sign up SIGN UP search


cerita-bunda

Ujian Jualan Tanaman Hias, Cuan Besar Tapi Suamiku Tergoda Pelanggan Cantik

Sahabat HaiBunda Selasa, 18 Aug 2020 20:27 WIB
Young man taking good care of indoors plant. Indoors gardening concept. caption
Jakarta -

Semenjak Covid-19 masuk ke Indonesia, otomatis kehidupan keluargaku berubah total. Suami harus kehilangan pekerjaan karena PHK pada Maret lalu.

Ini tentu menjadi pukulan berat bagi keluarga kami. Dia satu-satunya tulang punggung keluarga yang menafkahiku dan ketiga anak-anak kami.

Terpaksa kami harus banting tulang dan putar otak agar dapur tetap bisa ngebul. Bahkan, rencana sekolah anakku yang harusnya masuk TK tahun ini, dengan sangat terpaksa harus ditunda.


Di tengah kemelut ini, suamiku akhirnya mengutarakan niat untuk berjualan tanaman hias. Ia melihat tren bunga dan berbagai tanaman hias sedang naik daun. Ia meminta izin untuk menggunakan uang pesangonnya sebagai modal.

Awalnya aku keberatan, Bunda. Sebab, suamiku meminta izin berjualan tanaman hias di Jakarta. Ia melihat peluang di sekitaran sebuah Taman Wisata di Jakarta Selatan, sangat tinggi untuk berjualan tanaman hias.

Rupanya, ia sudah banyak mencari informasi dari teman-temannya yang tinggal di Jakarta. Namun, setelah dijelaskan peluang bisnis dan keuntungannya aku pun melepaskannya. Toh, sekali seminggu dia berjanji untuk pulang ke Bogor.

Young man taking good care of indoors plant. Indoors gardening concept.Cerita Bunda tanaman hias/ Foto: iStock

Di sana, ia mengontrak rumah dan lapak di pinggir jalan untuk display tanaman hiasnya. Sesuai dugaan, dari awal kios tanaman hiasnya dibuka sudah diserbu pembeli.

Dengan mengambil langsung ke petani di Bogor, suamiku bisa menjual berbagai macam tanaman hias dengan dengan harga yang sedikit miring.

Setoran ke dompetku pun lancar, Bunda. Kehidupan kami pun kembali normal seperti sebelum pandemi. Tapi, semenjak bulan kemarin ada yang berbeda dari gelagatnya. Feeling seorang istri memang tak pernah berbohong.

Di sela-sela jualannya, suamiku biasanya selalu menyempatkan untuk video call dengan kami. Tapi, sudah beberapa minggu belakangan ia mulai jarang melakukannya. Alasannya, toko selalu ramai jadi tidak ada waktu untuk menelepon anak-anaknya.

Begitu pula dengan jadwal kepulangannya. Pernah hampir sebulan ia tak balik ke rumah. Asalannya toko selalu ramai di akhir pekan. Tapi, kalau pembeli membeludak kok kirimannya ke rumah malah macet.

Bahkan, minggu lalu ia pulang meminta izin untuk menjual cincin kawin. Ia beralasan kalau uang penjualan cincin digunakan untuk menambah dan memutar modal. Di awal-awal, aku percaya. Sampai akhirnya terkuak semua kebohongannya.

Serapat-rapatnya menyimpan bangkai, pasti akan tercium juga baunya. Begitu juga suamiku yang diam-diam bermain di belakangku. Secara tak sengaja, anak bungsu kami membuka tasnya. Si kecil kemudian memainkan kotak yang biasa ia gunakan untuk menyimpan rokok.

Saat dibuka-buka, ada kertas yang telah dikepal-kepal keluar dari kotak tersebut. Iseng, aku pun membuka kertas tersebut. Ternyata sebuah bill dari kafe ternama dengan nominal yang tak sedikit.

Saat kutanyakan kepada suamiku, dia menjawab kalau saat itu ditodong teman-temannya untuk traktir minum saja. Namun, saat dia berangkat lagi ke Jakarta, aku menyetrika baju-baju miliknya yang ditinggal di rumah. Saat kurogoh saku celananya, ada bukti pembayaran hotel. Keringat dingin dan bagaikan kesetrum rasanya. Rasa curiga tak bisa terhindarkan lagi.

Malam itu juga aku mencoba menghubunginya. Handphone miliknya mati. Semakin sesak dan mau meledak saja dada ini rasanya. Akhirnya, dengan meminta tolong tetangga, malam itu juga aku meluncur ke Jakarta.

Kubawa serta ketiga anak-anak kami. Berbekal ingatan dari ceritanya, kucoba cari kontrakan suami. Setelah beberapa kali salah jalan, akhirnya ketemu juga rumah yang disewa suamiku. Ternyata, ia tak ada di rumah. Aku memutuskan untuk menunggu dan ia tak kunjung pulang hingga siang menjelang.

Aku pun meminta tetanggaku, dan anak-anak untuk menunggu sebentar. Hingga akhirnya, suamiku turun dari sebuah mobil. Sepertinya ia menyewa taxi online. Ia kaget melihat kehadiranku dan anak-anak. Tak ada waktu untuk mengelak, apalagi menghapus call log di handphone miliknya.

Terbongkarlah semua kebohongannya. Dia bercerita, dua bulan terakhir ada seorang tante kesepian yang menjadi pelanggan toko tanaman hiasnya. Kulihat foto-foto di handphone suami, wajahnya cantik dan tubuhnya sangat terawat.

Ternyata, ia adalah istri dari seorang pengusaha kaya raya yang sering ditinggal di rumah sendirian. Belum ada anak dari pernikahan mereka, sehingga ia sering kesepian.

Hingga akhirnya menemukan kios tanaman hias milik suamiku, dan merasa sangat nyambung bicara dengannya. Hal tersebut membuat Si Tante semakin dekat dengan suamiku, hingga tak sadar mereka berjalan terlalu jauh.

Siang itu juga, aku memaksa suamiku untuk pulang. Urusan toko aku sudah tak peduli. Buat apa banyak uang kalau rumah tangga malah berantakan.

Selama di rumah, tak ku beri kesempatan suamiku untuk memegang handphone. Kupaksa ia untuk ganti nomor. Namun jujur, tak ada kebahagian lagi yang kurasakan saat ini.

Aku jijik disentuh oleh suamiku sendiri. Aku bingung harus bagaimana sekarang? Apakah harus bertahan dan memafkannya demi anak-anak, atau harus nekat untuk ambil keputusan berpisah.

Aku pun masih diam dan belum sanggup bicara dengannya. Hanya lewat tulisan ini, kucoba meluapkan semua rasa marah. Ya Tuhan, sakit rasanya.

(Cerita Bunda Putri - Bogor)

Mau berbagi cerita, Bunda? Share yuk ke kami dengan mengirimkan Cerita Bunda ke email redaksi@haibunda.com. Bunda yang ceritanya terpilih untuk ditayangkan, akan mendapat hadiah menarik dari kami.

Bunda, simak juga yuk tanaman hias termahal di dunia dalam video di bawah ini:

[Gambas:Video Haibunda]



(rap/rap)
Share yuk, Bun!

Rekomendasi