sign up SIGN UP search


cerita-bunda

Mertua Jijik & Nyinyir Lihat Aku Cacat, Sampai Minta Suami Ceraikanku

Sahabat HaiBunda Kamis, 02 Jul 2020 20:05 WIB
Ilustrasi mertua dan menantu caption
Jakarta -

Jari kakiku memang ngga lengkap. Ada yang terputus di sebelah kiri karena kecelakaan di masa kuliah dulu.

Tapi kurangnya jari kaki itu ngga mengurangi produktivitasku, kok. Aku masih bisa kuliah, lulus, jalan sana-sini, dan akhirnya menjadi PNS. Di wilayahku, jadi PNS itu susah lho, jadi cukup membanggakan.

Aku ketemu suami dalam perjalanan karir menjadi PNS. Ia bukan orang kaya, pekerjaannya juga termasuk serabutan karena mengerjakan apa saja asal dapat uang. Waktu pertama kali diajak ke rumah orang tuanya, dia sudah bilang kalau Mamanya belum tahu aku cacat. Aku sempat protes, aku 'kan cacat bukan karena bawaan lahir! Memang karena nasib buruk saja.



Tapi protesku ngga ngaruh karena saat ketemu si calon ibu mertua, aku diminta membuka alas kaki dan memperlihatkan jari-jari yang tidak lagi sempurna. Aku sempat kaget sama reaksi si camer yang membuang muka jijik. Aku malu. Rasanya aku ini makhluk rendah sekali di hadapannya.

Meski begitu, aku telan saja pertemuan itu dan melanjutkan hubungan dengan anaknya. Hingga kami menuju ke pelaminan.

Upset girl apart from her husband and senior mother quarrellingIlustrasi mertua/ Foto: iStock

Nyatanya sesudah menikah, si mertua ngga mengurangi rasa nyinyir-nya padaku. Tiap nyinyiran pasti nyerempet kondisi tubuhku yang ngga sempurna.

Ya ampun! Padahal ya kalau mau itung-itungan,  aku dibanding anaknya itu jauuuh lebih unggul aku. Aku lulusan kuliah, PNS, punya gaji bulanan (yang tiap bulan disisihkan suami untuk DIA), dan orang tuaku mau menampung kami di rumahnya.


Sedangkan dia? Ya ampun, maaf ya, tapi rumahnya pun setengah gubuk setengah bata putih. Dia mengharap punya menantu kaya-raya macam Syahrini?? Ngimpiii...!

Aku tuh cerita ini dengan kesal karena akhirnya nyinyiran dia termakan oleh suamiku. Setiap dia pulang dari rumah ibunya, kami pasti berantem. Adaaa saja ucapan aneh-aneh yang ditanamkan di kepalanya dan dikeluarkan dalam bentuk kata-kata kasar padaku. Tapi kalau suamiku ngga ke rumah ibunya, ya kami aman-aman saja. Masih mesra, bercanda ala suami-istri, bahkan sesekali kencan makan di luar.

Suami akhirnya yang ngga tahan sama aku. Dia mendaftarkan cerai ke Pengadilan Agama meski aku sudah nangis memohon. Apalagi kami sudah punya anak yang saat itu masih berusia balita.

Di hari putusan cerai, dia mengajak aku dan anak jalan keluar dengan mobil. Di akhir pertemuan, dia bilang,"Kalau memang masih bisa, kita pasti akan bersama lagi." Aku menangis sejadi-jadinya di rumah. Anak yang ikut denganku hanya termangu melihat ibunya seperti itu.

Sekarang aku sudah menikah lagi dan punya dua anak tambahan. Aku ngga tahu gimana nasib mantan suamiku. Ya sudah lah, sudah cerai.

(Cerita Bunda S, lokasi dirahasiakan)

Mau berbagi cerita, Bunda? Share yuk ke kami dengan mengirimkan Cerita Bunda ke email redaksi@haibunda.com. Bunda yang ceritanya terpilih untuk ditayangkan, akan mendapat hadiah menarik dari kami.

Simak juga cerita Bunda Kirana Larasati yang menjelaskan perceraian saat usia pernikahannya baru menginjak angka dua tahun, dalam video Intimate Interview berikut:

[Gambas:Video Haibunda]



(ziz/ziz)
Share yuk, Bun!

Rekomendasi