sign up SIGN UP search


cerita-bunda

Demi Bakti Pada Suami, Kutelan Nasib Jadi Menantu Rasa Pembantu

Sahabat HaiBunda Kamis, 09 Jul 2020 19:49 WIB
tired modern 40 years old housewife in green apron and pink rubber gloves with spray bottle of cleaning supplies, brush and yellow wipe wet cleaning floor in the modern house in sunny day. caption
Jakarta -

Tak pernah terbayang olehku, rasa cinta yang dulu berbunga-bunga pada suami akan membawaku pada kehidupan seperti ini. Hampir 15 tahun lalu, aku adalah anak rantau yang dikirim oleh orang tua untuk kuliah di Pulau Jawa.

Kehidupan kampus mempertemukan aku dengan suamiku. Kami saling mencintai dan memutuskan menikah selepas wisuda. Kala itu, rasanya dunia indah bagai milik berdua.

Tapi siapa yang tahu, kebahagiaan itu sirna sehari jelang akad nikah dilangsungkan. Ayah suamiku mengalami kecelakaan, sehingga pernikahan kami harus digelar dalam suasana sederhana.


Masalah tak selesai di sini, karena drama dalam hidupku justru baru terasa setelahnya. Sesuai kesepakatan dengan suami, aku ikut diboyong ke rumahnya. Seperti istri pada umumnya, aku pun ikut membantu beberapa pekerjaan domestik di rumah mertua.

Selain membantu memasak, mencuci baju, dan membersihkan rumah aku juga diberi kepercayaan untuk mengurus ayah mertuaku. Kecelakaan yang dialaminya beberapa waktu lalu membuat lukanya tak kunjung sembuh.

tired modern 40 years old housewife in green apron and pink rubber gloves with spray bottle of cleaning supplies, brush and yellow wipe wet cleaning floor in the modern house in sunny day.Ilustrasi kelelahan membersihkan rumah/ Foto: iStock

Sebagai anggota baru di keluarga mereka, aku pun memilih untuk selalu menuruti permintaan mereka. Rasa lelah sering kuabaikan karena rasa sungkan dan takut.

Tapi, aku mulai kepayahan ketika hamil anak pertama. Kelelahan mengurus rumah dan ayah mertua yang sakit, membuat kehamilanku sering terasa sakit. Apalagi, di daerah kami tinggal masih kuat sekali mitos mengenai wanita hamil.

Berbagai aturan harus aku ikuti agar janinku sehat. Termasuk larangan tak boleh tidur siang, dan harus aktif seharian agar kelak anakku tak jadi pemalas, katanya.

Hingga suatu ketika, aku minta dibelikan mesin cuci untuk sedikit meringankan pekerjaan rumah tangga. Suami beralasan aku belum membutuhkannya, dan hingga saat ini keinginanku itu tak juga kunjung dipenuhi.

Kelelahan yang tiap hari kurasakan, berdampak pada kehamilanku, Bunda. Astaghfirullahaladzim, air ketubanku pecah jauh dari hari perkiraan lahir (HPL). Hatiku rasanya hancur, menghadapi persalinan yang tiba-tiba, dan berat anakku pun dibilang kecil. Rasanya penat di dada menahan tangis.

Mitos demi mitos pun harus kuiyakan, agar hubunganku dengan keluarga suami tak bermasalah. Rasanya badan belum pulih pascamelahirkan, namun kembali para sesepuh mengatakan kalau ibu yang baru melahirkan tak boleh tidur siang.

Ya Allah, drama apa lagi yang harus kuhadapi sekarang ini. Tak bisa dipungkiri hal-hal kecil semacam itu membuatku stres dan kelelahan. Hal itu berimbas pada ASI-ku yang mampet dan tak mau keluar sama sekali.

Akhirnya aku merelakan jagoan kecilku diberi susu formula demi menunjang nutrisnya. Sebagai orang tua, aku rasanya tak berdaya melihat itu semua. Tapi, aku pun tak punya pilihan pada saat itu. Semua kulakukan demi anakku.

Kini, aku pun pasrah pada jalan hidup yang tengah kujalani. Demi baktiku pada suami, aku hanya bisa berdoa agar suatu saat ada keajaiban yang bisa mengubah segalanya.

Hari demi hari, kini kuhabiskan untuk mengurus anak dan suami. Serta mencoba menjadi menantu yang patuh terhadap kedua mertuaku. Aku memilih tutup mata dan telinga pada suara-suara sumbang di sekitarku.

Ayah mertuaku pun sakitnya semakin parah. Kini hanya bisa tergolek lemah di pembaringan. Untuk sekadar mengambil minum pun, butuh bantuan kami anak-anaknya.

Tak pernah terbersit di hati untuk lari dari kenyataan ini. Tapi kuyakin, suatu saat Allah pasti akan memberikan balasan yang lebih indah untuk keluarga kami. Amin, amin ya Rabbal alamin.

(Cerita Bunda Olive - Surabaya)

Mau berbagi cerita, Bunda? Share yuk ke kami dengan mengirimkan Cerita Bunda ke email redaksi@haibunda.com. Bunda yang ceritanya terpilih untuk ditayangkan, akan mendapat hadiah menarik dari kami.

Bunda juga bisa menyimak cerita Shezzy Idris yang merasa bersalah pada anak setelah memutuskan bercerai. klik video di bawah ini:

[Gambas:Video Haibunda]



(rap/rap)
Share yuk, Bun!

Rekomendasi