sign up SIGN UP search


cerita-bunda

Sesalku Keranjingan Drakor Tiap Hari, Tak Sadar Anak Alami Speech Delay

Sahabat HaiBunda Sabtu, 22 Aug 2020 21:35 WIB
Siblings eating a meal at a child sized table and watching cartoons caption
Jakarta -

Aku menyesal, karena keranjingan menonton drama Korea. Semoga ceritaku ini bisa menjadi pelajaran para Bunda di luar sana.

Sejak bangku kuliah aku sudah terbiasa nonton drama Korea. Begadang siang dan malam rela kulakukan hanya untuk streaming serial drama Korea kesukaanku.

Pacar yang sekarang menjadi suamiku, tak keberatan dengan kebiasaanku ini. Hingga kami menikah pun dia masih membebaskan aku untuk melihat para Oppa tampan di layar kaca.


Setelah menikah, aku dan suami memutuskan untuk tinggal di kontrakan. Kebetulan, suami bekerja di bilangan Karawaci, Tangerang sehingga kami menyewa rumah yang jauh dari rumah orang tua masing-masing.

Tinggal di lingkungan baru membuat suami jadi lebih memanjakanku. Apalagi semenjak menikah, dia tak lagi mengizinkanku bekerja. Kasihan katanya, kalau setiap pagi aku harus naik KRL untuk berangkat ke kantor.

Drama Korea RomantisCerita Bunda keranjingan nonton Drama Korea Romantis/ Foto: Instagram

Suami kemudian memasangkan wifi dan tv kabel, agar aku tidak bosan di rumah. Apalagi saat itu, aku belum kenal tetangga satu pun di sana.

Ditambah aku belum hamil hingga tahun kedua pernikahan, jadi aku leluasa untuk nonton drakor sepuasnya. Menginjak tahun ketiga pernikahan, aku hamil dan dikaruniai seorang anak laki-laki yang sehat dan ganteng.

Tentu kami sangat bersyukur dengan kehadiran si kecil. Di tahun awal kelahirannya aku sudah mulai mengurangi jadwal untuk running serial drama Korea terbaru. isa dibilang, sudah normal kehidupanku saat itu.

Tapi, saat anak berusia setahun lebih dan sudah mulai mandiri kebiasaan lamaku kambuh. Aku mulai keranjingan untuk nonton drama Korea. Bahkan jika ada fan meeting atau aktor idolaku datang ke Jakarta, aku sampai rela datang dan menitipkan anak ke suami. Dia pun tak keberatan karena merasa aku berhak bersenang-senang dan punya waku 'me time'.

Saat suami kerja, aku pun momong anak sambil melanjutkan menonton drama Korea. Hingga pukulan itu datang tepat saat perayaan ulang tahun kedua putraku.

Kami mengundang keluarga untuk perayaan kecil-kecilan di sebuah restoran. Seorang sepupu suami yang ikut datang memperhatikan anak kami. Hingga kemudian dia memutuskan untuk mengajak suami dan aku bicara bertiga.

Dia menanyakan sudah berapa kosakata yang bisa diucapkan anak kami? Sudah sejauh mana perkembangan sosialnya. Apakah memang anak kami terbiasa diam saja ketika berkumpul dengan anak-anak sebayanya.

Ditanya seperti itu, aku pun tak curiga. Kami menjelaskan kalau anak kami lincah tapi memang pendiam jika dibanding teman seusianya. Jika meminta sesuatu dia hanya menunjuk atau menangis.

Sepupu kami menjelaskan tanda-tanda speech delay dengan bahasa yang sederhana. Rasanya seperti tertampar ketika menyadari dari semua yang disebutkan olehnya ada di anak kami.

Ingatan demi ingatan aku kumpulkan, apa yang menjadi pemicu ia mengalami keterlambatan bicara. Rasanya semua kesalahan datang dari aku. Ya, aku ibunya yang menjadi penyebab ia mengalami speech delay.

Sepanjang kebiasaanku melihat drama Korea, aku memang lebih sering memberinya tab. Tujuannya agar ia diam dan tidak mengganggu keasyikanku nonton. Sebagai anak-anak, tentu dia sangat senang diberi kesempatan melihat YouTube sepanjang hari.

Ya Allah, ibu macam apa aku. Suamiku begitu bijaksana menghadapi hal ini. Ia tidak mau menyalahkan atau memarahi istrinya yang bebal ini. Dia hanya memintaku untuk berubah.

Demi perkembangan anakku, akhirnya kami semua sepakat untuk puasa nonton tv dan gadget. Suami pun menerapkan aturan 19-22, yaitu tidak memegang handphone pada saat pulang kerja. Dimulai pukul 19.00 hingga 22.00 atau saat anak kami sudah tidur.

Sepanjang hari aku menahan diri untuk tak lagi melihat tv. Semua kabel kami copot agar dia tak merengek melihat kartun kesukaannya. Baru aku menyadari, selama ini aku sangat jarang mengajaknya bicara.

Ditambah dengan kebiasaanku memberinya tontonan Berbahasa Inggris, ternyata hal itu membuatnya kebingungan menangkap informasi. Ternyata kebisingan dari suara-suara yang didengarnya dari tv ikut mempengaruhi kemampuannya memahami bahasa orang dewasa.

Setelah berembuk akhirnya kami memutuskan untuk mengikuti terapi wicara. Biayanya lumayan besar, Bunda, kalau ditotal setara dengan harga motor baru. Tapi, semua itu tak ada artinya dibanding dengan tumbuh kembang anak kami.

Sesalku mengikuti ego untuk selalu nonton drama Korea. Rasa bersalah sudah menjadi ibu gagal selalu membuatku menyesal. Kini, air mata ku pun tak berhenti berlinang memandangi anak yang sedang tertidur. Maafkan Bunda, sayang.

Bunda janji akan memperioritaskan engkau dalam hidup Bunda dan Ayah. Semoga kelak saat dewasa, kau tak membenci Bunda karena pernah salah dalam mengasuhmu.

Untuk suamiku, terimakasih atas kasih sayangmu yang tulus. Serta pengertianmu yang tak pernah ada habisnya. Terima maafku, dan janjiku untuk lebih baik menjadi ibu dan ibu bagi kalian berdua. Harta terindah dalam hidup Bunda.

(Cerita Bunda Tya - Karawaci, Tangerang)

Mau berbagi cerita, Bunda? Share yuk ke kami dengan mengirimkan Cerita Bunda ke email redaksi@haibunda.com. Bunda yang ceritanya terpilih untuk ditayangkan, akan mendapat hadiah menarik dari kami.

Belajar dari cerita di atas, Bunda bisa mengajarkan anak cepat bicara seperti dalam video berikut ini:

[Gambas:Video Haibunda]



(rap/rap)
Share yuk, Bun!

Rekomendasi