
cerita-bunda
Astaghfirullah Dikenal sebagai Ahli Ibadah, Om Tega Melecehkan Aku Sejak Kecil
HaiBunda
Senin, 14 Dec 2020 19:46 WIB

Pelecehan seksual bisa dialami oleh siapa saja, termasuk kisah yang dialami Bunda A yang diceritakan kepada tim redaksi HaiBunda belum lama ini melalui sambungan telepon.Â
Pelecehan yang dialami Bunda A sejak kecil membuatnya trauma meski kini sudah berumahtangga. Berikut penuturan Bunda A kepada Bubun:
Aku seorang ibu rumah tangga yang dikaruniai dua anak laki-laki dan kini tengah mengandung anak ke-3. Sebelum aku hidup bahagia dengan keluarga kecilku, aku memiliki pengalaman pahit yang membuatku trauma hingga sekarang. Yaitu dilecehkan oleh om ku sendiri.
Cerita ini bermula sejak aku umur 7 tahun, kedua orang tua ku bercerai. Ayah dan ibuku yang tidak memiliki pekerjaan, akhirnya menitipkan aku untuk tinggal di rumah dengan kakak kandung ibu, yaitu tanteku sendiri. Perceraian yang dialami kedua orang tuaku ini membuatku mengalami tekanan batin dan trauma di umur yang terbilang masih dini.
Kehilangan sosok ayah karena perceraian, aku pun menganggap suami tanteku atau Om, sebagai sosok ayah yang selama ini aku dambakan. Om pun juga tak pernah membeda-bedakan aku dengan anak-anaknya. Ia memberi kasih sayang yang sama. Mulai dari antar jemput saat sekolah dan memberiku uang jajan.
Saat memasuki SMP, tentu saja aku mengalami perubahan fisik yang terjadi saat masa pubertas. Seperti tumbuhnya payudara, dan lain sebagainya. Nah, berawal dari situ, om mulai menunjukkan gelagat aneh.
Dimulai ketika aku meminta uang jajan untuk pergi, Om selalu memberinya di belakang tanpa sepengetahuan tanteku. Ketika di depan Tante, sikapnya berubah drastis menjadi dingin dan tidak menawariku uang jajan.
Namun, setiap Tante pergi, dia selalu menawarkan uang jajan kepadaku. Tetapi bukan tanpa syarat, dia memintaku menciumnya. Sebagai anak kecil yang masih polos, aku tidak mencurigai apa-apa. Aku yang menganggapnya sebagai bentuk kasih sayang layaknya ayah dan anak, hingga aku akhirnya menurutinya untuk mencium pipinya.
Semakin dewasa tentu aku mengerti, sikap Om berbeda saat mengantarkan aku sekolah. Pada saat itu aku mengenakan rok pendek, karena jaman dulu belum diwajibkan memakai rok panjang. Di perjalanan, ia mengarahkan kaca spion motornya ke arah rokku. Dan dia terus saja melirik ke kaca spion yang dia arahkan ke rok ku. Aku yang menyadarinya pun merasa sangat risih, dan segera menutupinya dengan jaket.
Masuk ke SMK, aku pernah dekat dengan seorang lelaki dan diantar pulang ke rumah. Melihat hal itu, Om ku marah besar dan melarangku untuk dekat dengan lelaki itu. Awalnya kupikir itu adalah hal yang wajar, karena Om menganggapku sebagai anaknya yang mengkhawatirkan aku.
Hingga suatu ketika, saat aku meminta uang jajan untuk pergi keluar. Seperti biasa Om meminta dicium sebagai syaratnya. Namun, ketika aku mencium pipinya dia mencium ku hingga ke leher seperti orang yang nafsu. Aku tercengang dan kaget bukan main, sadar ini adalah bentuk pelecehan aku tak bisa berkutik dan berbuat apa-apa selain pergi dan tak bisa berkutik dan berbuat apa-apa selain pergi dan menangis. Dari sinilah muncul puncaknya.
Om tega melecehkan aku..... Baca kisah selanjutnya di halaman berikut!
