaya dia enggak takut.

"Lho, mama walapun ga enggak rambut tetap cantik. Mau gimana pun mama tetap cantik," kata anakku gang saat itu baru kelas 1 SD.

Aku terharu dan hampir menangis, tapi aku tahan. Perkataan anakku ampuh jadi penguatku. Bahkan, setiap habis kemo anakku selalu perhatian padanya. Pernah aku teler banget, anakku yang nyuruh aku makan dan nyuapi malah kadang sepiring berdua. Kemudian, saat efek kemonya bikin badanku linu, dia memijat sebisanya.

Setelah kemo aku sinar 25 kali. Enggak terlalu berefek pada anak sih. Walaupun dia kadang suka nanya kenapa bagian dada sampai leher kok hitam.

Gimana dengan suamiku? Sama seperti anakku, dia sosok suami yang enggak panikan, beda banget sama aku. Selama aku sakit, dia enggak pernah anggap aku sakit kanker. Dia selalu menganggap aku sehat. Aku ngerjain kerjaan rumah, dia enggak melarang.

Kalau aku enggak bisa menyelesaikan urusan rumah, dia juga mau membantu. Dari awal pengobatan sampai sekarang dia selalu menemaniku. Bahkan saat radiasi, dia selalu mengantarku dan menungguku.

Ilustrasi ibu kena kanker payudaraIlustrasi ibu kena kanker payudara/ Foto: iStock
Sampai saat ini, kadang suka ada pikiran bisakah aku mendampingi anakku sampai lulus SD? Tapi, dukungan suami dan anak juga kerabat benar-benar menguatkanku. Apalagi anakku, sampai sekarang tiap selesai salat aku memergokinya menangis. Aku tanya kenapa?

"Mama aku sudah salat. Aku sudah berdoa sama Allah supaya mama selalu sehat," katanya. Jujur aku mau nangis mendengarnya. Tapi, aku berprinsip enggak boleh nangis di depan anakku.

Memang, anakku belum paham apa itu kanker, efeknya apa. Tapi, dari raut mukanya aku tahu dia sedih mamanya kena sakit seperti ini. Doakan selalu mama, kakak, dan papa bisa bersama ya, Nak.

(Kisah Bunda Amara di Malang)

*Bunda yang ingin berbagi kisah dalam Cerita Bunda, bisa kirimkan langsung ke email redaksi kami di redaksi@haibunda.com. Cerita paling menarik akan mendapat voucher belanja dari kami. Ssst, Bunda yang tidak mau nama aslinya ditampilkan, sampaikan juga di email ya. Cerita yang sudah dikirim menjadi milik redaksi kami sepenuhnya.
(rdn/rdn)
Share yuk, Bun!
Artikel Terkait

Rekomendasi