sign up SIGN UP search


cerita-bunda

Trauma Masa Kecil Membuat Saya Galak Pada Anak, Ayahanda Sampai Menyebutku 'Gila'

Sahabat HaiBunda   |   Haibunda Senin, 04 Jul 2022 16:40 WIB
Anxiety disorder menopause woman, stressful depressed, panic attack person with mental health illness, headache and migraine sitting with back against wall on the floor in domestic home Ilustrasi inner child/Foto: Getty Images/iStockphoto/Chinnapong
Jakarta -

HaiBunda, saya mau curhat terkait trauma masa kecil saya (innerchild) yang membuat saya trauma dan hampir mengancam nyawa anak-anak saya. Saya memiliki sepasang anak kembar. Meskipun saya tidak mengurus langsung mereka karena saya juga bekerja, pekerjaan yang menyita pikiran serta tenaga saya ketika di kantor membuat emosi dan mood saya tidak stabil ketika berada di rumah.

Saat itu, usia anak-anak saya masih kurang lebih setahun. Waktunya anak-anak mulai aktif karena mulai bisa berjalan. Namun, mereka belum terlalu mengerti ketika diajak berkomunikasi sehingga sering 'menggoda' emosi ketika di rumah.

Rasanya hari Sabtu dan Minggu adalah hari yang melelahkan karena saya harus mengurus mereka di rumah karena saat itu saya libur bekerja sehingga peran pengasuh digantikan oleh saya. Saya kira, dengan memiliki waktu setiap Sabtu dan Minggu akan membuat saya bisa dekat dengan anak-anak, nyata nya tidak begitu.


Banner Makanan Penyebab Janin Tak BerkembangBanner Makanan Penyebab Janin Tak Berkembang/ Foto: HaiBunda/ Novita Rizki

Saya terlalu lelah dengan rutinitas pekerjaan kantor sehingga ingin rasanya saat Sabtu dan Minggu istirahat dari semua rutinitas itu. Ketika saya ingin untuk santai dan beristirahat, kedua anak-anak saya malah rewel dan suka memancing emosi.

Memang yang mereka tahu adalah bermain, namun apa yang mereka mainkan membuat saya tidak nyaman. Karena melihat rumah yang berantakan, harus menyuapi mereka yang kadang dilepeh, dan lari ke sana kemari yang membuat makanan berceceran ke lantai.

Semua itu membuat saya capek dan kesal. Apalagi ketika mereka menangis, rasanya kepala mau meledak mendengar tangisan mereka! Bahkan saya sempat mendorong dan memukul anak saya ketika mereka berbuat kesalahan yang sebenarnya mereka belum tahu bahwa itu salah.

Saat itu memang berat. Mungkin juga saya depresi karena lelah dengan beban pekerjaan di kantor dan beban pekerjaan di rumah. Bahkan ayah saya sendiri berkata bahwa saya sudah "gila". Padahal hal yang dahulu Ibu saya lakukan adalah selalu memukul ketika saya berbuat salah, tindakan itu melekat dalam diri saya menjadi luka batin hingga saat itu.

Rasanya menyesal setelah memukul anak, namun ketika emosi dengan mudah juga mengulangi kesalahan itu lagi. Luka batin tidak akan bisa sembuh jika dari individu ya tidak mencoba untuk berdamai dan berubah.

Alhamdulillah saat ini saya sudah menyadari kesalahan. Saya meminta maaf kepada anak-anak dan Allah SWT tentunya. Berusaha untuk mengendalikan emosi dan tidak memukul. Jika emosi, saya memilih untuk pergi menenangkan hati dan pikiran saya, baru kemudian kembali kepada anak-anak.

Menyembukan luka masa lalu kuncinya ada pada diri sendiri. Jika ikhlas berdamai maka semua akan bisa dikondisikan. Selain itu dukungan orang terdekat juga sangatlah penting. Support suami dan keluarga menjadi penolong saya saat itu. Mereka menyadarkan saya kembali bahwa harus bisa berubah sebelum semua nya terlambat.

Hal yang menyadarkan saya adalah tentang kematian. Bagaimana takutnya saya ketika kematian itu akan terjadi. Seolah saya mendapatkan bayangan, apabila saya terus menyakiti, memukul anak-anak saya ketika saya emosi, apabila Allah SWT mengambil apa yang dititipkan karena saya tidak menjaga dengan baik titipan itu, lalu bagaimana ??

Bukankah titipan itu yang dulunya saya doakan setiap hari untuk meminta kehadiran seorang anak? Namun kenapa hanya karena anak-anak belum mengerti jika mereka salah, saya sampai hati menyakiti dan memukulnya?

Semoga Bunda-bunda yang mengalami hal serupa bisa kembali tersadar dan berubah menjadi jauh lebih baik lagi. Tidak ada ibu yang sempurna tapi selalu ada jalan untuk menjadi lebih baik lagi untuk anak-anak dan keluarga kita.

Terima kasih Bunda, semoga cerita ini bisa menginspirasi banyak Bunda-bunda yang berjuang berdamai dari luka batin saat mereka masih kecil.

(Bunda Fransisca, tidak memberi lokasi)

Mau berbagi cerita, Bun? Yuk cerita ke kami lewat [email protected] Cerita terbaik akan mendapat hadiah menarik dari HaiBunda.

Simak juga video berikut mengenai Cerita Bunda 3 komika yang salah satunya digosipin tetangga karena menjadi single parent.

(ziz/ziz)
Share yuk, Bun!
Ayo sharing bersama HaiBunda Squad dan ikuti Live Chat langsung bersama pakar, Bun! Gabung sekarang di Aplikasi HaiBunda!
Rekomendasi

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Bunda sedang hamil, program hamil, atau memiliki anak? Cerita ke Bubun di Aplikasi HaiBunda, yuk!