Mau berbagi cerita, Bunda? Share yuk ke kami dengan mengirimkan Cerita Bunda ke email [email protected]. Bunda yang ceritanya terpilih untuk ditayangkan, akan mendapat hadiah menarik dari kami.
Bunda, ajarkan juga hal-hal berikut yuk agar anak terhindar dari pelecehan:
Om Tega Mengintipku hingga....
Om ku Tega Melecehkan Aku Sejak Kecil/Foto: iStock
Suatu ketika, aku mandi seperti biasanya. Tapi hari itu, Allah menunjukkan sesuatu yang membuat aku jantungan hingga merasa jijik.
Aku melihat lubang kecil di tengah pintu kamar mandi, khawatir akan diintip, aku menambalnya dengan sabun batang. Tetapi, keesokan harinya, lubang-lubang kecil di pintu kamar mandi kian bertambah. Semakin was-was dan takut, aku pun mandi hanya ketika ada tante ku di rumah.
Benar saja, kecemasanku terbukti. Aku menangkap basah Om sedang mengintip ku yang sedang buang air kecil melalui lubang-lubang kecil di pintu kamar mandi. Secara spontan aku langsung menyiram air dari gayung yang aku pegang ke arah pintu. Aku langsung menghentikan aktivitas mandi, dan langsung pergi keluar.
Dia yang sadar aku tahu, ikut panik dan buru-buru memperbesar volume suara komputernya. Mungkin maksudnya agar aku tidak menegornya, dan hal itu bisa menjadi alibinya kalau dia sedang bermain komputer. Namun memang benar adanya, korban pelecehan tidak berani berbicara bahkan menegurnya. Aku sangat terpukul dan hanya bisa menangis. Kemudian aku kabur ke kontrakan ibuku yang letaknya tak jauh dari rumah tante.
Melihatku menangis, ibu mulai bertanya kepadaku. Aku yang tidak bisa membendung kekecewaan dari seorang Om yang  selama ini aku anggap sebagai sosok ayah ini akhirnya menceritakan segalanya kepada ibuku. Ibuku yang mendengarnya berusaha menenangkanku dan membuatku berpikir positif.
Karena ibu berpikir kalau mengadu juga tidak ada gunanya, karena bagaimana pun, aku sudah menumpang dan dibiayai pendidikannya oleh om dan tanteku. Ibuku khawatir, jika mengadu hanya akan diusir, sementara pendidikanku tinggal satu tahun lagi. Ibu memintaku bertahan sebentar lagi.
Setelah beberapa waktu menenangkan pikiran di kontrakan ibuku, aku pulang kembali ke rumah tante. Aku melihat Om ku duduk di sofa dengan tangan yang menopang dagu sambil menatap tajam ke arahku. Aku yang dipenuhi perasaan takut, tak berani menatapnya, hingga akhirnya aku langsung lari ke kamarku.
Semenjak kejadian itu, aku mengalami trauma yang cukup hebat. Di rumah tante aku terus merasa was-was, khawatir om akan melakukan tindakan macam-macam kepada ku. Â Aku sadar selama ini om ada maunya, jadi aku berhenti meminta uang jajan dan memilih menjauh darinya.
Menyadari aku semakin menjauh, Om menghampiriku dan bertanya kepada ku. "kamu kenapa jauhin Om, kamu udah tidak sayang lagi, hubungan kita bagaimana?" katanya. Seketika aku seperti tersambar petir, aku kaget mendengarnya.
Aku mengelak bahwa yang dipikirkan Om selama ini salah, aku hanya menganggapnya sebagai Om dan tidak lebih. Dengan tegas aku berkata agar tidak berpikir aneh-aneh terhadapku. Dia langsung marah, aku hanya bisa menangis dan tidak bisa berkata apa-apa lagi. Â Sosok yang selama ini ku anggap sebagai ayah, ternyata menggapku lain, Â ia menaruh perasaan padaku.
