cerita-bunda

Dijodohkan dengan Pria Kaya, Hidupku Justru Nelangsa

Sahabat HaiBunda Selasa, 03 Dec 2019 21:00 WIB
Dijodohkan dengan Pria Kaya, Hidupku Justru Nelangsa
Jakarta - Hai Bunda, perkenalkan namaku Nunung, aku adalah ibu dari 2 orang anak. Anak pertamaku laki-laki, saat ini duduk di bangku sekolah dasar kelas 5, sedangkan anak keduaku perempuan masih kecil dan baru berumur 3 tahun. Menjadi guru honorer di salah satu yayasan madrasah adalah profesiku. Awal pernikahanku dan suami terlihat baik-baik saja, karena saat itu aku belum begitu mengenal suami. Perkenalan kami melalui perjodohan dari ustad yang mengajari aku ngaji dulu ketika di pesantren.

Pemikiran ibu yang masih primitif mendorong aku untuk segera menikah padahal kala itu aku masih kuliah semester 4 di salah satu universitas swasta di Surakarta. Ustaz aku yang menjembatani perjodohan itu mendorong aku untuk segera menikah, dengan berbagai nasihat beliau yang intinya supaya terhindar dari fitnah.

Akhirnya karena berbagai pertimbangan dan ekonomi keluarga saat itu aku berpikir, mungkin dengan menikah beban ekonomi keluarga aku berkurang karena kuliah dan hidup aku ditanggung sepenuhnya oleh suami aku nantinya. Atas dasar itulah aku memberanikan diri dan mau untuk dikenalkan dengan laki-laki yang dijodohkan oleh ustad dan ibu aku. Laki-laki itu pun datang ke rumah didampingi oleh ustazku dengan menaiki mobil mewah. Ibu aku yang silau dengan harta pun semakin memojokkan aku untuk menerima laki-laki itu. Ustad aku pun memperkenalkan latar belakang laki-laki itu kepada aku dan keluarga.


Dijodohkan dengan Pria Kaya, Hidupku Justru NelangsaDijodohkan dengan Pria Kaya, Hidupku Justru Nelangsa/ Foto: iStock
Laki-laki yang berasal dari keluarga kaya raya, seorang pengusaha yang mandiri dan belum menikah karena selama hidupnya hanya sibuk dengan kariernya, kurang lebih itu yang di sampaikan oleh ustad aku. Beberapa hari setelah pertemuan itu, laki-laki tersebut menjadi sering main ke rumah aku membawa berbagai bingkisan makanan untuk keluarga aku.

Setiap malam dia selalu ngobrol dengan ibu aku untuk mengambil hati ibu aku. Saat itu aku pun pasrah, ayah aku yang bekerja di Kalimantan hanya bisa aku mintai pendapat via telepon, saat itu ayah aku sebenarnya ingin aku tetap fokus dengan kuliah dulu, tapi karena beliau orang yang demokratis akhirnya beliau mengembalikan pilihan kepada aku sendiri.

Satu bulan perkenalan dengan laki-laki itu, tiba-tiba suatu malam ia membawa orang tuanya untuk melamar. Aku yang terkejut dan masih sangat bimbang pun menelepon ayah. Beliau meminta berbicara dengan laki-laki tersebut, ayah mengkritisi keseriusannya pada aku mengingat aku masih kuliah saat itu.

Alhasil dia menyanggupi untuk membiayai aku lahir batin mulai dari kebutuhan aku sampai biaya kuliah aku hingga selesai. Ayah yang menyerahkan kembali keputusan akhir kepada aku membuat aku semakin dilema, karena berbagai pertimbangan dan rasa trauma aku di sakiti mantan-mantan aku pun akhirnya aku putuskan untuk menerima lamarannya dan menikah. Singkat cerita, setelah menikah kami langsung pindah ke rumah pribadi milik suami yang memang sudah disiapkan dia sejak masih lajang. Dua tahun awal pernikahan kami baik-baik saja, walaupun perhatiannya terhadap keluarga mulai berkurang karena dia sibuk dengan berbagai usaha keluarganya yang memang dipercayakan padanya sebagai anak tertua di keluarga.

Dijodohkan dengan Pria Kaya, Hidupku Justru NelangsaDijodohkan dengan Pria Kaya, Hidupku Justru Nelangsa/ Foto: iStock
Aku mencoba untuk memahaminya, lambat laun sifat dan karakter aslinya pun keluar. Dia mulai keberatan membiayai kuliah aku yang tinggal semester akhir. Bukan hanya itu, dia juga meminta aku untuk menjadi ibu rumah tangga saja di rumah, aku tidak diperkenankan menjadi guru. Orang tua aku pun mendorong aku untuk tetap menyelesaikan kuliah aku dan tetap menjadi guru sesuai cita-cita aku, ayah aku membantu membiayai kuliah aku, ibu aku membantu mengasuh anak aku yang saat itu masih bayi, kuliah aku molor yang harusnya bisa aku selesaikan 4 tahun, tapi aku selesaikan menjadi 6 tahun karena repot mulai dari cuti hamil, cuti melahirkan, cuti menyusui, ternyata mengurus suami dan anak sambil kuliah tidak semudah yang aku bayangkan.

Alhamdulillahnya ibu mau membantu. Sampai akhirnya aku wisuda, suami, mertua dan ibu hadiri mendampingi aku. Hanya 2 orang yang diperbolehkan masuk ke dalam gedung dan menjadi saksi kelulusan aku. Aku berharap suami dan ibu yang masuk untuk menyaksikan momen bersejarah yang aku tunggu-tunggu sejak dulu. Surat undangan wisuda yang hendak aku berikan kepada suami dan ibu aku pun direbut oleh bapak mertua. Karena aku tidak enak hati akhirnya aku berikan. Aku saat itu sangat bersedih karena ibu tidak bisa masuk ke dalam ruangan. Sampai aku temui ibu sedang telepon ayah yang ada di Kalimantan. Aku mendengar ibu menangis sedih tidak bisa menyaksikan anak perempuannya wisuda secara langsung.

