sign up SIGN UP search


cerita-bunda

Bisnis Travelku Mati Suri, Kini Ku Jual Kentang Bisa Untung Rp12 Juta Sebulan

Sahabat HaiBunda Rabu, 20 May 2020 20:16 WIB
skin colored woman choosing vegetables  at traditional  market,healthy lifestyle caption
Jakarta -

Aku ibu beranak satu. Suamiku bekerja sebagai karyawan swasta. Selama hampir tiga tahun ini, aku menjalani bisnis tour and travel yang ku beri nama Diary Tour.

Kebanyakan klienku dari corporate alias perusahaan, atau badan pemerintahan. Biasanya, aku dan tim membawa mereka outing atau gathering perusahaan ke luar kota.

Dalam satu bulan, biasanya aku bisa melakoni sampai tujuh trip. Tapi sejak pandemi Corona, semua rencana perjalanan batal. Terakhir, aku bawa dua rombongan trip di minggu pertama dan kedua Maret lalu. Setelah itu, ya cuma di rumah aja.


Awal masa physical distancing, aku sibuk membatalkan semua booking-an trip yang sudah masuk. Pemesanan bus, restoran, hotel, tiket pesawat dan kereta api, sampai tiket masuk objek wisata.

Semua komponen terkait kepentingan tur itu punya kebijakan sendiri-sendiri. Bersyukur, klien paham kalau seperti tiket pesawat kena biaya pembatalan. Tapi kalau Perusahaan Otobus (PO) bus, uang muka yang sudah ku setor enggak bisa ditarik.

"Hitungannya jadi deposit, tapi kan enggak tahu kapan bakal nge-trip lagi," curhatku ke suami.

Kalau kondisi kayak gini, ya mau bagaimana lagi. Karena masih ada tanggungan dua karyawan, aku harus putar otak, berpikir keras supaya bisa tetap menghasilkan uang. Bisnis travel ini benar-benar mati suri.

"Segera banting setir," gitu saran suamiku.

KentangKentang/ Foto: Getty Images/iStockphoto/valeriopardi

Sebelum mulai bisnis tour and travel, aku sempat bekerja sebagai manajer hotel di Purwokerto. Setelah 10 tahun berkarier, akhir 2018 lalu aku mantap mengundurkan diri dan menekuni bisnis. Tentu ku pilih bisnis yang sesuai minat dan keahlian yang ku punya.

Tapi di masa pandemi Corona ini, bisnis travel harus terhenti. Akhirnya, setelah diskusi dengan suami, ku putuskan bisnis kentang. Ya, kentang! Kebetulan suamiku punya kenalan juragan kentang di Wonosobo. Jadilah kami jualan kentang Dieng.

Awalnya, konsumen kami ya tetangga satu komplek. Lama-lama berkembang sampai ke perumahan-perumahan sebelah. Alhamdulillah, dalam satu bulan, aku bisa menjual rata-rata 2 ton dan meraup untung sampai Rp12 juta. Bersyukur, masih diberikan rezeki.

Di sela jualan kentang, aku masih sempat membantu penyaluran donasi untuk para pelaku wisata. Mereka juga kena imbas macetnya bisnis tour and travel. Para kru bus mungkin yang paling merasakan dampaknya.

"Kondektur bus itu banyak yang susah cari uang buat makan," begitu informasi yang ku dapat dari teman.

Sedih rasanya. Inilah yang membuatku selalu bersyukur, masih diberi kelonggaran rezeki dengan berjualan kentang. Aku juga selalu berdoa semoga pandemi ini cepat berakhir, bisnis travel bisa jalan lagi, dan pastinya sambil jualan kentang.

(Cerita Bunda Dian di Purwokerto)

Bunda, simak juga yuk tips mengubah hobi jadi peluang bisnis, dalam video di bawah ini:

[Gambas:Video Haibunda]

(muf/muf)
Share yuk, Bun!

Rekomendasi