Saat udah lulus SMK, tante manawarkan aku kuliah. Namun aku menolak, aku memilih langsung bekerja dengan alasan tidak mau merepotkan. Padahal aku hanya beralibi agar tidak lagi berlama-lama dengan Om.
Setelah keluar dari rumah tante, aku pindah rumah dengan ibu ku yang letaknya agak jauh. Perlahan aku mulai agak tenang. Kemudian, aku juga memiliki pacar yang sangat support dan kini menjadi suami ku yang sekarang.
Enam bulan setelahnya tepatnya pada tahun 2012, tante ku tutup usia. Di tahun 2012 pula aku menikah dengan pacarku yang dulu. Allah maha adil aku dipertemukan dengan suami yang selalu memberi support dan memperlakukan aku dengan baik. Suamiku selalu meyakinkan aku dan membantu aku sembuh dari masa lalu.
Meskipun memang, trauma itu kerap kali muncul dan menghantui ku. Terutama jika pergi ke kamar mandi umum, perasaan was-was dan selalu melihat kanan dan kiri pasti selalu ada. Bahkan aku juga sulit berada di tengah keramaian dan bertemu dengan banyak orang. Aku tidak berani pergi sendirian kecuali ditemani ibu ku atau suami ku.
Hingga  pada awal tahun 2019 Om jatuh dari kasur, bahkan sempat tidak sadarkan diri selama sebulan, ia mengalami pecah pembuluh darah dan stroke. Namun bukannya mendapat doa dari orang-orang sekitarnya, dia malah mendapat banyak gunjingan. Ternyata dia main juga dengan istri orang.
Di  tahun 2020 ini, om tutup usia dan dia belum sama sekali meminta maaf kepadaku. Bahkan anak-anaknya hingga saat ini tidak tahu. Dia bahkan tidak bisa mengucap kalimat dan berbicara. Om meninggal bahkan saat belum sempat bertaubat.
Padahal om dikenal punya image yang bagus, seorang haji dan rajin sholat. Di tengah keluarga ia dikenal juga sebagai sosok yang setia, tak pernah macam-macam, penyayang keluarga. Namun di akhir hayatnya ia belum sempat meminta maaf kepada orang yang dizaliminya.
Setelah itu, aku mengetahui alasan kenapa om berperilaku seperti itu. Ternyata pada saat tanteku berumur 45 tahun, rahim tante ku sudah diangkat. Sehingga kebutuhan seksual om menjadi tidak tersalurkan. Keinginan jajan keluar pun ia tahan karena om menjaga image-nya sebagai seorang Haji. Akhirnya pelampiasannya jatuh ke diriku.
Meski luka dan trauma ini masih membekas hingga sekarang, Â saat ini aku sudah memaafkannya. Karena seperti yang diajarkan agama, kita tidak boleh dendam terutama dengan orang yang sudah meninggal. Aku bersyukur dikelilingi dengan suami dan keluarga yang support aku, sehingga banyak membantuku berdamai dengan diri sendiri.
(Cerita Bunda A - Alamat dirahasiakan)
Â
Â
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT

Cerita Bunda
Saya Diperkosa Ayah Tiri di Umur 11 Tahun, Sampai Sekarang Nggak Berani Cerita ke Suami

Cerita Bunda
Ipar Lebay, Berawal dari Panci Masak Berujung 'Kompori' Suami Ceraikan Aku

Cerita Bunda
Suami 'Ketindihan' yang Tidak Kasat Mata Sejak Warung Kami Laku Keras

Cerita Bunda
Duh! Baunya Badan Suamiku, Aku Sampai Trauma Saat Diajak Bercinta

Cerita Bunda
Corona, Suamiku Nganggur Setahun di Malaysia Sampai Takut Temui Mertua

Cerita Bunda
Beratnya Hidup, Jadi Single Parent dan Dimaki-maki Ortu Setiap Hari
HIGHLIGHT
HAIBUNDA STORIES
REKOMENDASI PRODUK
INFOGRAFIS
KOMIK BUNDA
FOTO
Fase Bunda