Dijodohkan dengan Pria Kaya, Hidupku Justru NelangsaDijodohkan dengan Pria Kaya, Hidupku Justru Nelangsa/ Foto: iStock
Seketika aku meneteskan air mata merasa sangat berdosa kepada kedua orang tua. Sifat dan karakter keluarga suami yang perlahan mulai terlihat aslinya pun membuat aku kaget dan banyak mengeluarkan air mata. Yang bisa aku lakukan saat itu adalah menguatkan diri dan berusaha untuk sabar. Alhamdulillah aku sudah diterima sebagai guru honorer setidaknya itu mengobati stres aku di rumah. Aku bisa membeli kebutuhan anak-anak dan rumah tangga yang selama ini kubeli diam-diam karena jika suami tahu dia akan marah-marah. Bagi dia, kebutuhan pokok seperti beras lebih utama dibanding sandang dan perkakas rumah, ia lupa bahwa anak dan istrinya juga butuh kebutuhan lain yang tidak kalah penting.

Bahkan anak diminta hanya sampai sekolah dasar saja, sebagai seorang ibu tentu aku ingin anak-anak berpendidikan setinggi-tingginya mendapatkan haknya untuk meraih cita-citanya. Pemikiran sua,o yang masih sangat primitif membuatku harus lebih sabar, dan memberi pengertian walaupun pasti dia akan marah-marah. Kesabaranku semakin diuji, ketika usaha suami bangkrut sampai terlilit utang di bank. Kejadian itu membuat aku tau sifat asli suami aku, dia tidak mau bekerja, setiap kali aku bujuk untuk mencari pekerjaan dia marah-marah, dia gangsi kerja ikut orang, karena selama ini hidupnya menjadi bos dari usaha milik keluarganya.

Dia menjadi sering keluar malam sampai pagi mancing dan nongkrong bersama teman-temannya. Setiap pagi harus ada sarapan dan kopi, sedikit pun dia tidak mengerti kerepotan aku mengurus rumah, anak dan harus mengajar ke sekolah. Dia punya prinsip bahwa tugas istri adalah di rumah mengurus suami, anak, dan wajib patuh terhadap suami. Itu sangat membuat aku semakin tertekan secara batin, tapi anak-anak menjadi alasan yang membuat aku harus kuat dan sabar.

Dijodohkan dengan Pria Kaya, Hidupku Justru NelangsaDijodohkan dengan Pria Kaya, Hidupku Justru Nelangsa/ Foto: Dok. iStock
Suami aku yang hobi nongkrong, pun selalu bangun siang hari. Setiap kali aku mencoba untuk memberanikan diri membujuk suami untuk bekerja dan beraktivitas, dia justru semakin marah-marah dan mengeluarkan kata-kata yang menyakiti aku. Ketika anak pertama demam tinggi, suami aku tidak peduli, dia justru sibuk nongkrong sampai pagi bersama teman-temannya. Anak aku yang sudah tumbuh dewasa mulai mengerti, dan protes kepada ayahnya, sering kali si kecil menangis merasa ayahnya tidak sayang kepadanya. Aku sebagai ibu tentu berusaha untuk memberi pengertian kepada anakku untuk tetap menghormati ayahnya.

Dijodohkan dengan Pria Kaya, Hidupku Justru NelangsaDijodohkan dengan Pria Kaya, Hidupku Justru Nelangsa/ Foto: Istock
Sudah 13 tahun aku berjuang mempertahankan rumah tangga aku. Kekuatan aku adalah anak-anak aku, selain itu aku juga tidak ingin menjadi beban pikiran orang tua dan keluarga. Aku tutup rahasia rumah tangga aku rapat-rapat dari ke dua orang tua aku. Aku mencoba untuk kuat dan bersabar. Gaji aku sebagai guru honorer untuk menafkahi keluarga kecil aku, memenuhi kebutuhan anak-anak, dan membiayai setoran utang suami.

Gaji honorer yang kecil tentu tidak bisa menutup semua kebutuhan, beberapa kali aku harus utang kepada saudara-saudara, aku bayar menunggu uang sertifikasi guru cair. Harapan aku ke depan, walaupun seorang diri mendidik anak-anak, semoga kepedihan aku terbayar kelak dengan melihat mereka jadi orang sukses yang berguna untuk bangsa dan negara.

Kisahku yang tidak banyak orang tahu semoga bisa menjadi pembelajaran untuk para calon bunda supaya mengenal calon suami lebih detail sebelum memutuskan untuk menikah, lebih berhati-hati dengan sikap manis pasangan, positif thinking harus, tapi waspada juga penting sebelum nasi berubah menjadi bubur.

(Kisah Bunda Nunung di Surakarta)

*Bunda yang ingin berbagi kisah seputar rumah tangga dan parenting di Cerita Bunda, bisa kirimkan langsung ke email redaksi kami di redaksi@haibunda.com Cerita paling menarik akan mendapat voucher belanja dari kami. dengan subjek Cerita Bunda. Ssst, Bunda yang tidak mau nama aslinya ditampilkan, sampaikan juga di email ya. Cerita yang sudah dikirim menjadi milik redaksi kami sepenuhnya.

Simak liburan Raffi dan Nagita dengan klik banner berikut.
Dijodohkan dengan Pria Kaya, Hidupku Justru Nelangsa
(rdn/rdn)
Share yuk, Bun!
Artikel Terkait

Rekomendasi