sign up SIGN UP search


cerita-bunda

Astaghfirullah Dikenal sebagai Ahli Ibadah, Om Tega Melecehkan Aku Sejak Kecil

Hilda Irach Senin, 14 Dec 2020 19:46 WIB
Om Tega Mengintipku hingga....
Beautiful young woman wearing yellow sweater with sad expression covering face with hands while crying. Depression concept. caption

Suatu ketika, aku mandi seperti biasanya. Tapi hari itu, Allah menunjukkan sesuatu yang membuat aku jantungan hingga merasa jijik.

Aku melihat lubang kecil di tengah pintu kamar mandi, khawatir akan diintip,  aku menambalnya dengan sabun batang. Tetapi, keesokan harinya, lubang-lubang kecil di pintu kamar mandi kian bertambah. Semakin was-was dan takut, aku pun mandi  hanya ketika ada tante ku di rumah.

Benar saja, kecemasanku terbukti. Aku menangkap basah Om sedang mengintip ku yang sedang buang air kecil melalui lubang-lubang kecil di pintu kamar mandi. Secara spontan aku langsung menyiram air dari gayung yang aku pegang ke arah pintu. Aku langsung menghentikan aktivitas mandi, dan langsung pergi keluar.


Dia yang sadar aku tahu, ikut panik dan buru-buru memperbesar volume suara komputernya. Mungkin maksudnya agar aku tidak menegornya, dan hal itu bisa menjadi alibinya kalau dia sedang bermain komputer. Namun memang benar adanya, korban pelecehan tidak berani berbicara bahkan menegurnya. Aku sangat terpukul dan hanya bisa menangis. Kemudian aku kabur ke kontrakan ibuku yang letaknya tak jauh dari rumah tante.

Melihatku menangis, ibu mulai bertanya kepadaku. Aku yang tidak bisa membendung kekecewaan dari seorang Om yang  selama ini aku anggap sebagai sosok ayah ini akhirnya menceritakan segalanya kepada ibuku.  Ibuku yang mendengarnya berusaha menenangkanku dan membuatku berpikir positif.

Karena ibu berpikir kalau mengadu juga tidak ada gunanya, karena bagaimana pun, aku sudah menumpang dan dibiayai pendidikannya oleh om dan tanteku. Ibuku khawatir, jika mengadu hanya akan diusir, sementara pendidikanku tinggal satu tahun lagi. Ibu memintaku bertahan sebentar lagi.

Setelah beberapa waktu menenangkan pikiran di kontrakan ibuku,  aku pulang kembali ke rumah tante. Aku melihat Om ku duduk di sofa dengan tangan yang menopang dagu sambil menatap tajam ke arahku. Aku yang dipenuhi perasaan takut, tak berani menatapnya, hingga akhirnya aku langsung lari ke kamarku.

Semenjak kejadian itu, aku mengalami trauma yang cukup hebat. Di rumah tante aku terus merasa was-was, khawatir om akan melakukan tindakan macam-macam kepada ku.  Aku sadar selama ini om ada maunya, jadi aku berhenti meminta uang jajan dan memilih menjauh darinya.

Menyadari aku semakin menjauh, Om menghampiriku dan bertanya kepada ku. "kamu kenapa jauhin Om, kamu udah tidak sayang lagi, hubungan kita bagaimana?" katanya. Seketika aku seperti tersambar petir,  aku kaget mendengarnya.

Aku mengelak bahwa yang dipikirkan Om selama ini salah, aku hanya menganggapnya sebagai Om dan tidak lebih. Dengan tegas aku berkata agar tidak berpikir aneh-aneh terhadapku. Dia langsung marah, aku hanya bisa menangis dan tidak bisa berkata apa-apa lagi.  Sosok yang selama ini ku anggap sebagai ayah, ternyata menggapku lain,  ia menaruh perasaan padaku.

Saat udah lulus SMK, tante manawarkan aku kuliah. Namun aku menolak, aku memilih langsung bekerja dengan alasan tidak mau merepotkan. Padahal aku hanya beralibi agar tidak lagi berlama-lama dengan Om.

Setelah keluar dari rumah tante, aku pindah rumah dengan ibu ku yang letaknya agak jauh. Perlahan aku mulai agak tenang. Kemudian, aku juga memiliki pacar yang sangat support dan kini menjadi suami ku yang sekarang.

Enam bulan setelahnya tepatnya pada tahun 2012, tante ku tutup usia. Di tahun 2012 pula aku menikah dengan pacarku yang dulu. Allah maha adil aku dipertemukan dengan suami yang selalu memberi support dan memperlakukan aku dengan baik. Suamiku selalu meyakinkan aku dan membantu aku sembuh dari masa lalu.

Meskipun memang, trauma itu kerap kali muncul dan menghantui ku. Terutama jika pergi ke kamar mandi umum, perasaan was-was dan selalu melihat kanan dan kiri pasti selalu ada. Bahkan aku juga sulit berada di tengah keramaian dan bertemu dengan banyak orang. Aku tidak berani pergi sendirian kecuali ditemani ibu ku atau suami ku.

Hingga  pada awal tahun 2019 Om jatuh dari kasur, bahkan sempat tidak sadarkan diri selama sebulan, ia mengalami pecah pembuluh darah dan stroke. Namun bukannya mendapat doa dari  orang-orang sekitarnya, dia malah mendapat banyak gunjingan. Ternyata dia main juga dengan istri orang.

Di  tahun 2020 ini, om tutup usia dan dia belum sama sekali meminta maaf kepadaku. Bahkan anak-anaknya hingga saat ini tidak tahu. Dia bahkan tidak bisa mengucap kalimat dan berbicara. Om meninggal bahkan saat belum sempat bertaubat.

Padahal om dikenal punya image yang bagus, seorang haji dan rajin sholat. Di tengah keluarga ia dikenal juga sebagai sosok yang setia, tak pernah macam-macam, penyayang keluarga. Namun di akhir hayatnya ia belum sempat meminta maaf kepada orang yang dizaliminya.

Setelah itu, aku mengetahui alasan kenapa om berperilaku seperti itu. Ternyata pada saat tanteku berumur 45 tahun, rahim tante ku sudah diangkat. Sehingga kebutuhan seksual om menjadi tidak tersalurkan. Keinginan jajan keluar pun ia tahan karena om menjaga image-nya sebagai seorang Haji. Akhirnya pelampiasannya jatuh ke diriku.

Meski luka dan trauma ini masih membekas hingga sekarang,  saat ini aku sudah memaafkannya. Karena seperti yang diajarkan agama, kita tidak boleh dendam terutama dengan orang yang sudah meninggal. Aku bersyukur dikelilingi dengan suami dan keluarga yang support aku, sehingga banyak membantuku berdamai dengan diri sendiri.

(Cerita Bunda A - Alamat dirahasiakan)

 

 

(rap/rap)
HALAMAN :
ARTIKEL SELANJUTNYA
Share yuk, Bun!

Ayo sharing bersama HaiBunda Squad dan ikuti Live Chat langsung bersama pakar, Bun! Gabung sekarang di Aplikasi HaiBunda!
Rekomendasi
Bunda sedang hamil, program hamil, atau memiliki anak? Cerita ke Bubun di Aplikasi HaiBunda, yuk!